Putera Sang Fajar, Proklamator, Pemimpin Besar Revolusi dan Presiden Seumur Hidup adalah sederet gelar yang pernah melekat dibahu Sukarno.

Gelar-gelar itu adalah penghormatan kepadanya. Atas apa yang telah diberikan kepada bangsa dan negara ini. Perjuangan tanpa henti. Mengorbankan segalanya, demi Indonesia. Sehingga tepatlah, Pramoedya Ananta Toer, novelis agung itu, mengatakan bahwa yang paling memahami Indonesia adalah Sukarno itu sendiri.

Lahir di Blitar, 6 Juni 1901, Sukarno, nama kecilnya Kusno, tumbuh dari keluarga yang sangat kental dengan budaya jawanya. Dalam tradisi Teosofi yang dianut oleh ayahnya, Sukemi, Sukarno kecil menjelajah perpustakaan ayahnya yang kemudian membawanya bertemu dengan orang-orang besar.[1] Bernard Dahm,[2] menyebutkan bahwa tokoh pewayangan Bima, menjadi sosok favoritnya, karena sangat tegas terhadap kelompok di luar piihaknya.[3]Namun tidak pula membuat dia berhenti menjadi anak Jawa. Tumbuh dengan sifat yang selalu ingin di depan dari yang lain.

Sukarno menghabiskan masa kecilnya di Blitar. Masa kecilnya dilewatinya untuk melihat praktik kolonial berlaku tidak adil untuk warga pribumi. Sehingga membuat kebencian sekaligus bangkitnya perjuangan melawan penjajah Belanda.

Kesadaran tentang pentingnya perjuangan kebangsaan kemudian membawanya  mengembara. Memilih Surabaya sebagai tempat menempa bakat politiknya. Di Surabaya lah dia bertemu dengan Raja Jawa tanpa mahkota, HOS. Cokroaminoto.[4]

HOS. Cokroaminoto adalah pendiri Sarekat Islam (SI) di tahun 1920. SI merupakan organisasi massa yang hadir sebagai bentuk perjuangan non kooperasi dengan pemerintah kolonial. Organisasi itu hadir sebagai jawaban atas kebutuhan perjuangan yang lebih sistematis. Selain itu SI merupakan sebuah organisasi yang menekankan kemandirian ekonomi, sekaligus melawan ekonomi Tionghoa.

Memang, keberadaan SI adalah khas abad ke 20. Abada dimana dentuman sebuah peradaban kebangsaan. Itu adalah  zaman dimana, seperti  kata Gunawan Mohammad, orang gemar membicarakan gagasan-gagasan besar.[5] indonesia sebagai wilayah yang masih dikenal sebagai nama resmi Hindia Belanda kemudian mulai menyusun kembali naarasinya dengan menggunakan kekuatan yang datang dari tradisi pencerahan eropa.

Dapat dikatakan bahwa hal demikian adalah perayaan atas tumbuhnya kelompok terdidik salah satunya juaga akibat dari munculnya politik etik pemerintah belanda di atas tanah koloninya. Politik etis adalah hasil desakan partai politik liberal di Belanda. Mereka mengatakan bahwa Belanda harus membalas jasa kepada tanah koloni atas apa yang telah disumbangkan kepada mereka. Politik etis ini kemudian memungkinkan masyarakat pribumi mendapatkan akses pendidikan. Selain tentunya pembangunan infrastruktur. Namun di luar itu juga rakyat ikut membangun lembaga pendidikannya sendiri ketika sekolah yang didirikan oleh belanda tidak terbatas ruang aksesnya.[6]

Terbukanya ruang ini kemudian dimanfaatkan benar oleh masyarakat Indonesia sedemikian rupa. Ketika pemerintah kolonial berkeinginan bahwa dengan semakin terdidiknya masyarakat pribumi maka akan dijadikan sebagai alat kerja mereka dalam menjalankan agenda pemerinatahan kolonial. Namun bagi masyarakat hal itu dijadikan sebagai kesempatan memperbaiki taraf hidup sekaligus sebagai modal perjuangan.

