Dia selalu duduk di bangku taman dengan petikan gitar dan suara emasnya. Seperti menunggu tapi tak akan ada yang datang. Seperti berharap, walaupun itu semua hanyalah harapan semu. Dia hanyalah seorang pria yang sedang patah hati.

Petikan gitar itu terdengar begitu merdu, mendayu-dayu menyapa pendengaran. Bunyi yang sama setiap hari terdengar di tempat itu. Seorang pria berperawakan tinggi dengan kedua tangan lincahnya memainkan gitar di atas pangkuan kaki panjangnya. Perlahan matanya terpejam lembut, meresapi semua nada yang keluar, hingga bibir tebalnya perlahan bergerak, mengeluarkan beberapa patah kata, sebuah lirik yang terdengar setulus hati.

“Ini,” pria yang terlarut dalam nadanya itu perlahan membuka kembali mata besarnya yang semula terpejam, ia menengadah melihat siapa yang kini berinteraksi dengannya. Dengan lembut bibir tebalnya menukik ke atas. Tangan besarnya sebentar terlepas dari senar yang sedari tadi ia petik, tergerak menyentuh selembar kertas hijau yang tersodor padanya, mendorong kembali ke tangan lelaki tua di depannya. Mempertahankan senyumannya yang sangat lembut seperti tak ada beban.

“Maaf pak, tapi aku bukan pengemis,” pria tampan yang masih setia dengan gitar di pangkuannya itu berkata sopan. Ia tidak lagi tersinggung dengan kejadian seperti ini. Memang selama ini ia selalu memainkan gitar dan bernyanyi di bangku taman kota setiap harinya. Seperti menunggu, tapi tak ada siapapun yang akan datang. Seperti mengharapkan sesuatu, tapi pada akhirnya hanya kehampaan yang akan ia terima. Semu dan dia hanya mengikuti takdirnya. Berharap takdir dapat mengembalikan masa lalu itu.

“Jadi apa yang kau lakukan dengan bernyanyi di sini setiap harinya tanpa lelah? Aku pikir itu pekerjaanmu,” Wajar jika semua yang melihat pria tampan itu bermain gitar beranggapan bahwa dia adalah pengemis yang mencari uang dengan suara emas dan petikkan gitarnya yang lihai. Tapi, percayalah – ia hanyalah seorang pria yang sedang patah hati.

Berharap lubang di hatinya kembali tertutup.

Walaupun hanya oleh nyanyian dan sebuah harapan semu.

“Tidak, pak. Aku hanya seorang lelaki bodoh yang sedang patah hati,” Pria tampan itu tersenyum. Tapi kali ini terlihat sangat rapuh, perlahan hal yang semula tak di ketahui itu terbuka tanpa ia sadari. Menunjukkan sisinya yang lain.
Seorang pria tentunya dapat patah hati.

“Bersabarlah. Aku yakin jika Tuhan akan segera memberikanmu seorang wanita yang lebih baik lagi,” Lelaki tua itu menepuk bahu pria tampan yang menunduk semakin dalam, memegang kepala gitarnya dengan begitu erat, seakan bertumpu disana.

Tidak. Tidak ada yang lebih baik lagi.

Tidak ada. Karena hanya satu orang wanita yang terbaik di dalam hidupnya. Seorang wanita yang kini telah pergi jauh.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu… ehmm…” wajah tampan pria itu kembali terdongak. Ia mengangguk pelan sembari memegang kepala gitarnya dengan erat.

“Park Chanyeol. Namaku Park Chanyeol, pak.”

Semilir angin berhembus pelan, beberapa kelopak bunga dan daun-daun berguguran dari atas pohon yang begitu rindang. Lagi-lagi di bangku taman kota itu terlihat seorang pria tampan di tempatnya yang seperti biasa. Seakan-akan tempat itu sudah ia klaim sebagai miliknya. Hanya karna bangku itu selalu diisi olehnya. Sendiri, seperti hidupnya. Hampa, seperti relungnya dan dingin seperti hatinya.

Tidak ada yang berubah. Kaki panjang itu saling berlipat dan menumpukan sebuah gitar berwarna coklat kayu di atas pahanya. Jemari panjangnya menyentuh senar dan mulai memetiknya dengan lembut, seperti hatinya yang rapuh. Nada-nada keluar begitu saja menemani musim gugur di siang hari ini. Irama dan lirik dari bibir tebal itu mengalun begitu indah. Menghipnotis lagi dan lagi setiap pejalan kaki yang lewat di depannya. Decakan kagum terdengar ketika melihat pria tampan itu bernyanyi setulus hati. Memperlihatkan sesuatu kelebihannya, menyembunyikan kekurangannya yang begitu menyesakkan.

Tak ada yang lebih buruk dari patah hati.

