Jerawat merupakan masalah kulit yang rasanya tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Ini karena sebagian besar orang pernah mengalami dan merasa sangat terganggu karenanya.

Melansir KlikDokter, penyebab pasti jerawat masih belum diketahui pasti. Namun demikian, keluhan ini diduga memiliki beberapa faktor pencetus, seperti:

– Stres
– Gejolak hormon
– Kelenjar minyak yang terlalu aktif
– Genetik alias keturunan
– Bakteri di pori-pori kulit

Jerawat tak bisa dianggap sepele, karena bisa meninggalkan bekas luka yang menetap. Bahkan, jerawat bisa datang kembali meski sudah berusaha untuk mengusirnya.

Jerawat dapat timbul kembali jika faktor-faktor penyebab tidak dikontrol dengan baik. Selain pengobatannya memang membutuhkan kesabaran, juga memerlukan pengendalian dari pola makan, kebiasaan membersihkan wajah, pengendalian stres dan sebagainya.

Berita baiknya, para ilmuwan saat ini sedang mengembangkan vaksin jerawat untuk mencegah terjadinya keluhan menyebalkan ini.

Sebuah studi membeberkan bahwa vaksin untuk mengatasi jerawat hampir ditemukan. Lewat makalah yang diterbitkan oleh Journal of Investigative Dermatology, tim ilmuwan mendemonstrasikan bagaimana jenis sel yang diproduksi tubuh berespons terhadap racun yang disekresikan oleh bakteri pada kulit.

“Setelah divalidasi oleh uji klinis skala besar, dampak potensial dari temuan kami sangat besar bagi ratusan juta orang yang menderita acne vulgaris (jerawat),” ujar peneliti dari University of California, Chun-Ming Huang.

Peneliti yang terlibat mengaku bahwa vaksin jerawat yang sedang mereka kembangkan bisa memberantas bakteri Propionibacterium acnes hingga ke akar. Para peneliti pun telah berhasil menunjukkan bagaimana peradangan yang disebabkan oleh bakteri tersebut dapat dikurangi, baik pada percobaan menggunakan tikus maupun sel kulit manusia.

Belakangan, hasil percobaan baru kembali menunjukkan bahwa vaksin tersebut terlihat begitu menjanjikan sebagai solusi terbaik mengatasi jerawat. Bahkan, para peneliti juga yakin bahwa vaksin ini memiliki peran yang penting dalam menjaga keseimbangan antara semua bakteri di kulit.

Selama vaksinnya belum teruji secara keseluruhan, kelompok peneliti akan terus melakukan percobaan hingga benar-benar menemukan hasil final. Dengan demikian, ketika waktunya tiba, vaksin ini akan siap diedarkan dan digunakan oleh mereka yang membutuhkan.

Selagi vaksin jerawat terus diteliti hingga menemukan hasil yang pasti, keluhan kulit yang satu ini masih bisa diatasi dengan pengobatan yang sudah ada saat ini. Pada dasarnya, pengobatan jerawat adalah dengan mengurangi produksi minyak, melawan infeksi bakteri, mempercepat pergantian sel kulit, dan mengurangi peradangan.

Sebagian besar obat-obatan jerawat belum memberikan hasil dalam 4–6 minggu pertama. Pengobatan yang diberikan dapat termasuk pengobatan luar dan juga obat-obatan minum, tergantung derajat keparahan jerawat.

Lebih lanjut bahwa jerawat yang berukuran besar dan meradang dapat diberikan suntik kortikosteroid.

Semua terapi ini, tentu harus atas indikasi dan berada di bawah pengawasan dokter. Vaksin jerawat belum sepenuhnya “matang” sehingga masih harus menunggu dengan sabar untuk merasakan khasiatnya. Nah, bagi yang saat ini sedang jerawatan dan merasa sangat terganggu karenanya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter spesialis kulit agar keluhan bisa segera teratasi. [Ivana]