Ada yang mengatakan bahwa kesadaran itu tumbuh dengan hadirnya organisasi pergerakan nasional, yang mewakili berbagai macam ideologi yang tumbuh pada pada organisasi itu sendiri. Tanggal 20 Mei 1908 misalnya, dikenal sebagai hari kebangkitan nasional, yaitu tumbuhnya sebuah organisasi Budi Utomo. Namun organisasi itu dikritik karena membatasi pada priayi Jawa.[7]

Dalam lingkungan sosial politik inilah Sukarno tumbuh. HOS Cokroaminoto menjadi poros dari kekagumannya. Sukarno menjadikan Cokroaminoto sebagai patron politiknya. Begitu juga dengan HOS Cokroaminoto. Dia melihat Sukarno dengan mata yang berbinar-binar, sehingga Sukarno muda menjadi murid kesayangannya.

Kepada HOS. Cokroaminoto, Sukarno memahami arti nasionalisme. Sehinga rumah raja jawa tanpa mahkota itu dianggapnya sebagai dapur nasionalisme. Keterpautan keduanya semakin dekat, ketika Utari, anak HOS Cokroaminoto, dinikahkan dengan Sukarno. Ternyata, bagi HOS. Cokroaminoto, Sukarno tidak cukup hanya menjadi murid politiknya. Namun dianya harus menjadi miliknya yang lebih terdalam.

Sukarno menerima Utari. Tapi tidak sepenuh hati. Utari diterima karena dia anaknya HOS. Cokroaminoto. Sukarno menghormati gurunya itu. Teramat dalam bahkan. Sebab Utari, bagi Sukarno, tidaklah dapat menjadi teman bicara dalam kehidupan politiknya. Untuk melukiskan hal tersebut, Sukarno berujar “ketika aku pulang dari rapat politik, Utari sedang asyik bermain dengan teman-temanya.” Karena itulah, begitu melihat Inggit Ganarsih, ibu kostnya di Bandung kelak, mata dan hatinya laju tertambat. Inggit juga demikian.[8]

Setelah HOS. Cokroaminoto, ditangkap akibat aktivitas politiknya, hal tersebut menimbulkan goncangan bagi diri Sukarno muda, sebab dia kemudian tidak lagi mendapatkan lagi bimbingan dari gurunya itu. Dari Surabaya, Sukarno pindah ke Bandung. Melanjutkan studi sarjana arsitekturnya di Technische Hoge School, atau kini dikenal sebagai Institute Tehnik Bandung (ITB).

Di Bandung, segala curahan pikirannya tetap kepada perjuangan politik untuk bangsanya. Dan hal tersebut tentu saja memberikan tekanan yang tidak sedikit baginya. Tidak jarang, akibat dari perjuangan politinya itu, Sukarno mendapat teguran dari pihak universitasnya. Namun hal tersebut tidaklah membuatnya berhenti. Malah semakin bergelora. Baginya, kemerdekaan Indonesia adalah harga mati.

Di kota itu juga, aktivitas politiknya semakin mendapatkan bentuk yang lebih kongkrit. Bila di Surabaya, aktivitasnya lebih banyak dihabiskan dengan menimbun pengetahuan melalui kegiatan di kelompok diskusi. Di Bandung, Sukarno membantuk satu partai politik sebagai alat perjuangannya nasionalnya, yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI).

PNI telah benar-benar menjadi sebuah kekuatan politik yang menjadi ancaman kepada pemerintah kolonial. Kegiatan politiknya, seperti rapat dan publikasi pamflet telah membuat jiwa-jiwa merdeka bersemi di dalam qalbu rakyat Indonesia. Dorongan itu pula sampai kepada pemuda Indonesia yang sedang belajar di Belanda. Mereka diantaranya Mohd. Hatta dan Sjahrir, dua pemuka organisasi Perkumpulan Indonesia (PI) di Belanda.

Cerita yang melingkupi ketiga tokoh itu selalu menarik diikuti. Bahkan mereka menjadi dua kubu yang berbeda dalam cara melihat perjuangan. Bagi Sukarno, perjuangan kemerdekaan adalah dengan pengerahan masa dan agitasi.[9]akan tetapi Hatta melihat hal yang berbeda. Baginya, rakyat harus disadarkan dan diberi pengajaran. Sesuatu hal yang diyakininya akan membawa kemerdekaan yang hakiki dan kuat.[10]

Aktifitas politik Sukarno akhirnya berbuah penjara. Dia didakwa telah melakukan aktivitas politik yang melawan pemerintah kolonial. Pengadilan Sukarno itu kemudian menarik perhatian banyak pihak. Sebagai pemimpin partai sekaligus pemuka perjuangan. Pengadilan kolonial, di tahun 1929, itu kemudian diambil oleh Sukarno sebagai tempat dia menyampaikan pandangannya tentang masa depan Indonesia, dengan pidato Indonesia Menggugat.

