New York/VOA Indonesia.

-Di sana, di kota New York, Luhan sadar bahwa kehidupan memang berputar.-

Bumi itu berputar, Luhan mempercayainya. Tapi jika kehidupan akan terus berputar seperti roda, maka Luhan tidak akan pernah percaya sama sekali. Buktinya sampai sekarang ia tetap hidup mapan dengan penghasilan berlimpah, perusahaan besar dimana-mana yang sudah ia kelola selama bertahun-tahun, tentu saja hasil dari kerja kerasnya. Ia tak pernah jatuh miskin seperti di cerita drama picisan. Hidupnya begitu konstan sejak dulu, tak berubah, tapi tanpa ia sadari seberkas perasaan bosan menyusup diam-diam.

Luhan tersenyum sembari kaki-kakinya melangkah menyusuri jalanan kota New York yang bertumpuk salju, kebetulan di bulan Desember ini ia mendapat proyek besar di kota penuh kelap kelip dan keromantisan ini. Beratus-ratus pasang kekasih sudah Luhan lihat sejak ia berjalan dengan kakinya yang dilapisi sepatu boot. Jaket coklat tua yang menyelimuti tubuh dengan kedua tangan dingin berada di dalam kantong. Uap putih keluar mulus lewat mulut dan hidung saat ia bernapas ataupun mendengus ketika hampir saja tergelincir salju yang putih.

Langit semakin kelabu diiringi angin musim dingin yang berhembus sedikit kencang, beberapa pejalan kaki memilih untuk segera berteduh saat dilihat salju akan kembali turun dari langit kelabu, beberapa pasang kekasih saling bergandengan tangan untuk menciptakan kehangatan ditengah hawa dingin yang menaungi. Luhan tersenyum melihatnya, padahal harusnya ia segera berlari ke tempat yang teduh jika tidak ingin hawa musim dingin membekukan tubuhnya yang sudah hampir beku sejak tadi, paling tidak untuk menghindari tumpukan salju yang akan terbentuk di bagian bahu coat tebalnya.

Tapi sedikit demi sedikit senyum di bibir yang sedikit kering itu hilang, bersamaan dengan kepala Luhan yang tertunduk menatap salju putih di bawahnya yang seakan menjadi cermin ketika menampilkan adegan masa lalu yang begitu indah namun terlalu menyesakkan untuk dikenang.

Luhan juga mempunyai cinta, tapi cintanya sudah hilang sejak 3 tahun yang lalu, tepatnya ketika gadis berparas eloknya memutuskan untuk meninggalkannya sendiri dan memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Luhan masih ingat ketika mereka menghabiskan waktu di depan perapian saat badai salju di musim dingin pertama, lalu gadisnya akan membuat coklat panas untuk mereka minum berdua, setelah itu mereka akan mengobrol seru dengan berbagi selimut tebal. Dan Luhan masih ingat dengan jelas saat gadisnya tertidur di atas bahunya akibat kelelahan bercerita.

Kenangan yang begitu indah hingga terasa sayang untuk dibuang secara sia-sia.Tapi terlalu menyesakkan untuk dikenang hingga sekarang.Luhan masih mencintai gadisnya yang sudah pergi jauh, meninggalkannya dengan rasa sakit yang bahkan lebih sakit daripada saat Luhan kecelakaan mobil tahun lalu.

Luhan depresi, hampir putus asa dan ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidup.

Namun kata-kata gadisnya sebelum pergi dari kehidupannya membuat ia bertahan sejauh ini.

‘Luhan, takdir akan membuat kita bertemu lagi. Aku percaya itu’

Dari semua kalimat proposal dan berkas-berkas perusahaannya, tak ada yang bisa membuatnya berpaling dari kalimat yang gadisnya ucapkan 3 tahun yang lalu dengan senyuman lirih. Luhan tau bahwa gadisnya juga tidak ingin hubungan mereka berakhir, namun pendidikan dan jarak tempat yang jauh menjadi penghalang hingga Luhan tak bisa berbuat banyak selain bersembunyi di balik tembok besar yang terbangun di tengah-tengah mereka.

Helaan napas keluar diringi uap putih seperti kepulan asap dari mulut, kali ini bukan karena ia hampir mengumpat pada salju puith yang licin, namun Luhan hanya mencoba menguatkan diri dan sedikit mengusir beban berat yang tiba-tiba menghimpit dadanya.

Langkahnya kembali terajut, kali ini ia berjalan menunduk dengan kedua tangan yang masih bertahan di saku coat coklat tuanya. Mata rusa itu terfokus pada setiap salju yang terlewati oleh kakinya sehingga membentuk footprint. Luhan tersenyum, bukan, bukan pada salju itu, tapi pada saat ia teringat gadisnya yang selalu melompat-lompat riang di atas salju dan akhirnya terbentuklah jejak kaki secara acak.

Luhan tak bisa melupakan semua kenangannya, tak bisa.

Sepasang kaki lain berada tepat di depan Luhan yang terus menunduk sejak 10 menit yang lalu, Luhan yakin bahwa di cuaca seperti ini tak akan ada orang yang mau berjalan-jalan di luar seperti dirinya. Namun saat Luhan melihat sepasang kaki di depannya membuat semua opsinya dipatahkan begitu saja.

Luhan berhenti tepat disebrang sepasang kaki itu, masih menunduk dengan enggan berharap orang di depannya kini sedikit bergeser agar ia bisa melanjutkan langkah.

“Hai, Luhan.”

Namun kata-kata dengan nada yang sama seperti tiga tahun yang lalu, suara indah yang selalu ceria seperti tiga tahun yang lalu membuat Luhan membeku di tempat untuk sepersekian sekon. Kakinya terasa lengket di atas salju yang dingin dengan mata yang perlahan terangkat naik untuk melihat siapa gerangan.

Luhan sangka ia sedang dalam tidur di malam musim dingin pertama dengan pikiran kalut yang selalu teringat masa lalu hingga bermimpi seindah ini, namun nyatanya ini bukan mimpi sebab Luhan masih bisa merasakan angin musim dingin yang menerpa. Dan juga tangan hangat yang menangkup sebelah rahangnya.

Di depannya ada sosok cantik seperti dewi Yunani sebab wajahnya yang terpahat elok rupawan dengan rona kemerahan di pipi, mungkin akibat dingin –atau sebab yang lain-, bibir tipis yang terangkat naik membentuk senyuman cerah dan hangat, kedua onyx berbinar polos seperti bocah kecil.

“Jung Seok Hye?” Bibir Luhan bergetar menyebut nama yang tak pernah ia keluarkan lagi dari mulutya sejak tiga tahun yang lalu. Sekarang Luhan kembali menyebut nama itu dan juga melihat sosok indah itu.

Seok Hye. Gadisnya yang telah menjadi wanita dewasa dengan perawakan anggun. Gadisnya yang sudah mengganti warna rambutnya dengan warna hitam pekat yang membuatnya terlihat lebih elegan. Tapi rambut itu masih terlihat begitu lembut.

Luhan tak bisa menahan perasaannya yang meletup-letup penuh kebahagiaan hingga akhirnya ia memeluk Seok Hye dengan erat seakan tak membiarkan sosok itu kembali menghilang. Luhan rasa tembok yang menghalagi mereka sudah lapuk termakan waktu dan akhirnya runtuh.

Luhan dapat merasakan kembali harum vanilla itu. Luhan dapat merasakan kembali kehangatan itu. Dan Luhan dapat merasakan bahwa yang ia peluk sekarang bukanlah Seok Hye dengan mantel berbulu putih bersih yang membuat tubuhnya seperti tenggelam, tapi nyatanya sekarang Seok Hye sudah memakai sebuah jas dokter yang membalut tubuh di dalam coat musim dinginnya. Jas putih yang menjadi cita-citanya sedari dulu, jas putih yang membuat Seok Hye meninggalkannya untuk menimba ilmu ke negeri orang.

Pelukkan itu terlepas seiring desahan lega keluar dari bibir Luhan, menandakan ia begitu bahagia akan kenyataan yang baru saja ia dapat.

“Kau..mendapatkan impianmu” Luhan menangkup pipi Seok Hye yang ia lihat sedikit lebih tirus dari yang dulu. Dan Luhan sadar bahwa Seok Hye telah bekerja begitu keras.

“Hmm,” Seok hye mengangguk sambil mengusakkan sebelah pipinya di telapak tangan Luhan yang menangkup rahangnya. Luhan terkekeh gemas, ternyata sifat manja Seok Hye belum juga menghilang walau ia sudah menjadi dokter.

“Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Dan ternyata semuanya benar-benar terbukti,” Seok Hye berkata penuh semangat dengan sedikit nada sombong karena nyatanya ia bisa meramal hubungan mereka –walau nyatanya itu semua tidak ada hubungannya dengan ramalan sekalipun-

“Hahaha iya, iya,” Luhan hanya mengangguk setuju, masih memandang wajah elok yang membuat ia sedikit lupa bahwa dingin di sekitar semakin bertambah, mungkin karena ada Seok Hye membuatnya lebih hangat.

Ah, Luhan jadi ingat, ini semua bukan karena kepercayaan Seok Hye akan hubungan mereka yang akan berakhir baik.

Karena nyatanya selain mengurusi bisnis, ternyata Luhan ke sini memang berniat untuk menemui gadis yang ia cintai selama ini. Meski Luhan awalnya belum tau dimana Seok Hye tinggal, yang ia tau hanya keberadan Seok Hye di negeri orang ini. Tentu saja Luhan tidak bermain-main dengan ramalan untiuk mengetahuinya sebab Luhan mencari tau sendiri dimana gadisnya berada –tentu saja dengan bantuan anak buahnya yang selalu bisa diandalkan-.

Agar kelak mereka bisa berkumpul lagi. Tepatnya berkumpul kembali di musim dingin, karena Luhan ingin musim dinginnya sedikit lebih hangat.

Luhan juga tidak berniat memberitahu Seok Hye bawa selama ini ia berusaha mencari gadis itu. Biarlah Seok Hye bertahan dengan opininya tentang ramalannya yang jadi kenyataan atau semacamnya.

Dan kini Luhan percaya bahwa kehidupan memang berputar seperti roda.

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu