Ilustrasi

Peringatan Hari Peduli Limfoma Sedunia jatuh pada hari Sabtu kemarin, 15 September.

Menurut data GLOBOCAN, di Indonesia, angka kasus baru kanker ini diprediksi akan mengalami peningkatan pada 2020. Dari berbagai jenis kanker, limfoma memang salah satu yang paling ganas dan mematikan.

Lymphoma atau Limfoma adalah kanker pada kelenjar getah bening (KGB). Tubuh terdiri atas beberapa KGB yang tersebar di beberapa lokasi, seperti leher, ketiak, lipat paha, tonsil, limpa, dan sumsum tulang. Untuk diketahui, KGB merupakan organ tubuh yang berfungsi menjaga daya tahan tubuh dan bereaksi terhadap adanya infeksi yang menyerang.

Terdapat dua jenis limfoma, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin.

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti limfoma. Akan tetapi, beberapa ahli telah menetapkan beberapa faktor risiko yang dapat memicu timbulnya limfoma pada seseorang, yaitu:

– Orang dengan gangguan daya tahan tubuh. Contoh: pengidap penyakit autoimun atau HIV/AIDS
– Mereka yang dalam pengobatan obat imunosupresan. Contoh: pasca transplantasi organ
– Terinfeksi virus Ebstein-Barr
– Riwayat keluarga dengan penyakit serupa
– Perokok aktif maupun pasif

Jika Anda termasuk orang yang berisiko terkena limfoma, sebaiknya lebih waspada. Periksakan diri segera, apalagi jika mengalami gejala limfoma.

Dikarenakan letaknya yang beragam, gejala yang ditimbulkan bergantung pada lokasi KGB yang terkena. Namun, berikut ini dilansir dari KlikDokter merupakan gejala yang timbul pada pengidap limfoma secara keseluruhan:

– Pembesaran KGB di leher, ketiak, atau di lipat paha
– Demam berkepanjangan tanpa sebab yang jelas
– Mudah lelah dan sering lemas
– Sesak napas tanpa sebab yang jelas
– Keringat berlebih pada malam hari
– Berat badan turun secara drastis tanpa sebab yang jelas
– Batuk terus-menerus tanpa sebab yang jelas
– Nyeri perut
– Kemerahan atau gatal di kulit

Limfoma Hodgkin maupun limfoma non-Hodgkin memiliki gejala yang hampir sama. Seorang dokter dapat mengetahui perbedaan keduanya dengan memeriksa sel-sel kanker di bawah mikroskop.

Limfoma Hodgkin dapat menyerang anak-anak hingga dewasa, sedangkan limfoma non-Hodgkin biasanya ditemui pada mereka yang berusia di atas 60 tahun. Keduanya paling sering dialami oleh pria dibandingkan wanita.

Serangkaian pemeriksaan harus dilakukan guna menegakkan diagnosis penyakit ini. Pertama-tama adalah wawancara medis mengenai keluhan dan adanya faktor risiko. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik di daerah KGB yang mengalami pembesaran dan juga pemeriksaan darah.

Biopsi sangat penting untuk memastikan jenis limfoma yang dialami. Pemeriksaan radiologi, seperti foto rontgen, USG, CT scan, MRI atau aspirasi sumsum tulang, dapat dilakukan untuk melihat adanya potensi penyebaran kanker.

Pengobatannya bergantung pada diagnosis limfoma yang ditegakkan. Baik limfoma Hodgkin ataupun non-Hodgkin pastinya memiliki penanganan yang berbeda.

Secara garis besar pengobatan limfoma meliputi tindakan kemoterapi dan radiasi layaknya pengobatan kanker. Selain itu, dapat dipertimbangkan pemberian imunoterapi, targeted therapy, atau transplantasi stem cell.

Pada dasarnya penyakit limfoma tidak dapat dicegah. Satu-satunya jalan adalah menghindari risiko penurunan daya tahan tubuh akibat penyakit HIV/AIDS. Karena itu, jauhilah gaya hidup berisiko seperti seks bebas dan penggunaan narkoba dengan jarum suntik.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai keluhan yang Anda alami terkait penyakit limfoma. Semakin cepat diketahui, maka semakin baik pula hasil pengobatan yang didapat. [Ivana]