Bicara soal remis mungkin masih terbilang asing di telinga. Di Seluma kami menyebutnya Beremis. Remis mirip dengan kerang dan lokan namun ukurannya terbilang mungil hanya sebesar kuku tangan orang dewasa. Remis sendiri adalah salah satu jenis kerang kecil yang hidup di perairan.

Di Seluma remis diolah sedemikian rupa hingga menjadi makanan khas yang lezat. Remis digemari karena bentuknya yang imut dan rasanya yang lezat. Olahan remis tersedia di beberapa rumah makan yang ada di Seluma, tepatnya di kota Tais. Harga setiap porsinya pun sangat terjangkau, hanya Rp 15.000 – 20.000 per porsi. Remis biasanya di jadikan sebagai lauk bersamaan dengan nasi, ada juga yang menyantapnya tanpa nasi.

Masyarakat Seluma biasa berburu remis di tepi pantai. Dengan modal arit (masyarakat Seluma menyebutnya sengkuit runcing) sebagai alat pencari remis dan sandangan (penampung remis yang ditangkap). Mancari remis cukup dengan menggesekkan arit ke genangan pasir di tepi pantai atau seperti orang merumput. Nah, jika remis ditemukan maka akan ada suara hentakkan antara arit dan cangkang remis. Tangan kanan digunakan untuk menggerakkan arit sementara tangan kiri mengumpulkan remis yang didapat.

Mengolah beremis sangatlah mudah, tidak memerlukan banyak rempah seperti kuliner lainnya. Cukup dengan rempah-rempah tradisional seperti bawang putih, bawang merah, lengkuas, kunyit yang telah dihaluskan, dan tambahkan irisan cabe merah. Remis biasa dimasak bersamaan dengan tebu telur dan daun katu, nah agar lebih gurih maka akan ditambahkan santan kelapa sebagai kuahnya.

Namun, ada juga masyarakat menyajikan remis yang hanya direbus dengan ditambahkan sedikit garam dan daun jembak sebagai lauk makan pendamping nasi. Ada yang bilang daging remis sedikit anyir jadi untuk menangkalinya cukup tambahkan dua lembar daun salam pada olahan remis.

Resmi Hartati, Komunitas Menulis Bengkulu