Pidato itu dapat dikatakan sebagai penanda dan pembuka masa depan Indonesia. Sebab dalam pidato itu Sukarno mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan lama lagi. Umur pemerintahan kolonial Belanda tidak lama akan rubuh. Begitu argumen Sukarno di muka pengadilan kolonial.

Ditangkapanya Sukarno membuat aktivis pergerakan kebangsaan memberikan pembelaan yang hebat. Tak terkecuali Bung Hatta di Belanda.  Apa yang dilakukan oleh Hatta merupakan sebuah pembelaan terhadap perjuangan pembebasan tanah air.  Pembelaan serupa juga dilakukan oleh PNI, partainya Sukarno, ketika Bung Hatta didakwa di pengadilan kolonial di negeri Belanda.[11] Pembelaan antara kedua tokoh ini adalah modal besar beberapa tahun ke depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walau di sana sini keduanya sering terlibat perbedaan yan tajam, baik tentang arah perjuangan maupun mengenai konsepsi politik.

Perbedaan pandangan konsepsinya politik dengan Hatta merupakan sebuah narasi politik yang telah mewarnai perjalanan bangsa ini. begitu pula dengan kehidupan politik Sukarno ketika pemerintah kolonial semakin ketat melakukan pengawasan terhadap dirinya. Setelah dia ditangkap dan diadili di Bandung, lalu kemudian dijebloskan ke penjara Sukamiskin, maka cerita-cerita berikutnya tentang Sukarno adalah penjara demi penjara, juga pembuangan demi pembuangan. Bagi pemerintah Kolonial, menjauhkan Sukarno adalah cara yang paling ampuh untuk membuatnya “mati.” Dan Jenderal Suharto-pun mengulanginya lagi setelah dia mengkudeta Sukarno melalui Surat Perintah 11 Maret.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada awal memenjarakan Sukarno terlihat berhasil. PNI yang menjadikannya sebagai poros gerakan politik kemudian dengan sendirinya melemah, bahkan dibubarkan sendiri oleh anggotanya.[12]Karena tidak ada lagi tokoh yang mampu menggerakkan partai ini secara baik, seperti sedia kala. Bubarnya PNI tentu saja membuat Sukarno bersedih. Namun dia tidak dapat berbuat banyak. Setelah keluar dari penjara, dia mencoba kembali mengumpulkan kembali kekuatan politik. Walau Sukarno menghadapi kenyataan, ketika keluar dari penjara, sudah ada dua partai baru yang melanjutkan perjuangan PNI, yaitu PNI Baru dan Partindo.

Cerita penyingkiran Sukarno tidak berhenti. Penjara Sukamiskin Bandung dianggap oleh pemerinatah kolonial tidaklah cukup untuk meredam pengaruhnya di hadapan rakyat. Maka yang harus dilakukan menjauhkan sama sekali. Sukarno harus dibuang keluar dari pulau Jawa. Pulau Ende adalah pilihan yang dianggap tepat. Sebuah pulau kecil yang tentunya sepi dari dunia agitasi politik.

Namun pemerintah salah. Membuangnya ke Ende malah membuat Sukarno memiliki ruang untuk melakukan refleksi dan belajar Islam. Di Pulau Endeh itu pula, Sukarno melakukan perenungan, yang hal itu dikatakan dalam pidato monumentalnya 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI. Perenungan yang meghasilkan Pancasila.

Di Pulau Endeh pula, Sukarno kembali mempelajari Islam, hal yang pernah dia dapatkan ketika masih bersama HOS. Cokroaminoto. Pelajaran Islam yang dia lakukan setelah melihat praktik keagamaan yang kolot dan jauh dari semangat modern. Dan Sukarno, untuk merengguk air pengetahuan Islam, berguru pada orang yang tepat; A. Hassan PERSIS,[13] melalui korespodensi. Korespodensi keduanya kemudian direkam dalam risalah Surat-surat dari Endeh. Melalui surat menyurat itu tampak keresahan Sukarno melihat pola keberagamaan yang tidak memuliakan akal dan menolak kemajuan.[14]

Pembuangan Bung Karno berikutnya adalah ke Bengkulu. Dari daerah itu dia kembali terus memberi pelajaran kepada rakyat Indonesia di sana. Di Bengkulu pula Sukarno bertemu dengan Fatmawati, yang kemudian menjadi isterinya, sekaligus Ibu Negara.[15]

Berakhirnya masa pembuangan Sukarno ketika Jepang memasuki Indonesia, dan membuat pemerintah Hindia Belandar menyerah tanpa syarat. Jepang melihat bahwa ketokohan Sukarno, juga Hatta, dapat menjadi teman yang dapat membantu mereka dalam Perang Asia Pasifik. Sedangkan Sukarno dan Hatta melihatnya sebagai peluang untuk memerdekan Indonesia. Suatu cita-cita yang sudah didambakan oleh segenap rakyat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu.

