Jika hari bisa menjadi cerah kembali setelah badai, mengapa tidak dengan hati. Jika ombak terus berlalu tanpa menyerah, lalu mengapa jiwa memilih untuk kalah.

Jadilah seperti matahari selalu bersinar setelah badai, selalu menghangatkan setelah hujan, selalu menerangi setelah kegelapan.

Tapi mengapa tidak dengan hati ini? Akankah selalu keras tanpa tahu kapan dia akan lelah? Mengapa hidup ini enggan mengembalikkan warna setelah sekian lama menjadi pudar. Lalu apa aku yang salah dari semua ini? Apa aku penyebab semua ini?

Ingin aku bahagia, tapi tak ku temukan setitik cahaya apapun. Semua senyum yang tampak nyata tapi tidak dengan kenyataannya. Setiap harinya hanya menjalani kehidupan yang palsu. Aku ingin kembali seperti dulu. Tapi kenangan itu membuat rasa takut menjadi semakin besar. Bahkan untuk berbicara saja hanya bisa terbata-bata.

Pernah aku merasa bahwa aku adalah penikmat rahmat-Nya yang paling sempurna. Kehidupanku yang dulu sangat bahagia sirna seketika. Semua hilang tanpa sisa kecuali luka. Semua yang kuanggap segalanya bagiku tetapi justru merekalah yang melukai hatiku.

“Kita cerai,“ ucap ayah dengan keras hingga terdengar hingga ke balik pintu kamarku.

Tak lama kemudian suara keras bantingan pintu diikuti isak tangis ibuku. Ayah lalu meninggalkan kami dengan membawa semua barang miliknya.

“Kau mau kemana yah? Tolong pertimbangkan lagi, lihatlah Clara. Dia sangat membutuhkanmu. Lebih baik kita perbaiki semuanya“ ucap ibu mencoba menahan langkah ayah.

“Aku sudah terlalu muak dengan semua ini, kamu yang tidak pernah bisa mengerti aku. Dan sekarang aku sudah ada yang bisa mengertiin aku. Paham kamu?“ ucap ayah dengan nada tinggi sambil mendorong ibu hingga menyebabkan kepala ibu terkena sudut lemari.

Air mataku sudah tak terbendung lagi, ingin ku peluk ibu di sela langkah ayah. Namun aku hanya bisa menjadi penonton di balik kaca pintu kamarku. Hanya bisa memandang satu persatu kesedihan yang datang kepada ku. Kulirik air mata yang terus berjatuhan di pipi wanita terhebat ku itu, ku perhatikan raut wajahnya yang seperti tidak ada harapan apapun lagi. Ia melihat ke arah kamarku, sekilas ku tutup tirai pintu kamarku.

“Ayah jahat, ayah jahat, ayah jahat,“ ucapku teriak sambil membanting semua isi kamarku.

“Mengapa ini semua terjadi Tuhan? Kenapa harus aku yang mengalaminya? kenapa tuhan? Kenapa?“ teriakku memecah suasana malam itu.

Diiringi dengan tangisan ibu yang semakin menjadi-jadi. Dengan langkah lemah ia membuka kamarku dan memelukku dengan isak tangisnya dan dengan sisatenaganya. Tangis histeris ibu membuat semuanya menjadi beban bagiku. Satu yang ku tahu malam itu, ibu adalah segalanya bagiku. Dalam pelukannya itu, ia mencoba menenangkanku, terasa bulir mutiara berjalan dengan cepat di raut wajah nya.

“Mengapa ayah jahat bu?” ucapku pelan padanya.

“Ayah tidak jahat nak, ia hanya butuh waktu untuk menyendiri,” jawab ibu di sela isak tangisnya.

Jawaban yang begitu tegar penuh makna, karena ku tahu ibu adalah manusia yang paling kuat yang penah ada. Namun satu hal yang tidak pernah bisa ku percaya kala itu, semuanya hancur bahkan untuk tersenyum pun aku tidak tahu caranya.

Ku belai raut muka yang sangat ku sayangi itu, menghapus pelan derai tetes air matanya. Sedang aku sendiri tidak tahu caranya menghapus air mataku. Dan aku pun terjatuh di pangkuan sang malaikatku itu dengan tetes embun yang tiada henti bahkan tidak tahu cara menghentikannya, dengan nafas yang mulai terhenti namun harus bangkit untuk seseorang, ibunda.

Malam yang biasa ku nikmati sekarang berubah menjadi gelap tak bercahaya sedikit pun, semua yang tenang berubah menjadi kacau, semua karna ayah yang meninggalkan aku dan ibu.

Kulirik ke sana kemari, kenangan indah yang pernah kami ukir di setiap sela rumah. Semuanya terasa sangat menyakitkan bagiku. Dengan tatapan penuh emosi aku bangkit mengambil sebuah foto keluarga dan membantingnya. Semua hal yang berhubungan dengan ayah bahkan sudah ku hancurkan semua. Rasa benciku terhadapnya membuatku nekat melakukan itu. Meski ku tahu mereka berpisah ada alasannya, hanya saja aku tidak ingin mengetahui alasan apapun tentang itu.

“Tidak nak, jangan kau menyakiti perasaanmu seperti itu,” ibu memelukku menahan setiap amarahku.

