Sidang Jauhari alias Jukak terkait kasus dugaan suap proyek Bupati non aktif Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud di Pengadilan Negeri Bengkulu, Rabu (29/8/2018).

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Pengadilan Negeri Bengkulu kembali menggelar sidang Jauhari alias Jukak terkait kasus dugaan suap proyek Bupati non aktif Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud, Rabu (29/8/2018).

Dalam sidang tersebut Bupati Bengkulu Selatan nonaktif Dirwan Mahmud, istrinya Hendrati dan keponakannya Nursilawati dihadirkan sebagai saksi.

Sidang dipimpin ketua Majelis Hakim Jonner Manik dan dua hakim lainnya. Sementara dari KPK menurunkan 3 orang sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Terungkap di dalam persidangan, percakapan melalui telepon hasil sadapan KPK antara Jukak dan Nursilawati yang diputar. Dalam pembicaraan tersebut Jukak menanyakan keamanan ketika akan bertemu dengan Nursilawati dan Hendrati di salah satu rumah makan dan pembicaraan terkait permintaan proyek yang dilayangkan oleh Jukak.

Dari pembicaraan Jukak dengan Nursilawati tersebut, hakim menilai keduanya sangat akrab.

“Berbeda sekali antara yang disampaikan di persidangan mengaku tidak tahu mengenai proyek dengan di telepon, saya tahu kamu itu akrab atau tidak,” kata Hakim Rahmat.

Selanjutnya Nursilawati mengatakan bahwa dirinya mengenal Jukak tetapi tidak mengetahui tentang proyek tersebut.

“Memang saya kenal dengan bapak Jauhari akan tetapi tidak mengetahui mengenai proyek tersebut,” katanya.

Kasus dugaan suap proyek infratruktur di Dinas PUPR Bengkulu Selatan mengakibatkan Bupati non aktif Dirwan Mahmud terkena OTT KPK. Hasil pemeriksaan KPK menetapkan empat orang tersangka salah satunya adalah Jukak yang telah berstatus terdakwa yang saat ini menjalani sidang.

Sementara Dirwan Mahmud, Hendrati dan Nursilawati berkasnya P21 pada Selasa (28/8/2018) kemarin. [Ardiyanto]