Bung Karno saat berada di Moscow. [Foto patinantique.blogspot.com]
Presiden Sukarno (dan rombongan) ke Moskow, Uni Soviet, tahun 1956. Kunjungan Bung Karno tersebut antara tanggal 28 Agustus – 12 September 1956 dan itu menjadi kunjungan yang sangat membekas bagi kedua bangsa.

Roso Daras dalam tulisannya menceritakan bahwa perjalanan berkeliling negara yang sangat besar itu, baru dimulai tanggal 31 Agustus malam waktu utusan-utusan Indonesia berangkat dari Moskow ke Leningrad dengan naik kereta api.

Pada kisah terdahulu, tergambar betapa besar pengaruh Bung Karno di negara itu. Bahkan dalam rapat akbar, puluhan ribu rakyat memadati stadion tempat acara itu digelar. Dengan pidato yang berapi-api, tak lupa, Bung Karno membakar semangat massa dengan mengajak meneriakkan pekik ‘MER-DE-KA”. Lima kali bilangannya.

Tamu-tamu Indonesia tinggal di Leningrad selama dua hari. Tempat lain yang dikunjungi adalah pabrik pembuat alat-alat turbin air dan uap untuk pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Berikutnya, mengunjungi museum Ermitas yang kesohor, di mana diperlihatkan budaya adiluhung, tidak saja budaya Soviet, tetapi juga dari manca negara.

Museum itu terletak di bangunan tua yang disebut Petrodvorets. Bangunan yang dibangun tahun 1711 oleh Peter Agung atau Pyotr Alexeyevich (1672 – 1725), yang terkenal. Bangunan yang berada di kota St Petersburg itu, sangat megah dan indah, dengan pancaran airnya yang terletak di Park Bawahan.

“Di sini sejarahlah yang nampak di mana-mana,” demikian utusan-utusan bangsa Indonesia berkata waktu melewati jalanan-jalanan Leningrad yang datar dan indah.
Rombongan Bung Karno terkagum melihat kompleks gedung-gedung di Leningrad yang dari sudut seni bangunanya tiada bandingannya. Nama St Petersbug dan Leningrad, ada sejarahnya sendiri. Dua nama ini sejatinya menunjuk lokasi yang sama. Awalnya disebut St Petersbug, kali lain diganti menjadi Leningrad, dan kembali lagi ke St Petersbug.

Di St Petersbug atau Leningrad, Bung Karno dan rombongan melihat jalanan Nowski, Lapangan Senat, Sungai Newa, dan lain-lain. Yang tak kalah mengesankan adalah kunjungan ke Smolni yaitu pusatnya Revolusi Oktober tahun 1917.

Revolusi Rusia pada tahun 1917 dipicu oleh kombinasi keruntuhan ekonomi, perang saudara, dan ketidak-puasan terhadap sistem pemerintahan otokratis. Bersatunya kaum liberal dan moderat sosialis, berhasil merebut kekuasaan dari dominasi kekaisaran pada revolusi yang pertama, Februari 1917.

Akan tetapi tidak lama, terjadi perebutan kekuasaan oleh komunis Bolshevik pada 25 Oktober 1917. Dukungan kaum buruh makin memudahkan kaum komunis Bolshevik menggulingkan Tsar dan mengakhiri sistem monarki yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Revolusi Rusia 1917, juga bisa disebut sebagai tonggak berdirinya Uni Soviet.

Karena itulah, Bung Karno tidak henti-henti menyebut kota St Petersbug atau Leningrad sebagai kota yang sangat bersejarah. Tidak heran jika Bung Karno dan rombongan relatif lebih lama tinggal di kota ini dibanding kota-kota lain yang dikunjunginya.

Di kota itu, tepatnya di stadion S.M. Kirov tamu-tamu dengan penuh perhatian menonton pertandingan sepakbola antara kesebelasan Leningrad dan kesebelasan Indonesia.

Dalam perjalanan lanjutan berkeliling Soviet, maka pada tanggal 2 September 1956 utusan-utusan dari Indonesia sampai di salah satu kota yang letaknya lebih dari 2.000 km sebelah timur dari Leningrad yaitu kota Swerdlovsk. [Eva De]