Semuanya terhenti olehku, memutar badanku dan melihat semua kehancuran yang telah ku perbuat.

Di sudut ruangan itu, berdiri seorang perempuan tua yang merawatku sejak kecil. Langkah demi langkahnya mulai mendekatiku, sembari menyela air mata yang terus berjatuhan di raut wajahnya yang keriput itu. Terlihat sekali ia teramat peduli padaku. Dengan isak tangisnya ia terus mendekatiku tanpa menghiraukan pecahan beling yang telah melukai telapak kakinya. Dengan cepat aku berlari mendekati nya dan memeluknya.

“Jadilah seperti ibumu nak, tetap tegar meski ia rapuh, tetap bangkit meski teramat sakit,” suara pelan itu membelai rambutku.

“Mengapa ini terjadi Nek? Aku tidak ingin ini terjadi! aku benci semua ini! Aku benci ayah,” ucapku pelan padanya.

“Semuanya sudah terjadi, untuk apa kau berlarut dalam kesedihanmu?“ jawabnya.

“Apa bisa kau melihat bulan yang indah malam ini sedang kamu hanya bisa meneteskan air mata saja? Apa kamu bisa meyakinkan angin bahwa kebahagiaanmu hanya bersifat sementara sedang kamu sendiri tidak tahu apakah angin tersebut bahagia ketika ia berhembus? Dan apa kamu bisa memberi kabar pada sang embun pagi bahwa hidup mu masih mempunyai mimpi setelah semua ini? Ingat nak, matahari selalu menunggu kabarmu di pagi hari. Lalu mengapa hidupmu seolah akan berakhir malam ini?“ ucapan nenek menyentuh hatiku dengan sigap aku menatap ibu yang tanpa hentinya menjatuhkan mutiaranya.

Kudekati wanita itu perlahan, kulihat ia mulai bangkit dan mulai menaburkan senyumnya kepadaku. Dengan cepat aku berdiri didepannya dan membantunya berdiri.

“Boleh aku meminta sesuatu?“ ucapku di depannya.

“Aku tahu semua ini sudah terjadi, aku tahu tidak ada yang benar atau yang salah atas keadaan ini, aku juga tahu ini adalah takdir untuk kita semua,” ucapku terhenti di sela isak tangisku.

“Jujur saja aku belum bisa menerima semua nya. Jujur saja aku yang paling terluka diantara yang terluka, aku sangat benci keadaan ini,“ ibu menutup mulutku dengan telunjuknya mengisyarakan agar aku menghentikan ucapanku.

“Maafkan ibu nak,” disela tangisnya ia meminta maaf kepadaku.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan bu, tidak ada yang tidak bersalah dalam hal ini, semua sudah terjadi, bahkan ayah tidak ingin menatap wajahku apalagi untuk menjagaku, aku tidak bisa membuat ibu makin tersiksa akan hal ini, akan lebih baik jika kita melangkah bersama bu, aku ingin ibu selalu ada untukku selamanya,“ ucapku memohon kepada ibu.

“Ibu sayang aku kan? Ibu tidak akan meninggalkan aku seperti ayah kan?“ ucapku.

“Tapi aku juga minta sama ibu, tolong kita tinggalkan semua ini, rumah, kenangan dan kota ini” pintaku.

“Tetapi jika ibu tidak bisa, ibu bisa meninggalkanku, ibu bisa pergi seperti ayah, ibu juga bebas menyakiti perasaanku seperti ayah,“ ucapku menunduk.

Dengan tatapan yang penuh luka, ku lihat di tempatku berpijak semua pecahan beling masih berhamburan. Dengan lembut kedua tangannya membelai wajahku, terlintas senyum semangatnya untukku. Dengan sigap ia memelukku.

“Ibu tidak akan meninggalkanmu nak,“ dalam dekapnya aku merasa bagai mempunyai benteng pelindung yang lebih kuat dari baja, yaitu kasih sayang malaikatku itu.

Keadaan rumah hancur seketika mulai tenang, meski tragedi itu selalu terngiang di dalam ingatanku, entah sampai kapan harus ku ingat yang pasti aku harus bangkit, untuk ibu.

“Aku bahagia asalkan sama ibu” ucapku menenangkannya.

“Apa ibu akan meninggalkanku seperti ayah juga?” dengan lemah aku bertanya lagi padanya.

“Kebahagiaan ibu ada padamu, bagaimana mungkin ibu akan memulai sesuatu yang akan menyakiti hatimu, ibu sangat menyayangimu lebih dari segalanya, akankah ibu harus menghancurkan semuanya? Akankah ibu harus menjadi egois seperti ayahmu? Jika ibu harus seperti it, lalu kepada siapa lagi kamu berlindung? keinginan ibu hanya ada satu yaitu kita selalu bersama mengukir indah dunia sampai maut yang mengambil langkah selanjutnya,“ jawab ibu menenangkanku.

Meskipun sederhana tapi aku sangat bahagia mendengarkannya. Ada senyum yang terlukis di bibirku, dan ada kebahagiaan yang menyatu dalam jiwaku, kekecewaanku harus ku tepis secepatnya, karna ibu dan nenek selalu menguatkanku. Jadi tugasku adalah mengukir warna indah di hari-hari mereka.

Yoselia Endang Sari, Komunitas Menulis Bengkulu