Ketika sepuluh tahun sejak Bank Nasional didirikan, sejarahnya tahun itu bukanlah sejarah pergerakan kapital besar, melainkan terutama sejarah kemauan mau untuk maju. Timbulnya Bank Nasional di Bukittinggi adalah tindakan beberapa orang saudagar kecil. Dagangannya yang senantiasa menderita kesukaran karena kekurangan uang, dan terasa betapa perlunya sebuah bank tempat minta pertolongan kredit.

Dirangkum dari buku Beberapa Fasal Ekonomi Dr Mohammad Hatta terbitan Balai Pustaka Jakarta, menyatakan bahwa, sejarah yang sepuluh tahun tersebut menyatakan tidak sia-sia mereka berusaha dan berkeinginan. Sebuah bank dengan kapital setengah juta sudah dekat dicapai. Sekali lagi sejarah mengatakan, bahwa tiap-tiap tujuan yang mulia diatur dan dihidupkan oleh sekelompok kecil yang mau.

Jika diperhatikan saat timbulnya Bank Nasional, bahwa tidak sedikitpun rintangan yang dihadapi, dibangunkan dalam masa krisis yang sangat besar. Dimasa itu banyak perusahaan yang patah, banyak bank yang roboh, beribu-ribu maskapai yang pailit, beratus milium kapital yang tandas disapu topan depressi.

Masa itu adalah masa likwidasi. Masa runtuh, bukan masa mendirikan. Kira-kira lima tahun kemudian lagi, persediaan kapitalnya sudah lebih dari satu juta rupiah. Sudah lebih besar dan lebih aktif dari Bank Indonesia di Surabaya, yang telah membangunkan suatu pabrik tembikar.

Zaman depresi zaman menjaring, mengeluarkan yang hampa dan menyingkirkan yang rapuh. Mana yang bertahan, itulah yang sejati. Bank Nasional tidak saja sanggup mempertahankan hidupnya, tetapi mencapai kemajuan yang berarti, itulah kredit bagi masa mendatang.

Kesukaran yang kedua, yang harus dilawan oleh Bank Nasional waktu didirikan, ialah tindisan psikologi, tindisan ruh, yang memadu dalam kalbu bangsa kita semangat mengalah. Demikianlah orang menunjukkan nasib perusahaan orang Indonesia yang tergelincir. Bukti itu ditontonkan dan diiringi dengan cemooh “Bukankan sudah dari dahulu kami katakan, kamu orang yang tidak sanggup mengerjakan urusan yang bersangkutan dengan modal yang agak besar,”

Semuanya dibesar-besarkan, seolah-olah tidak ada perusahaan Barat yang jatuh, dan seolah-olah tidak ada masa depressi yang datang berulang-ulang dengan menyapu berjenis perusahaan, besar dan kecil sedunia.

Demikianlah kesulitan yang dihadapi oleh Bank Nasional pada mula berdirinya. Kapital kecil, kantor kecil, dan persediaan kecil. Begitulah kemiskinan bank kaum saudagar kecil di Bukitttinggi pada mulanya. Barangkali lebih dikenal waktu itu, Abuan Miskin dari pada Abuan Saudagar.

Sifat yang kedua ialah harapan dimasa datang, yaitu menjadikan usaha ini mencapai Bank Handel Mic (N.V) supaya berdirinya kebangsaan yang telah ada. Dalam tahun itu juga, kata Anwar dalam Verslag Bank Nasional tahun kelima, hilang lah nama Abuan Saudagar, hanya tinggallah nama Bank Nasional, tak lain dan tak bukan untuk memperlihatkan pada bangsa kita, bahwa cita-cita Bank Nasional umum adanya.

Untuk membesarkan penghasilan, perusahaan yang banyak mempunyai reserve tidak tergantung lagi pada pasar kredit. Geraknya tidak terikat oleh tingginya rente. Sebab itu luas langkahnya memperbesar penghasilan. Tindakannya itu mudah mengguntungkan jalan konjungturnya, mudah menimbulkan krisis dengan penghasilan berlebih.

Dalam perubahan peraturan dasar tahun 1934, pimpinan Bank secara rasionil. Bank dipimpin oleh Direksi, terbagi atas dua atau tiga orang. Pekerjaan Direksi itu diawasi oleh Dewan Komisaris. Jadi, jabatan komisaris tidak lagi masuk golongan pengurus, yang filakukan oleh direksi. Perubahan Peraturan Dasar ditahun 1934 itu membukakan jalan untuk melakukan urusan bank dengan seluas-luasnya.

Demikianlah kaum saudagar kecil yang belum kenal teori dan praktek bank bermula, dengan kekerasan hati dan kekuatan kepercayaan akan kesanggupan diri sendiri, akhirnya pandai menyusun organisasi, yang sering dipandang sebagai atap dari pada segala organisasi dagang.

Mereka hendaklah paham benar akan haknya. Segala pekerjaan, besar atau kecil, hendaklah ditangan”the right man in the right place”, orang. [Mey Borjun]