Seperti barisan domino, saat tersenggol sedikit saja maka akan jatuh dan menimpa domino yang lainnya. Saat tiba di domino terakhir, barulah sadar bahwa aku adalah … orang yang pertama kali jatuh cinta … kepadamu.

Wajah datar dan dingin, tak ada ekspresi, jalan lurus tanpa belokan dan rintangan. Hidup yang begitu panjang namun tak ada kerikil. Itulah kehidupan Oh Sehun, siswa pendiam yang digandrungi semua gadis. Wajah sempurna, sifat yang cool dan kedataran ekspresi yang misterius. Tiga hal yang dapat mendeskripsikannya adalah; sempurna, sangat sempurna dan benar-benar sempurna.

Walaupun begitu dia tetap manusia, bukannya robot yang terprogram. Sehun juga bisa bersosialisasi dan itu hanya pada satu orang, pada seorang gadis manis dengan sifatnya yang bersahabat. Go Hye Ri, teman masa kecilnya dengan kisah klise masa lalu. Bertemu sebagai seorang tetangga sebelah rumah, bermain bersama, tertawa bersama dan terjatuh bersama pula. Namun itu hanyalah dulu, sebab sekarang Sehun tidak tertawa lagi –tawanya tidak selepas dulu lagi- tepat setelah ibu dan ayahnya bercerai disebabkan karena ayahnya yang berselingkuh. Sehun berubah menjadi anak yang pendiam, pemurung dan tak menunjukkan apapun emosi lagi. Sejak saat itu kehidupan baginya adalah datar tanpa rintangan. Dia hanya perlu melewati semuanya dalam diam untuk sampai pada akhir. Sehun sekarang berada pada domino awal untuk menjatuhkan domino lainnya hingga ia bisa menjadi yang terakhir pada kemudian hari.

“Sehun-ah, ayo ke kantin.”

Tidak ada yang berani mengajak Sehun ke kantin ataupun sekedar berbicara pada pria itu. Dia memang mempunyai banyak penggemar, tapi diantara mereka semua hanya diacuhkan saja oleh Sehun. Tidak ditanggapi, tidak direspond, benar-benar seperti sedang berbicara dengan sebuah patung.

Tapi pengecualian untuk Hye Ri yang kini menarik pelan lengan Sehun hingga pria itu langsung berdiri tegap dan mengikuti langkah si gadis.

“Sehun-ah, hari ini aku mendapatkan lagi satu buah furniture kupu-kupu di dalam loker, kali ini warnanya adalah campuran ungu dan merah muda, cantik sekali. Ah, kira-kira siapa ya yang memberinya?” Hye Rin terus saja berceloteh sepanjang langkah mereka yang terajut ke arah kantin sekolah yang sudah padat.

“Penggemar rahasia.”

Mungkin ini adalah kalimat pertama yang keluar sejak Sehun menginjakkan kaki di sekolah ini tadi pagi.

Hye Ri memberengut, “Kalau itu aku juga sudah tau. Yang aku tanyakan siapa orangnya,” jelasnya, nada suaranya sedikit merajuk yang membuat Sehun meliriknya malas.

“Mungkin si Byun Baekhyun dari kelas sebelah,” Sehun mengatakan itu ketika matanya hanya menatap lurus ke depan, menampakkan pantulan seorang pria sedikit pendek dengan senyuman lebar dari telinga ke telinga. Tiba-tiba saja membuat Hye Ri bergidik.

“Hye Riii.” Setidaknya suara Baekhyun sudah mencapai tujuh oktaf saat berteriak excited dengan kedua tangan terbuka lebar-lebar, dibalas ringisan ngeri yang keluar dari bibir tipis Hye Ri.

“Sehun, kau ingin membantuku kan?” Hye Ri menahan lengan Sehun hingga langkah mereka berdua terhenti. Menatap Sehun dengan kerjapan imut dikedua mata untuk membuat pria itu luluh sedikit. Namun saat Hye Ri sudah berharap setinggi langit, Sehun malah mengendikkan bahu acuh.

“Aku lapar, aku mau ke kantin,” jawabnya tanpa nada, berlalu begitu saja meninggalkan Hye Ri yang semakin meringis melihat Baekhyun yang sudah semakin dekat ke arahnya.

“Aduh, kali ini aku harus menghindar lagi,” umpat Hye Ri sebelum ia berlari menjauhi Baekhyun. Byun Baekhyun, si pria hyper yang mengejar cintanya sejak SHS tingkat pertama.

***

“Sehun-ah ayo ke kantin…”

“Sehun-ah, ayo pulang bersama…”

“Sehun-ah, hari ini aku mendapatkan lagi furniture kupu-kupu dengan warna yang berbeda.”

“Sehun-ah, hari ini Byun Baekhyun semakin menggila mengejarku.”

“Sehun-ah, apa menurutmu Song Jong Ki sangat tampan di film barunya?”

“Sehun-ah, aku tidak mengerti soal nomor 10…”

“Sehun-ah, menurutmu aku lebih cocok memakai baju warna peach atau hitam?”

“Sehun-ah, kenapa orang itu mengirimku furniture kupu-kupu terus ya? Aku bahkan sudah mendapatkannya sebanyak 30. Ini sudah satu bulan orang itu mengirimkanku furniture kupu-kupu.”

***

Itu adalah serentetan perkataan yang Hye Ri ucapkan pada Sehun beberapa hari terakhir ini, hanya dijawab singkat dan padat dari si pria datar.

“Baiklah…”

“Okey…”

“Benarkah? Bagus sekali.”

