Dedy Ermansyah

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Pasca ditahannya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma yang sekaligus Ketua DPD Partai NasDem berinisial HT di Mapolda Bengkulu, Selasa (28/8/2018), Ketua DPW Partai Nasional Demokrat (NasDem), Dedy Ermansyah, mengatakan, kedudukan HT sebagai Ketua DPD partai NasDem terancam diberhentikan lantaran diduga telah tersangkut dugaan tindak pidana korupsi (tipikor).

“Kalau dari partai NasDem itu sudah jelas bahwa apabila ada anggota kita yang tersangka, apalagi terkait kasus korupsi pihak partai mengambil sikap, mengundurkan diri atau diberhentikan. Itu jelas, jangankan di daerah di pusat pun demikian karena kita diamanahkan untuk menjaga nama baik partai,” ujar Dedy, Rabu (29/8/2018).

Dijelaskan Dedy, terkait penahanan salah satu kader partai NasDem tersebut pihaknya sementara ini akan menunggu pelaksana tugas untuk menggantikan posisi DPD yang ada di Kabupaten Seluma.

“Karena saat ini masih ada tahapan-tahapan pileg yang harus diselesaikan oleh partai politik kepada KPU tentu ini akan menjadi tanggung jawab pelaksana tugas. Karena bagaimanapun beliau ini ditahan jadi tidak bisa melaksanakan tugas-tugas partai, apalagi ini memasuki tahun politik,” kata Dedy.

Sementara, sambung Dedy, untuk pengganti DPD NasDem Seluma saat ini masih dalam penggodokan yang nantinya akan segera diumumkan siapa yang akan menggantikan.

“Rencananya ini akan ke Jakarta sekaligus melaporkan dan minta petunjuk dari DPP terkait kejadian ini. Jadi di NasDem itu kalau seandainya kader dikriminalisasi maka ada bantuan hukum, tapi kalau dia diduga kuat dia melakukan maka tidak ada bantuan hukum. Tersangka saja kalau di NasDem harus mengundurkan diri atau diberhentikan,” ungkap Dedy.

Sebelumnya dilansir, Ketua DPRD Seluma diamankan ke Polda Bengkulu diduga terkait kasus dugaan Korupsi pembangunan jalan di desa Nanti Agung Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma tahun 2013 lalu total anggaran sebesar Rp1,2 miliar.

Data diperoleh, berdasarkan audit investigasi, negara diperkirakan mengalami kerugian Rp444 juta dalam kasus ini. Kasus ini sempat bergulir ke Pengadilan Negeri dengan 7 tersangka dan didakwa oleh Majelis Hakim. HT sendiri dikabarkan sebagai pemegang proyek ini. [Ardiyanto]