Suara bass itu mengalun merdu menembus semua pasang telinga yang mendengar, tanpa sadar semua orang perlahan berkumpul seperti saling mengerubungi pria tampan itu, tapi pria itu tetap terlarut dalam memorinya, dalam dunianya dan dalam nadanya.

‘Oppa, aku mencintaimu’ Suara lembut itu terngiang kembali tanpa sadar di benaknya yang mulai mengikuti semua suasana yang tercipta dari alunan musik yang terdengar, menyatu dengan pikirannya hingga menimbulkan sebuah senyum samar di bibir tebal itu.

‘Oppa, aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. Aku ingin meminta satu hal-‘ Semuanya masuk ke dalam saraf otaknya dan mengulang kembali kata-kata menyesakkan itu dengan begitu kentara. Jemari yang semula memetik gitar penuh keteguhan itu perlahan menjadi goyah dan melemah, gemetar dengan rasa sesak di paru-parunya yang terasa menyempit. Menghimpitnya begitu keras, menumbuk ulu hatinya dan membuat kepalanya menjadi berat.

‘-Nyanyikan sebuah lagu di tempat kencan pertama kita. Karena aku akan berada di dekatmu saat kau menyanyikan lagu itu’ tidak hanya petikan jemarinya yang melemah, tapi suara bass itu semakin bergetar hampir hilang di kerongkongannya yang tercekat. Memaksa menelan semua lirik sendu yang sudah ia hafal di luar kepala.

‘Tapi, jangan pernah menangisiku karna aku telah tiada, Oppa. Jadikanlah sebuah nyanyian dari petikan gitarmu itu adalah aku yang selalu berada di sampingmu’ suara yang begitu ia rindukan, kalimat yang begitu ia ingat kembali berputar di otaknya. Perlahan senyum lirihnya berubah menjadi tulus. Dan mata besarnya yang semula tertutup kembali terbuka dengan hati-hati. Menampakkan semua pasang mata yang tertuju padanya, mengerubuninya dan memberikan tepukan kecil untuk sekedar penghargaan akan penampilannya barusan.

Bibirnya melengkung sedikit lebar. Membungkukkan badan dengan hormat sebagai pembalasan, kepala gitarnya ia cengkram menggunakan sebelah tangan kanannya. Dan setelah itu orang-orang yang semula berkumpul di sekelilingnya bubar kembali untuk melakukan aktifitas masing-masing.

Pria tampan itu menyandarkan punggung tegapnya di bangku berwarna putih gading itu, meletakkan gitarnya di samping tubuhnya. Menikmati belaian angin musim gugur yang menyapa setiap lekuk tajam wajahnya.

Kenangan-kenangan itu kembali datang menghantui pikirannya, berkelebat tanpa izin hingga membuat dadanya naik turun karna rasa sesak dan rindu itu sekaligus. Bayangan saat seorang gadis cantik bergelayut di lengannya dengan rengekan agar ia mau menyanyikan sebuah lagu di kencan pertama mereka, tepatnya di taman ini. Ia yang awalnya tak mau dan terlalu malu untuk mengeluarkan suaranya menjadi menyerah ketika pacar kesayangannya itu merajuk. Dan akhirnya ia menyanyikan sebuah lagu disini. Lagu mereka berdua tentang cinta sejati.

Pria tampan itu tersadar, mata besarnya berpendar sedih sambil menatap bangku di sisinya yang kosong. Tak ada lagi gadisnya duduk di sana dengan rengekan dan tingkahnya yang manja. Hanya ada gitarnya yang menggantikan posisi dimana harusnya gadisnya berada.
Ia menghembuskan nafas berat, menundukkan kepalanya untuk sekedar menutupi lubang di hatinya yang seakan tak pernah bisa tertutupi oleh apapun. Seakan mendorongnya masuk ke dalam lubang kelam itu, tak membiarkannya untuk bangkit sedikitpun.

‘Percayalah Oppa. Suatu saat nanti ‘aku’ akan kembali lagi. Cinta sejati ku akan kembali ke tanganmu. Walaupun itu harus digantikan oleh sosok yang lain’
Perlahan bibir tebal itu mengulas senyum samar ketika perkataan gadisnya kembali terngiang. Tapi, bukan kelegaan yang ia dapat, melainkan rasa sesak karna hal itu terasa mustahil untuk terjadi. Tidak semudah itu untuk mendapatkan kembali sebuah cinta sejati.Tidak. Rasa nya tidak akan pernah ia dapatkan lagi. Karna jika sudah hilang sekali, maka tidak akan ada yang kedua kali.

Tangan besar itu tergerak mengambil gitarnya yang terletak di sebelahnya, kembali meletakkannya di atas pahanya. Jemari panjang itu sudah berada di senar bening itu. Memetiknya perlahan penuh perasaan. Hingga alunan nada kembali keluar dari bibirnya.
Kini suasana taman terlihat sepi. Angin yang semula bergerak pelan menjadi menggebu dengan kencang, dedaunan melambai dengan begitu lincah mengikuti hembusan angin, kelopak bunga dan dedaunan kering bejatuhan dari atas pohon dengan gerakkan yang pelan. Tapi, pria tampan itu masih betah di tempatnya, Kembali menyelami nada yang ia ciptakan. Berusaha merasakan kehadiran gadisnya yang telah pergi jauh. Meresapinya dengan begitu dalam, menimbulkan sepercik kehangatan dan kehampaan secara bersamaan. Menyesakkan tapi terasa sedikit lebih baik.

Awan mendung mulai bergelayut dan rintik demi rintik air dari atas mulai jatuh, membasahi beberapa tanaman hingga jatuh ke tanah. Membasahi tubuh seorang pria yang masih tak mempedulikan suasana. Terlalu mendalami nada sendunya.

Tapi lama kelamaan air yang turun semakin membabi buta. Entah apa yang ia pikirkan, tapi pria tampan itu masih terlarut dalam liriknya, bibir tebalnya bergetar mengucapkan beberapa patah kata dari lirik yang ia hafal. Jemarinya masih bergerak lincah memetik senar walau bunyinya telah teredam oleh suara hujan yang turun semakin deras. Tapi ia masih saja bernyanyi, tidak mengenal suasana yang semakin tidak bersahabat.
Bernyanyi dengan nada sendu.
Bernyanyi dengan suara yang lirih.
Bernyanyi dengan satu lelehan air mata di kedua mata besarnya yang terpejam. Mengeluarkan semua perasaan sesak yang selama ini ia pendam. Saat ini ia tidak bisa menahannya lagi, hujan seakan membujuknya untuk menangis sekaligus berusaha menyembunyikan tangisannya diantara aliran air hujan yang membasahi wajahnya.
Tidak. Dia tidak menangis. Hanya saja ia sedang menemaniturun nya air hujan.
Dia hanya-

Rintikkan hujan di atas kepalanya menjadi terhenti, pria tampan itu mengerinyit di sela matanya yang tertutup dan alunan musik yang lirih. Perlahan ia membuka mata besarnya, mendongak mendapati sebuah payung di atas kepalanya dengan seorang gadis yang berdiri di depannya, memegangi payung putih transparan itu. Hanya saja kepala gadis itu tertunduk, terlihat kikuk.

“Maaf, aku hanya tidak mau melihatmu bernyanyi di bawah hujan. Sangat sayang jika suaramu dan petikkan gitarmu teredam karna bunyi air hujan yang turun,” gadis itu bergumam dengan takut-takut. Tapi perlahan ia mengangkat kepalanya. Menampakkan wajahnya yang rupawan.

Matanya tidak terlalu sipit, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya tipis bewarna semerah darah, rambutnya hitam panjang bergelombang dengan lilitan syal tebal di lehernya.Terlihat menggemaskan sekaligus membuat jantung pria tampan itu berdebar tanpa karuan.
Tidak. Bukan tanpa alasan jantungnya bisa berdetak secepat ini.
-Menangis.

Ya, pria tampan itu megeluarkan air matanya, mengalir membasahi pipinya.
Tangannya bergetar meletakkan gitarnya secara acak di sebelahnya.

“Yun Baek Ji” Sepenggal nama keluar dengan bergetar dari bibirnya yang memucat, tangannya terangkat menyentuh pipi gadis yang dengan senang hati masih memegangi sebuah payung untuk melindungi tubuhnya yang basah. Gadis itu terlihat tampak sedikit tersentak, tapi tak di pungkiri rona merah mencuat di pipi berisinya ketika merasakan tangan besar pria tampan itu mengelus lembut pipinya.

“Namaku Jeon Nara” Gadis itu mengklarifikasi nama yang baru saja di sebutkan oleh pria tampan itu. Tapi pria itu seakan tak peduli dengan siapapun nama gadis itu, bibirnya mengembangkan senyum yang tak pernah terlihat lagi sejak beberapa lama. Membuat gadis itu terpesona untuk sesaat. Senyuman itu terlihat tulus dan rapuh secara bersamaan, tapi ada satu harapan tinggi di ujung bibir yang menukik itu.
Kau benar, Baek Ji. Kau kembali lagi. Tidak. Kau tidak kembali dalam sosok yang berbeda. Kau kembali dalam sosok yang sama. Semua yang di miliki gadis ini persis sepertimu. Kalian begitu mirip dan mempesona.
Tapi-

“Namaku Park Chanyeol,”
-Gadis ini membuatku berdebar sangat cepat. Lebih cepat dari apa yang selama ini ku bayangkan saat bertemu dengan cinta sejati yang selalu aku anggap mustahil setelah kepergianmu.
Gadis ini seperti malaikat yang menggantikan tugasmu, Yun Baek Ji.
Malaikat yang menjaga hatiku setelah kepergianmu.
Malaikat yang membuatku-
-jatuh cinta kembali.

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu