Sejumlah warga Bengkulu diamankan Detasemen Khusus 88 atau Densus 88, satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan terorisme. Salah satunya WL, warga yang tinggal di Kelurahan Pasar Baru Kota Bengkulu.

Berikutnya, aksi pengamanan oleh Densus 88 itu menjadi judul utama harian media massa di Bengkulu. Perbincangan mengenai teroris ini menjadi perbincangan hangat, mulai dari orang-orang yang mengaku mengenal para terduga teroris yang diamankan sebagai orang-orang baik, hingga perihal penangkapan yang dilakukan secara tak terduga di depan para keluarga terduga yang diamankan.

Berbagai pandangan muncul. Sebagian orang mengatakan bahwa teroris bisa lahir karena adanya kebencian seseorang terhadap sesuatu. Kebencian itu membentuk sikap orang tersebut bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menghancurkan apa yang dibencinya itu.

Apakah benar kebencian adalah fitrah manusia? Bukankah setiap orang selalu terlahir dalam keadaan berjiwa suci dan bersih? Bukankah kebencian seseorang timbul akibat keadaan sekitar yang ia nilai tidak adil, timpang, korup, bengis dan sadis?

Terorisme tidak akan pernah terlepas dari kondisi ekonomi dan politik. Terorisme yang sejati justru adalah kondisi sosial seperti kemiskinan dan sistem yang memberikan keuntungan besar hanya kepada segelintir orang sementara ada mayoritas lainnya yang kelaparan.

Hal ini pernah diungkap oleh mantan Kepala Badan Kesbangpol Kota Bengkulu M Taufik Mantan yang menyebutkan bahwa suburnya terorisme, termasuk komunisme, lantaran tingginya tingkat kemiskinan. Atau dalam bahasa Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, kalau ada seratus orang, 10 makan, dan 90 lapar, kita akan sangat mudah terbakar.

Seseorang akan begitu mudah menerima kebencian sebagai sebuah pandangan hidup ketika melihat begitu nyatanya kemiskinan dan ketimpangan sosial. Dogmatisme sempit atas penafsiran agama boleh jadi diterima oleh seseorang karena dalam benaknya terdapat ketidakpuasan atas keadaan sosial yang ia hadapi.

Bila kemiskinan dan ketimpangan sosial itu adalah terorisme yang sejati yang dapat memupuk kebencian anak bangsa terhadap bangsa asing atau bangsa kafir, kenapa tidak ia yang diperangi? Disinilah muncul kekhawatiran.

Bung Karno pernah memberikan peringatan, perang terhadap isme-isme, termasuk terorisme, sejatinya adalah omong kosong. Menurutnya, hampir semua perang di bawah kolong langit ini adalah perang untuk perebutan bahan mentah, pasar, tenaga kerja murah, penguasaan teritori, dan lain-lain.

Faktanya, semakin terorisme ini diperangi, kekuatan imperialis semakin subur di dunia. Sumber daya alam negara-negara berkembang seperti Irak dan Libya dikuasai kepentingan imperialis setelah sebelumnya dicabik-cabik karena tuduhan sebagai negara teroris.

Sejatinya, tidak pernah ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris. Tapi kemiskinan dan ketimpangan sosial secara nyata telah menteror rakyat dengan kebodohan, kesusahan hidup dan maraknya aksi-aksi kriminalitas seperti pembunuhan, pencurian, hingga pemerkosaan.

Untuk itu, perang terhadap terorisme harus diarahkan kepada perang terhadap sistem ekonomi politik yang menimbulkan kemiskinan dan ketimpangan sosial tersebut. Perang terhadap terorisme harus selaras dengan perang terhadap imperialisme/neoliberalisme dengan penggunaan kekayaan alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, membangun ekonomi yang merata dan berkeadilan sosial.