Antarafoto – Presiden Jokowi menyampaikan pidato laporan kinerja lembaga negara di depan Sidang Tahunan MPR RI.

Elit-elit politik dan Pemerintahan bereaksi sinis terhadap pidato Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam Sidang Tahunan MPR, Kamis (16/8/2018). Para menteri Kabinet Kerja seperti Sri Mulyani dan para elit politik seperti Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy menanggapi pidato Ketua Umum PAN tersebut sebagai hal yang keliru dan berbau politis.

Reaksi keras tersebut membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh Zulkifli Hasan itu sesungguhnya merupakan ‘tamparan’ untuk Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi yang akhir-akhir ini sedang menjadi kontroversi akibat aksi stuntman di Pembukaan Asian Games 2018.

Reaksi ‘lebay‘ para menteri Kabinet Kerja dan elit politik yang berpihak ke Presiden Jokowi itu patut disayangkan. Sebab, tiga tantangan perekonomian nasional yang membutuhkan terobosan kebijakan dari Pemerintah yang disampaikan oleh Ketua MPR RI seyogianya menjadi barometer bagi Presiden Jokowi dan kabinetnya untuk memperbaiki kinerja, bukan untuk dijawab dengan mencari-cari pembenaran.

Persoalan kesenjangan ekonomi, tergerusnya daya beli rakyat, masalah stabilitas dan defisit transaksi berjalan serta pengelolaan utang adalah persoalan-persoalan fundamental yang memang harus dipecahkan dan segera diatasi bila Republik Indonesia ingin tetap tegak berdiri dengan kokoh di usianya yang ke-73 tahun ini.

Selaku Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan tentu tidak akan sembarang dalam menghimpun data. Bahkan apa yang disampaikan oleh Zulkifli sebenarnya telah banyak disampaikan oleh pengamat ekonomi, tokoh politik dan para aktifis yang memiliki kepedulian tinggi serta kecintaan yang besar terhadap tanah air Indonesia.

Juga tidak tepat mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Zulkifli Hasan sebagai hal yang tidak etis, berbau kampanye dan bercita rasa oposan. Sebab, bila pidatonya didengarkan secara utuh, pada konteks Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, Zulkifli justru mengajak para peserta sidang dan rakyat Indonesia untuk bersama-sama mewujudkan Pemilu yang berkualitas, jauh dari polusi kebencian.

Dengan pidatonya itu, Zulkifli justru menunjukkan sikap sebagai seorang negarawan. Ia mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Pemerintah dalam mengatasi dan menangani korban bencana beserta dampak yang ditimbulkan. Ia mengajak agar Asian Games 2018 menjadi ajang peningkatan prestasi olahraga, promosi, sekaligus diplomasi Indonesia kepada dunia internasional.

Diantara pidato itu, salah satu poin pentingnya adalah Ketua MPR RI mengajak agar para peserta sidang dan untuk membuka kembali kisah keteladanan para pendiri bangsa bahwa memimpin adalah mengabdi, bukan sekedar jalan mencari kuasa. Atau seperti prinsip yang selalu diajarkan KH Agus Salim: Leiden is Liijden, memimpin adalah jalan menderita.

Ke depan, kita mengajak agar bukan hanya calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi dalam Pilpres, namun seluruh elit politik yang ikut serta dalam Pemilu 2019 agar hendaknya dapat mengaplikasikan kepemimpinan sebagai jalan untuk menderita tersebut.

Cukup sudah gaya-gayaan melalui pencitraan yang berlebihan di layar kaca.

Indonesia membutuhkan energi yang besar untuk mengatasi ketimpangan sosial, terpuruknya daya beli rakyat, bencana demi bencana serta utang luar negeri yang begitu tinggi. Siapapun yang memimpin Indonesia ke depan, ia harus rela menderita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa kita yang kian mengkhawatirkan.