Angin kencang malam itu membuatku merasa sangat ketakutan. Ku lirik arlojiku menunjukkan pukul 20.30 WIB, dan aku hanya mondar-mandir menunggu seseorang.

“Seharusnya dia sudah sampai,” fikir ku dalam hati.

Ku raih HP yang lagi di charger di depan tv, menekan satu persatu lalu menelfon seseorang. Namun tak ku dapatkan jawaban darinya.

“Dhimas jadi kesini?“ ucapan ibu mengagetkanku.

“Iya bu, dia sedang di jalan,” jawabku padanya.

Ibu kemudian berlalu meninggalkan aku di ruang tamu sendirian, lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

“Iya sebentar,” teriakku sambil berjalan untuk membuka pintu
Ketika pintu terbuka aku merasa aneh kepada sosok di depanku itu, ia seperti orang sakit, mukanya pucat dan tatapan mata yang sayu.
Kuraih tangannya dan kemudian terlepas.

“Kamu sakit ya?” tanyaku kepada kekasihku itu.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Lalu aku mempersilahkannya masuk, tapi aku semakin bingung dibuatnya yang selalu dengan tatapan kosongnya.

“Dhim, Dhim, Dhimas,“ suaraku agak meninggi.

“Kalau kamu nggak bisa ke sini bilang aja, aku nggak mau kamu kayak gini,” ucapku sedikit marah.

Sebelum dia datang, memang sudah ada cekcok sedikit, tapi itu memang hal biasa karena hampir setiap malam minggu kami seperti itu. Namun kali ini ada yang berbeda dengan dia bahkan aku sempat tidak mengerti sifatnya itu.

“Aku rindu kamu yang dulu, kenapa kamu berubah? Apa aku membuatmu kecewa? Mengapa hubungan kita sekarang jadi dingin? Apa kamu tidak mau lagi bertahan denganku?” ucapku terhenti dengan isak tangisku.

Dhimas hanya menatapku lalu kemudian tersenyum.

“Aku sayang kamu, aku minta maaf jika selama ini aku aku selalu membuatmu kesal, maafkan aku jika caraku mencintaimu salah,“ ucapnya kemudian.

Aku langsung memeluknya dan sekejap aku langsung merinding dan terkejut.

“Mengapa tidakku dengar detak jantungnya,” fikirku kebingungan.

Tak lama Dhimas di rumahku lalu dia berpamitan pulang, ingin aku menghentikannya karna aku merasa bahwa aku akan kehilangan dia.

“Hati-hati Dhidim,“ ucapku kepadanya.

“Makasih Syasya,“ jawabnya.

Entah apa yang ada dalam fikiranku kala itu selain dia. Seperti ada hal yang berubah tapi aku tidak tahu itu hal apa.

“Ada apa dengan dia, mengapa dia berubah, apa dia marah padaku?” semakin banyak pertanyaan memecahi kepalaku.

Malam itu aku bermimpi berada di suatu tempat yang sangat gelap, kulihat Dhimas mulai pergi meninggalkanku. Lalu aku pun terbangun dari tidurku. Kulihat hujan dengan sangat derasnya. Waktu itu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Aku tarik selimutku dan meneruskan tidur kembali.

***

Malam berganti pagi dan kusambut pagi ini dengan sangat gembira karena hari itu adalah anniversary kami yang ke 3 tahun. Kuraih HP ku berharap ada ucapan darinya, namun yang ku dapat hanya kecewa semata.

“Hhuft, apa dia lupa ini hari apa,” ucapku menggerutu.

Kemudian aku segera mengganti pakaianku berniat untuk berkunjung kerumahnya.

“Pagi tante,“ sapaku kepada ibunya.

Ibunya menatapku, dan berlari memelukku.

“Tasya,” ucap ibunya sambil menangis mencium keningku.

“Dhimas ada?” tanyaku.

“ Dhimas,,, Dhimas.. Dhi…” ucapan ibunya terhenti, lalu dia menangis sejadi-jadinya.

Tubuh ku lemas tak berdaya, rasanya waktu berhenti untuk beberapa saat setelah ku dengar kabar duka bahwa kekasih yang setiap harinya selalu bersamaku itu telah tiada 3 minggu lalu.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku? Lalu siapa yang selalu bersamaku akhir-akhir ini,” teriakku sejadi-jadinya.

Ibunya hanya menangis tanpa menjawab satu pun pertanyaan dariku.

“Itu hanya permintaan terakhirnya untuk tidak memberitahumu,” jawabnya pelan.

Jiwa yang selama ini kuat mulai rapuh, kaki yang selama ini tegar mulai gontai, hidup ku bagai hilang karna telah hilang separuhnya. Kulihat pusara Dhimas untuk terakhir kalinya. Lalu memutuskan untuk pindah keluar kota untuk menghilangkan semua kenangan bersamanya.

“Tuhan telah bersamamu, maaf kan aku yang sangat merasa kehilanganmu. Aku harus meninggalkan kota ini dan semua kenangan kita. Semoga kau tenang di sana, love you Dhimas.”

Langkah demi langkah mulai ku jalani. Ingatan yang mulai meredup dan semangat yang berkata untuk bangkit. Karena setiap makhluk yang terluka berhak untuk bahagia. Namun semua kenangan akan tetap terukir indah sebagaimana seharusnya.

Yoselia Endang Sari, Komunitas Menulis Bengkulu