Ilustrasi

“Hai, Bung! Bapak-Bapak, Ibu-lbu. Dengar, dengar! Ada berita gembira. Negara kita sudah merdeka.”

Puluhan tahun lalu jika digeser ke tahun 1945, ada banyak kisah haru saat menyambut hari kemerdekaan. Satu diantaranya adalah kisah menarik mengenai kabar kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Betapa tidak, saat ini di zaman serba canggih kita bisa dengan mudah memberi kabar lewat telepon, sms bahkan media sosial. Sedangkan di zaman dulu sulit sekali bahkan untuk mengabarkan berita bahagia seperti hari Kemerdekaan, para kurir membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk mencapai berbagai penjuru negeri.

Kemerdekaan yang dibacakan Bung Karno dari Jakarta hanya bisa menjangkau sebagian kecil wilayah Indonesia, yakni wilayah-wilayah yang kebetulan memiliki radio dan bisa menangkap siaran berita dari RRI.

Dari Tempo dilansir bahwa dua bulan setelah Proklamasi, Komisaris Jenderal Pol. Radden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo waktu itu menjabat Kepala Kepolisian Negara di bawah Kementerian Dalam Negeri diberi tugas mencari pemuda-pemuda yang mau dikirim ke pelosok Indonesia buat menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan alias sebagai kurir yang bertugas menyebarkan berita Prokllamasi kemerdekaan.

Pemerintah beralasan orang-orang yang tinggal di pelosok dusun, di pinggir hutan, di kaki gunung, dan di seberang lautan banyak belum mengetahui Indonesia sudah merdeka.

Ketika salah satu kurir kemerdekaan menanyakan alasanya, Hayat Harahap, kemenakan Parada Harahap, tokoh pers yang juga salah satu tim pencari kurir mengiyakan pentingnya tugas kurir kemerdekaan.

“Benar, Bung. Tapi, walaupun sudah didengungkan dan disiarkan lewat RRI, tidak semua daerah menangkap berita ini. Maklum, radio kan jumlahnya sedikit. Tidak semua wilayah memilikinya,” kata Hayat seperti dituturkan dalam buku Kurir Kemerdekaan terbitan Balai Pustaka 1988.

Tidak banyak pemuda-pemuda yang direkrut menjadi kurir kemerdekaan. Ada Gatot Iskandar anak Kediri yang ikut Perindo atau Pemuda Republik Indonesia. Dari Kediri, Gatot waktu itu baru berumur 15 tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia ditemani temannya yaitu Umar yang juga asal Kediri.

Selain kedua anak itu pemerintah juga merekrut Suroso dari Angkatan Muda Kereta Api. Bonggar wakil pemuda dari Yogyakarta. Cik Somad asal Palembang, