PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu kembali menerima pengembalian uang dari Yoga Syahputra, salah satu terdakwa kasus dugaan korupsi PT. Bengkulu Mandiri (BM), Senin (20/8/2018).

Kepala Kejari Bengkulu, Emilwan, mengatakan, jumlah kerugian negara yang dikembalikan oleh terdakwa Yoga Syahputra yang merupakan mantan Direktur CV Kinal Jaya sebesar 420 juta rupiah sekaligus pembayaran kerugian negara yang terakhir.

“Sebelumnya 3 terdakwa telah melakukan penyelesaian pengembalian uang kerugian negara pada tanggal 16 Mei 2017 200 juta rupiah, pada tanggal 30 Juli 2018 sebesar 200 juta rupiah dan terakhir tanggal 20 Agustus 2018 sebesar 420 juta rupiah. Total kerugian negara yang sudah dikembalikan sebesar 820 juta rupiah sesuai dengan kerugian yang dialami negara,” ujar Emilwan.

Dijelaskan Emilwan, pengembalian uang kerugian negara yang dilakukan oleh terdakwa akan menjadi pertimbangan Kejari dalam penuntutan perkara tersebut. Proses pemeriksaan perkara tersebut telah selesai dan telah masuk dalam proses penuntutan pidana yang dijadwalkan besok.

“Uang yang telah dikembalikan ini akan langsung dikirimkan ke rekening bank mandiri atas nama Kejaksaan Negeri Bengkulu tanpa bunga, ini masih bersifat titipan. Setelah kasus tersebut putus kita langsung serahkan ke khas negara,” kata Emilwan.

Tambah Emilwan, sebelumnya terdakwa Yoga menjaminkan sertifikat rumah miliknya dengan luas 173 meter persegi. Namun sertifikat tersebut di ambil oleh pihak keluarga yang kemudian di ganti dengan uang yang sudah di setorkan tersebut.

“Sertifikat sudah di ambil oleh keluarga terdakwa Yoga, dan di ganti uang, tadi uang ini diantar langsung oleh istri dari terdakwa Yoga,” tandasnya.

Diketahui, penyidikan kasus dugaan korupsi penyertaan modal dari dana APBD Provinsi tahun 2006-2007 sebesar Rp28 miliar kepada PT. BM mulai diusut Kejari Bengkulu tahun 2014.

Aliran dana Rp 28 miliar diterima PT BM sebanyak dua tahap. Tahap pertama tahun 2006 sebesar Rp 2,5 miliar. Tahap kedua Rp25,5 miliar.

Dana penyertaan modal tersebut diketahui digunakan untuk kerjasama dengan pihak ketiga, salah satu dengan CV. Kinal Jaya Putra yang bergerak di bidang pemecah batu sebesar Rp1 miliar.

Kasus tersebut melibatkan 3 orang diantaranya, Hamdan Yakub mantan Direktur Operasional PT BM, HM Jamil mantan Direktur PT BM senilai, dan Yoga Syaputra mantan Direktur CV Kinal Jaya.

Dalam kasus tersebut, terdakwa dijerat Pasal 2 dan 3 junto 55 undang undang nomor 20 tahun 2021 tentang tindak pidana korupsi. [Ardiyanto]