Wujud utama demokrasi Indonesia adalah pemilihan, adalah kotak suara. Mereka yang dapat memberikan suara ke kotak suara adalah warga negara Indonesia yang sudah memiliki satu suara disetiap pemilihan. Satu suara untuk Pemilu Legislatif tingkat Nasional. Satu suara untuk Pemilu Presiden. Satu suara untuk Pemilu Kepala Daerah.

Namun, di banyak pemilu, pengalaman Partai GERINDRA yang ikut pemilu sejak 2009, kita menemukan daftar pemilu tidak jelas. Kita menemukan banyak ‘hantu’ dalam daftar pemilih itu. Ada nama-nama yang 30 kali disebut, di TPS yang berbeda-beda. Mereka bisa memilih beberapa kali, apalagi tinta yang digunakan untuk mencegah hal ini kadang bisa dihapus.

Ada juga nama-nama orang meninggal masih dalam DPT. Ini tau semua, di Pemilukada DKI 2012, jumlahnya belasan ribu. Dipemilu 2014, jumlahnya jauh lebih besar. Bahkan ada lembaga riset yang mengatakan, potensinya sampai 20% jumlah pemilih.

Kadang Media Juga Bisa Dipesan

“Kita lihat sekarang, banyak sendi-sendi kehidupan bangsa kita, lembaga-lembaga negara kita, institusi-institusi yang penting untuk demokrasi kita, satu per satu tergoyahkan,” ungkap Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia.

Ada hal-hal yang sudah jelas di depan mata tidak benar dan tidak adil, tetapi sebagian elite pura-pura tidak tahu. Media Indonesia sekarang banyak dikuasai pemodal besar, sehingga banyak masalah-masalah bangsa yang disebabkan oleh ulah para pemodal besar yang tidak diliput, atau diliput dengan narasi yang jauh berbeda dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Ini berbahaya karena banyak masyarakat kita berharap kepada media untuk mendapatkan pencerahan, mendapatkan pengetahuan soal demokrasi Indonesia. Masyarakat kita berharap media netral, tidak berpihak selain kepentingan bangsa, tidak menjadi propogandis kepentingan tertentu.

“Saya angkat topi kepada media-media yang secara ekspilisit menyatakan keberpihakan kepada partai politik, atau kandidat tertentu dalam sebuah pemilihan, atau isu politik, atau kandidat tertentu dalam sebuah pemilihan, atau isu politik tertentu. Apalagi jika pernyataan keberpihakannya diulang terus-menerus, sehingga masyarakat dapat mengetahui berita yang diterbitkan berat sebelah. Jangan seolah tidak berpihak, seolah bisa dibeli, tetapi menjerumuskan,” katanya.

Rakyat Indonesia harus ingat, knowledge is power. Pengetahuan adalah kekuatan. Karena itu, media kerap kali dijadikan senjata. Sekarang sudah bisa buka dan baca, sebagian arsip rahasia negara-negara adidaya dari tahun 60an. Bisa dibaca, bagaimana mereka, dengan medua yang mereka kuasai, pernah memengaruhi pandangan masyarakat kita terhadap politik dalam negeri kita. Bukan tidak mungkin, apa yang pernah dilakukan dimasa lalu, terus berlanjut hingga sekarang.

Kadang Ada Kotak Suara Ajaib

“Saya tahu, Prabowo Subianto tidak disukai oleh banyak elite Indonesia, karena dia rodo-rodo boneka yang disampaikan masalah ini. Namun, saya ingat, saya tidak tahu kapan akan dipanggil Tuhan. Karena itu, sekalian saja, saya merasa harus singkap kepada rakyat apa yang menjadi kegelisahan saya.” tulis dalam buku Paradoks Indonesia.

Tidak perlu dipaparkan secara detail disini. Saudara bisa cek sendiri, bagaimana di Pemilihan Umum lalu, di Pemilu 2014, ada pihak-pihak yang bisa membuka kotak suara tanpa mengikuti proses. Jika berlangsung lagi, ini sangat berbahaya bagi kelangsungan demokrasi kita. [Mey Borjun]