“Tendang saja si Byun itu sampai samudra Antartika…”

“Lebih tampan aku.”

“Makanya belajar di rumah lebih giat lagi.”

“Mungkin peach.”

“Hmm, sepertinya Byun Baekhyun benar-benar mencintaimu. 30 Bukanlah jumlah yang sedikit.”

Hye Ri benar-benar harus bersabar mendengar semua jawaban tanpa minat dan ala kadarnya itu.

‘Ishh benar-benar menyebalkan mendengar jawabanmu yang setiap harinya hampir selalu sama. Tak ada peningkatan. Datar sekali’ Hye Ri menggerutu di dalam hati, menghentakkan kaki kesal ke lantai, lalu berbalik menuju kelasnya dengan sedikit berlari. Hye Ri sudah bersabar selama ini, dia selalu berceloteh pada Sehun agar pria itu bisa kembali seperti dulu, Sehun yang selalu bersikap hangat padanya. Sehun yang kembali menjadi orang yang Hye Ri kenal.
Lagipula Hye Ri sudah mencintai Sehun sejak lama dan melihat sifat Sehun, Hye Ri sadar bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Sehun memandang punggung Hye Ri yang semakin menjauh, mengendikkan bahu singkat sebelum kembali merajut langkah.

***

Bel pulang sudah berbunyi, Hye Ri segera berjalan ke arah lokernya seperti biasa untuk mengambil barang-barang yang akan ia bawa pulang. Namun ketika Hye Ri membuka pintu lokernya, sebuah surat terjatuh dari dalam sana, lalu ada satu buah toples dengan kupu-kupu cantik di dalamnya, kali ini benar-benar satu buah kupu-kupu asli. Sayapnya bewarna hijau muda dan biru muda yang tergabung menjadi satu. Cantik sekali, berterbangan dengan lincah di dalam toples kaca itu. Perlahan membuat mood Hye Ri kembali membaik, dengan senyuman tipis ia mengeluarkan toples itu dan memperhatikan kupu-kupu di dalamnya.

“Ah suratnya,” tiba-tiba Hye Ri sadar tentang surat itu, ia segera merunduk untuk mengambil sepucuk surat yang terlapisi amplop merah muda. Secepat kilat Hye Ri membukanya.

‘Dear my butterfly’

Hai Hye Ri. Aku lihat harimu sangat berantakan hari ini. Kau terlihat kesal oleh sesuatu. Apa yang terjadi? Ah, iya, ini pertama kali aku mengirimkan surat padamu kan? setelah satu bulan penuh aku mengirimkan furniture kupu-kupu di dalam lokermu. Apa kau senang mendapatkan furniture kupu-kupu itu? Aku selalu membelinya di toko souvenir dengan waktu satu jam dari sini. Tempat yang lumayan jauh jika dinaiki dengan bus. Tapi hari ini aku memberimu satu kupu-kupu asli, itu adalah sebuah pertanda jika hari ini aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya.

Oh ya, alasanku selalu memberimu furniture kupu-kupu adalah karena kupu-kupu itu selalu terbang bebas dengan kepakkan sayap yang lincah dan warna yang menakjubkan. Seperti dirimu, kau yang selalu terbang tinggi, lalu turun untuk hinggap padaku, kepakkan sayapmu setiap hari dan warna ceria dalam hidupmu. Kau membuatku merasa menjadi seseorang yang diinginkan dan dianggap ada dalam hidup.

Hye Ri, maaf jika selama ini aku membuatmu kesal dengan sikapku.
Maaf, jika aku selalu membuatmu kecewa.

Aku sadar jika aku hanyalah pria datar yang menyedihkan dan tidak berhak mendapatkan cinta dari kupu-kupu cantik sepertimu. Kau harusnya hinggap di atas bunga yang mempunyai madu. Bukan padaku yang hampa dan kosong.

Hye Ri, jika kau juga mencintaiku, tolong berbaliklah sekarang.

‘Your Secret Admirer
Oh Sehun.’

Hye Ri terbelalak lebar dengan pegangannya pada kertas itu yang mulai gemetar, lalu ia perlahan berbalik untuk mendapati Oh Sehun yang menatapnya datar dan kedua tangan yang berada di saku celana. Bersikap santai sekali, padahal Hye Ri yakin jika jantungnya akan jatuh ke dasar perut sebentar lagi. Sumpah, dilihat dari manapun Hye Ri masih belum percaya bahwa si datar Sehun lah yang mengirimkan furniture kupu-kupu, kemudian mengirim surat dengan toples berisi kupu-kupu asli. Apa ini mimpi?

“S-Sehun.. Aku kira..aku hanya mencintaimu secara sepihak,” ungkap Hye Ri dengan suaranya yang gemetar, embun tipis bahkan sudah melapisi retina matanya.

Sehun menunduk sedikit untuk menyamakan wajahnya dengan Hye Ri. Kali ini sebuah senyuman hangat terulas di bibir tipisnya yang selalu membentuk garis lurus itu. Tapi untuk saat ini Sehun menunjukkan senyum hangatnya yang tak pernah ia tampakkan lagi. Membuat Hye Ri semakin mematung, memorinya kembali teringat kejadian saat mereka kecil dulu. Senyum Sehun, senyuman yang Hye Ri rindukan. Kemudian Sehun berbisik lembut sekali.

“Seperti barisan domino, saat tersenggol sedikit saja maka akan jatuh dan menimpa domino yang lainnya. Saat tiba di domino terakhir, barulah sadar bahwa aku adalah..orang yang pertama kali jatuh cinta… kepadamu.”

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu