Menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia (versi BPS/pemerintah), misalnya selama kurun waktu 2007 ke 2009, disebabkan beberapa faktor kunci.

Seberapa jauh faktor itu berperan?

Kemudian strategi apa yang dilakukan dalam rangka memaksimalkan faktor kunci itu terhadap upaya pengentasan kemiskinan (poverty reduction)? Berikut penjelasannya.

  • Stabilitas Inflasi dan Harga Pangan

Inflasi yang relatif stabil, khususnya rata-rata harga beras nasional (yang merupakan komoditi paling penting bagi penduduk miskin) lebih rendah dari laju inflasi umum, serta rata-rata upah riil harian buruh tani dan buruh bangunan naik, merupakan faktor pertama yang membantu menurunkan kemiskinan di Indonesia.

Namun begitu, gejolak eksternal seperti harga pangan (naiknya harga beras) sangat riskan menimbulkan efek bertambahnya kembali penduduk miskin. Harga beras di sini sangat berperan dalam mempengaruhi kondisi kehidupan kelompok miskin, di mana sekitar 60 – 65 persen pengeluaran makanan kelompok miskin berasal dari beras. Gejolak harga pangan yang cukup besar dapat menyebabkan peningkatan angka kemiskinan, bahkan pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Meskipun begitu, inflasi masih lebih dianggap sebagai masalah umum semata dan jarang dikaitkan dengan faktor pemicu kemiskinan. Padahal, sebagaimana telah terbukti dalam masa pasca-krisis khususnya pada periode 1999-2004 – saat laju pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 3-4% per tahun –penurunan tingkat kemiskinan sebesar 8 poin persentase, dari 24% (1999) menjadi 16% (2004), lebih disebabkan karena tingkat inflasi yang berhasil dikendalikan terutama harga kelompok barang yang sensitif terhadap keranjang (bundle) konsumsi rumah tangga miskin seperti beras.

Pertumbuhan Ekonomi (Necessary but not sufficient; Eksklusif Versus Inklusif)
Pertumbuhan ekonomi masih merupakan determinan penting yang diyakini dapat membantu mengurangi kemiskinan. Studi Siregar dan Wahyuniarti (2007) menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan dalam mengurangi kemiskinan, namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar.

Permasalahan kemiskinan tidak dapat dipecahkan hanya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi semata dengan mengharapkan terjadinya efek menetes ke bawah (trickle down effect).Pertumbuhan ekonomi memang merupakan syarat keharusan (necessary condition) untuk mengurangi kemiskinan, tetapi itu belum cukup. Syarat kecukupannya (sufficient condition) ialah, misalnya: laju inflasi serta laju populasi penduduk yang terkendali; industrialisasi pertanian/perdesaan yang tepat; akumulasi modal manusia yang relatif cepat, harus dipenuhi pula.

  • Pemenuhan Akses Kebutuhan Dasar

Pemenuhan akses kebutuhan dasar merupakan faktor utama yang membantu penduduk miskin keluar dari jebakan kemiskinan. Akses seperti sanitasi, air bersih, listrik, jalan, dan pendidikan adalah beberapa indikator dari kebutuhan dasar, yang selama ini memang menjadi tolak ukur kemiskinan multidimensional. Penelitian Sida (1996) menunjukkan tingginya korelasi kemiskinan dengan kurangnya akses orang miskin terhadap pelbagai pelayanan dasar hidup seperti kondisi sanitasi, akses air bersih, kesehatan, transportasi, dan pendidikan.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki ciri keragaman antar daerah yang kompleks di mana kebanyakan dicerminkan oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan, yang pada akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam pencapaian indikator pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat layanan yang mengoptimalkan akses kebutuhan dasar yang bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam menangani masalah kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.

  • Jaring Pengaman Sosial Bagi Rumah Tangga Miskin

Pemerintah kini telah melakukan berbagai program yang ditujukan untuk memprioritaskan bantuan bagi yang termiskin dari kaum miskin dan kelompok-kelompok yang sangat terpinggirkan. Program tersebut terangkum dengan nama Jaring Pengaman Nasional (JPS).

JPS berfungsi melindungi mata pencaharian kaum miskin dan mendekati miskin, meneruskan usaha pengentasan kemiskinan bila terjadi goncangan ekonomi maupun bencana alam, dan membantu antar generasi untuk keluar dari jurang kemiskinan serta meningkatkan peran mereka di dalam pergerakan sosial. Program JPS sudah diluncurkan pada pertengahan 1998 untuk mengurangi dampak sosial dari krisis dan sekarang menjadi program besar pengurangan kemiskinan di negara. [Mey Borjun]