Namun langkah Sukarno itu tidak didukung oleh Sjahrir. Bagi Sjahrir, pemerintah Jepang adalah adalah fasis. Jadi harus ditolak. Sehingga selama pendudukan Jepang, Sjahrir tidak pernah tampil di depan. Dia aktif memberikan pendidikan politik kepada jaringan gerakan pemudanya.[16]

Ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada armada sekutu, maka Sukarno berhadapan dengan tuduhan bahwa dia adalah kolaborator Jepang.[17] Dan pemerintahan baru yang dipimpinya, bersama Hatta, dianggap sebagai sebagai lanjutan Jepang. Hal ini tentu saja berbahaya bagi proklamasi yang baru saja dilakukan. Inilah yang dapat kita katakan sebaga kebersaran jiwa para pendiri bangsa. Keinginan bersama untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka kemudian membuat Sjahrir menjadi Perdana Menteri. Kehadiran Sjahrir tersebut dapatlah menjadi pembuktian bahwa Republik Indonesia adalah negara baru, yang dibangun diatas darah dan cita-cita rakyat Indonesia. Bukan bentukan Jepang.

Kemerdekaan yang baru saja dinikmati tidak berlangsung lama. Sekutu dan Belanda merasa bahwa tanah Indonesia adalah milik mereka yang harus diambil kembali. Tentu saja, rakyat Indonesia tidak ingin kembali tunduk kepada di bawah kaki para penjajah. Perang demi perang terjadi. Perang di Surabaya, Perang Ambarawa dan Perang Medan Area adalah sedikit dari contoh betapa keinginan kuat dari bangsa Indonesia untuk hidup menjadi manusia-manusia merdeka.

Desakan demi desakan oleh Belanda dan dunia internasional kemudian membuat posisi pemerintaha Republik semakin terdesak, sehingga harus menyingkir dari Jakarta. Kesultanan Yogyakata, satu bulan setelah proklamasi memberikan dukungan kepada Republik Indonesia, menerima Presiden dan Wakil Presiden. Bahkan memberikan dukungan penuh terhadap eksistensi Republik Indonesia.[18]

Namun posisi Sukarno di Yogyakarta tidak berlangung lama. Dua agresi Belanda tahun 1947 dan 1948 membuat dia bersama pemimpin Republik Indonesia lainnya dibuang ke Sumatera. Menjelang penyerahan kedaulatan, semua pemimpin Republik di kumpulkan di Pulau Bangka.[19]Lalu setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1949, Sukarno kembali ke Jakarta menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat, lalu dengan Mosi Integral-nya M. Natsir, maka RIS pun kembali menjadi Republik Indonesia setahun setelahnya.

Tahun-tahun setelahnya, sebagai Presiden, Sukarno hanyalah sebagai lambang dari persatuan negara dan bangsa. Sampai kemudian Pemilu 1955, yang sudah dinanti-nantikan  itu datang. Pemilu pertama dalam sejarah Republik Indonesia melahirkan dua produk; DPR dan Majelis Konstituante.

Majelis Konstituante bertugas untuk menyusun dasar negara dan kosntitusi yang baru. Perdebatan mengenai dasar negara  kemudian menjadi titik kritis. Yaitu pada pilihan apakah Islam atau Pancasila sebagai dasar negara. Perdebatan tentang dasar negara tersebut kemudian dihentikan dengan lahirnya Dekrit Presiden, 5 Juli 1959, dengan poin utama kembali kepada UUD 1945. Presiden, dengan dukungan militer, menganggap bahwa Majelis Konstituante gagal merumuskan dasar negara, karena perdebatan yang tiada ujung. [20]

Setelah Sukarno mengambil alih kekuasaan eksekutif, maka pemerintahannya pun berjalan dengan efektif. Mulailah saat itu, konsepsi-konsepsinya, seperti Demokrasi Terpimpin dan Nasakom mulai dijalankan.

