Hj Asmiar Amir (kanan).

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Ketua Umum Forum Silaturahmi Antar Pengajian (FORSAP) Kota Bengkulu Hj Asmiar Amir mendoakan agar ustaz Abdul Somad bersedia menerima ijtimak para ulama yang digelar di Hotel Menara Penisula Slipi Jakarta Barat beberapa waktu lalu untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Prabowo Subianto.

“Kepada setiap anggota saya tekankan untuk terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terutama dalam salat malam agar beliau bersedia menjadi cawapres, sesuai dengan hasil ijtimak para ulama,” kata Hj Asmiar Amir kepada Pedoman Bengkulu, Jumat (3/8/2018).

Ketua Cabang Aisyiyah IV Bengkulu ini menjelaskan, fenomena penolakan ustaz Abdul Somad untuk tampil sebagai pemimpin bukan hal baru dalam politik. Sebelumnya, kata Hj Asmiar, calon walikota Bengkulu 2018-2023 yang baru saja terpilih, H Helmi Hasan awalnya juga sempat menolak untuk dicalonkan.

“Helmi bahkan sudah berpamitan kepada seluruh keluarga, kerabat, dan rekan-rekannya untuk memenuhi pinangan Gubernur Lampung Ridho Ficardo untuk menjadi calon wakil gubernur. Lalu kami semua berdoa dan alhamdulillah, Allah mengabulkan Helmi untuk kembali ke Bengkulu. Allah kuasa membolak balikkan hati manusia,” ujar Hj Asmiar Amir.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perempuan Amanat Nasional (PUAN) Bengkulu itu mengungkapkan, tidak ada yang salah ketika ulama menjadi umara. Bahkan, tegasnya, kondisi umat yang saat ini tercerai-berai oleh arus kebudayaan asing yang masuk melalui globalisasi membutuhkan kepemimpinan ulama.

“Seperti kata Profesor Fahmi Amhar, orang luar selalu menginginkan Islam di Indonesia hanya sebatas akhlak, tanpa jihad melawan penjajah. Islam yang tinggal ibadah, tanpa syariah. Islam yang boleh menyinari rumah tangga, namun tidak di industri atau niaga. Islam boleh ada di masjid, tapi bukan di Pemerintahan. Islam boleh bicara akhirat, tapi tidak tentang cara melayani rakyat. Ustaz Abdul Somad harus tampil sebagai umara agar kekuasaan dapat menerapkan nilai-nilai luhur Islam dalam seluruh sendi kehidupan bangsa dan negara,” demikian Hj Asmiar Amir. [Eva De]