Bung Karno saat berada di Moscow. [Foto patinantique.blogspot.com]
Pada tahun 1956, berkisar 28 Agustus – 12 September Bung Karno melakukan kunjungan ke Rusia. Jelas kunjungan tersebut ke Negeri Tirai Besi tersebut sangat membekas dan terkenang.

Diceritakan Roso Daras lewat tulisannya, kala itu Bung Karno dan rombongan sudah tiba di Kota Swerdlovsk. Salah satu pusat industry paling besar di Uni Soviet. Bung Karno dan rombongan mengunjungi pabrik Uralmasj Sergo Ordjonikidze di mana pembuatan mesin-mesin berat.

Pabrik raksasa itu membuat peralatan bagi industri logam dan pertambangan untuk seluruh negeri Soviet dan juga untuk diekspor. Pabrik itu adalah lambang berkembangnya industri ural, atau salah satu basis industri biji besi di negara itu.

Apalagi kalau diingat bahwa sejarahnya, kurang lebih seperempat abad yang lalu, hanya hutan dan rawa saja yang terdapat di situ.

Di Pabrik Uralmasj terdapat mesin-mesin besar, serta dapur yang melelehkan baja yang menyala-nyala. Bising palu uap yang mengetok-ngetok memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan.

Tamu-tamu berhenti melihat mesin penekan (press) yang besar yang kekuatan tekanannya sampai 10.000 ton. Mesin itu mengolah potongan logam yang 160 ton beratnya. Presiden Sukarno bercakap-cakap dengan seorang buruh yang terkemuka di pabrik itu, bernama Yakov Lipin.

“Kalau perlu buat Indonesia,” demikian Yakov Lipin, “sudilah kiranya kirim buruh Indonesia ke pabrik kami ini. Kami sedia menyampaikan kami punya pengalaman kepada mereka”.

Bung Karno tersenyum dan membalas tawaran baik Lipin, “Baik, kalau mungkin nanti kami kirim.”

Rombongan Presiden diantar oleh seorang tukang palu yang terkenal Timofei Oleinik yang memberi penjelasan-penjelasan. Di salah satu tempat dia mengatakan, “Di bagian pabrik yang kami lewat ini dibuat peralatan bagi mesin walz yang dipesan oleh India”.

Setelah cukup meninjau pabrik peleburan besi terbesar itu, Bung Karno dan rombongan pun berpamitan. Tak disangka, baru saja tamu-tamu meninggalkan lokasi pabrik “Uralmasj” tampak beribu-ribu penduduk dari kampung buruh “Uralmasj” berkumpul di Lapangan “Plan Lima Tahunan Pertama”, yang letaknya di muka pabrik “Uralmasj”. Mereka pun mendaulat Bung Karno untuk berpidato.

Dalam pidatonya di rapat raksasa itu Presiden Sukarno mengatakan: “Di dalam Uralmasj ini saya melihat mesin-mesin, melihat alat-alat, melihat segala macam mesin-mesin yang diperlukan untuk industri. Mesin-mesin seperti itu pernah dipergunakan oleh bangsa lain untuk menindas rakyat kita, menghisap kita. Itu terjadi karena stelsel, sistemnya masyarakat di negeri yang menjajah kami itu adalah salah. Tetapi mesin-mesin yang ada di ‘Uralmasj’ bukan untuk menghisap manusia, bukan untuk menindas bangsa-bangsa lain. Mesin-mesin itu diperuntukkan buat membawa kesejahteraan dan kemakmuran untuk segala bangsa di Uni Soviet dan bahkan untuk menyumbang kepada kemakmuran dan kesejahteraan bangsa-bangsa lain.”

Di Swerdlovsk tamu-tamu melihat museum geologi di mana distelongkan beribu-ribu macam batu yang terdapat di dalam bumi Ural yang kaya itu. Secara meriah utusan-utusan Indonesia disambut oleh pelajar-pelajar sekolah di Istana Pionir Swerdlovsk.
Sesudah melihat kamar-kamar yang terang dan besar di mana terdapat segala apa saja untuk mengembangkan bakat angkatan muda Soviet, maka Presiden Sukarno mengatakan, “Anak-anak berbahagia di sini”.

Saat menulis kesan, Presiden Sukarno pernah menulis bahwa beliau ingin membangun istana-istana seperti di Swerdlovsk itu bagi anak-anak di Indonesia. Kesan itu ditandatangani Bung Karno. Tak lupa, murid-murid sekolah Soviet minta sampaikan salamnya yang hangat kepada anak-anak di Indonesia. [Eva De]