Dapat dikatakan, bahwa sejak 1945-1959, Sukarno sebagai Presiden sebagai lambang pemersatuan bangsa saja. Akan tetapi, sejak 1959-1966, Sukarno benar-benar berfungsi sebagai Presiden dalam sistem presidensil. Bahkan dalam beberapa hal, perannya melebihi lembaga-lembaga lain yang ada. Memang dengan konsepsi Demokrasi Terpimpinnya itu, posisi politik Sukarno hampir tidak ada yang menggantikan. Sampai kemudian terjadi peristiwa 30 September 1965.

30 September 1965 adalah sebuah gerakan militer dari pasukan Cakrabirawa untuk menculik para Jenderal Angkatan Darat yang dianggap tidak loyal kepada Presiden. Upaya penculikan tersebut, dalam kacamata Salim Said, adalah tradisi politik Indonesia. Sebab penculikan itu dimaknai sebagai pendaulatan. Dimana pihak yang diculik itu dihadapkan kepada pilihan untuk mengikuti kehendak dari pihak penculik. Jadi bukan hendak membunuh. Salim Said memberikan contoh yang paling diingat adalah pada Peristiwa Rengasdengklok, yaitu penculikan Sukarno-Hatta oleh sekelompok pemuda yang mendesak supaya proklamasi kemerdekaan dipercepat.

Setelah peristiwa 30 September itu, Sukarno lebih suka menyebutnya Gestok, kekuasaan dari Panglima Besar Revolusi itu dilucuti. Puncak pelucutan itu adalah lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Supersemar yang maksud mulanya untuk menjaga keselamatan dan ajaran Presiden, serta menertibkan keadaan yang semakin kacau, malah dijadikan sebagai alat untuk merebut kekuasaan dari tangan Si Bung Besar itu.

Muhammad AlkafDirektur Pusat Studi Pancasila IAIN Langsa dan Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Sumber Berdikari Online

Catatan kaki:

[1] Seri Buku Tempo, Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman (Jakarta: Tempo, 2015) , hal. 109.

[2] Salah seorang Indonesianis yang menjadikan Sukarno sebagai  tokoh kajiannya, lihat Benhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan  (Jakarta: LP3ES, 1987).

[3] Zulfikri Suleman, Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta, (Jakarta: Kompas, 2010), hal. 19

[4] Majalah Tempo menurunkan tulisan memikat tentang ketokohan HOS. Cokroaminoto, yang kemudian menjadi seri penerbitan buku Bapak Bangsa. Dialah yang kemudian mendidik 3 tokoh besar dalam sejarah modern politik Indonesia yang kemudian saling menjadi lawan politik; Sukarno, Kartosuwiryo dan Muso,  lihat Seri Buku Tempo, Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011).

[5] Goenawan Mohammad, Alberrt Camus dan Orang Indonesia, dalam pengantar Albert Camus, Krisis Kebebasan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988), hal. 2

[6] Hal tersebut dikatakan oleh Syamsuddin Hasyim dalam sebuah pembicaraan dengan penulis di Banda Aceh beberapa tahun silam. Menurutnya, sekolah agama yang dididirikan oleh rakyat dikarenakan keterbatasan akses mereka kepada lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Syamsuddin Hasyim sendiri alumnus dari Normal Islam Institute Bireuen, lembaga pendidikan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) untuk calon guru agama. Keberadaan Normal Institute serta aktvitasnya, lihat Muhammad Alkaf, http://www.bung-alkaf.com/2016/09/02/jejak-normal-islam-institut/, diakses 2 November 2016

[7] Priyayi merupakan kelas elite sosial di zaman kolonial. Priyayi bukanlah kelas sosial yang tertutup sama sekali. Posisi itu dapat diraih oleh kelompok sosial di bawahnya apabila  mampu menempati posisi pekerjaan tertentu dalam struktur pemerintahan kolonial. Umar Kayam dalam novelnya telah memikat kita untuk mengetahui tentang kehidupan para priyayi. Lihat Umar Kayam, Para Priyayi: Sebua Novel, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992).

[8] Adalah Ramadan KH menulis dengan apik. Bahkan sangat-sangat apik! Otobiografinya yang sastrawi tentang perjalanan hidup Inggit Ganarsih mendampingi Sukarno sangat menyentuh. Otobiogafi itu dapat dikatakan salah satu yang terbaik dalam sejarah penulisan di Indonesia. Lihat Ramadan KH, Kuantar Kau ke Gerbang : Kisah Cinta Bu Inggit dan Bung Kkarno (Jakarta: Sinar Harapan, 1981).

[9] Tan Malaka adalah tokoh pemikir yang sangat memiliki perhatian penuh kepada kehadiran massa dalam sebuah perjuangan politik. Namun, Tan Malaka membedakan antara aksi massa dengan massa aksi. Ide Tan Malaka itu kemudian sangat berbekas kepada Suakrno, sehingga dia sangat percaya kepada massa aksi itu. bagi Sukarno, massa aksi adalah sebuah , massa aksi adalah sebuah kebulatan tekad untuk membangun tatanan masyarakat baru dan merobohkan tatanan lama yang menindas. Lihat  Rudi Hartono, http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-pemahaman-soal-massa-aksi/, diakses 5 November 2016.

[10] Kalau Sukarno, seperti biasa, orang  yang selalu meluap-luap. Hatta adalah kebalikannya, dia dingin, tenang dan tertib. Hatta adalah, untuk tidak mengatakan yang pertama, generasi awal di negara ini yang bersentuhan dengan bangunan pengetahuan dunia Barat. Hal tersebut tercermin dari kesannya ketika belajar ke negeri Belanda melalui otobiografinya itu (2015). Sebuah buku yang yang tampak lebih ribet dari otobiografi Sukarno (1966) yang ditulis oleh Cindy Adams, yang tampak bernada narsistik.

[11] Wawan Tunggul Alam, Demi Bangsaku: Pertentangan Sukarno vs Hatta,(Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama: 2003), hal. 38

[12] Rushdy Hoesein, Terobosan Sukarno  dalam Perundingan Linggarjati (Jakarta: Kompas, 2010), hal. 163

[13] Untuk mengetahui lebih banyak tentang pergerakan organisasi PERSIS, lihat Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim: Pencarian dan Pergulatan PERSIS di Era Kemunculan Indonesia (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2004).

[14] Sukarno sering didakwa bertolak belakang dengan Islam. Anggapan itu mutlak salah. Sebagai Bapak Bangsa, dia tentu saja berpihak kepada Islam, sebagai realitas sosiologis bangsa Indonesia. Hubungan antara Sukarno dan Islam, lihat Muhammad Alkaf, http://www.berdikarionline.com/perihal-sukarno-dan-islam/, diakses 6 November 2016.

[15] Hanung Bramantyo, sutradara film Sukarno, memberi suasana dramatis tentang kisah percintaan Bung Karno dengan Inggit dan Fatmawati. Walau tampak bahwa Hanung lebih terpengaruh, atau bahkan memberi pembelaan kepada Inggit yang lebih besar. Dapat dikatakan Hanung terinspirasi dengan biografi Inggit

[16] Aktivitas politik Sjahrir dan kelompok pemuda yang dibinanya menjadi sebuah kekuatan penting dalam masa-masa menjelang dan awal revolusi kemerdekaan. Lihat John David Legge, Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993)

[17] Pramoedya Ananta Toer membantah hal itu. Bagi Pram, Sukarno bukanlah kolaborator, bahkan di masa-masa itu dia membangung kesadaran tentang nasion.

[18] Sultan Hamengkubuwono IX adalah tokoh sentral dalam penyelamatan Republik Indonesia. Sebagai sebuah kesultanan yang berdiri independen sejak zaman Belanda dan Jepang, posisinya sangat penting dalam konstalasi politik nasional. Dukungan Sultan HB IX tentulah sebuah hal yang sangat berarti bagi Republik yang masih berusia muda. Mengenai riwayat hidup Sultan HB IX, lihat Mohammad Roem ddk, Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (Jakarta: Gramedia, 1982 )

[19] Mary Somers Heidheus menarasikan bagaimana Pulau Bangka memiliki peranan unik menjelang penyerahan kedaulatan, melalui kehadiran seluruh pemimpin Republik Indonesia di tempat tersebut. Lihat Mari Somers Heidheus, Pengasingan para Pemimpin Republik di Banka, 1949 dalam Daniel S. Lev dan Ruth Mc Vey, Menjadikan Indonesia: Dari Membangun Bangsa menjadi Membangun Kekuasaan(Jakarta: Hasta Mirta, 2008).

[20] Argumen bahwa Majelis Konstituante gagal al ini dibantah oleh Adnan Buyung Nasution. Kajian dari Adnan Buyung Nasution itu memiliki tempat sendiri dalam melihat fase penting dalam sejarah politik Indonesia. Lihat Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintah Konsntitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992).