PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Terhitung sejak tahun 2015 hingga 2018 ini, kekerasan terhadap jurnalis kurang dari 12 kasus terjadi di Bengkulu. Misalnya, di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu dan Bengkulu Utara.

Koordinator bidang advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, Firmansyah mengatakan, kekerasaan terhadap jurnalis rentan melibatkan pihak TNI, Polri, Oknum anggota DPRD, pejabat Pemda dan masyarakat umum.

“Kasus yang terjadi umumnya berupa ancaman fisik dan menghalang-halangi tugas pers,” jelas Firman, Jumat (10/08/2018).

Salah satu kasus yang sempat diurus oleh AJI yaitu antara wartawan RRI Bengkulu dengan perwira Korem 041 Gamas Bengkulu. Kata Firman, perusahaan tempat wartawan bekerja harus memberikan perlidungan hukum kepada jurnalis. Misalnya, menyediakan kuasa hukum untuk jurnalis.

Firmansyah

“AJI tetap memperjuangkan profesionalisme, kemandirian dan independensi. Profesionalisme dalam artian menjaga kode etik,” jelasnya.

Firman menambahkan, meskipun jurnalis mempunyai undang-undang perlindungan, AJI Bengkulu berharap agar jurnalis tetap menghormati narasumber secara baik. Menjaga etika dan tetap rendah hati.

“Jaga etika, jangan sok jago dengan status jurnalis. Tetap rendah hati,” ujarnya.

Secara umum lanjut Firman, tingkat kebebasan Pers di Bengkulu cukup baik. Instansi Pemerintah cukup terbuka dengan jurnalis. Jikapun ada, hanya oknum yang mungkin kurang memahami tugas jurnalis.

“Sejauh ini instansi pemerintah cukup terbuka dengan jurnalis. Bahkan terjadi keharmonisan dibeberapa daerah,” tutupnya. [Sepriandi]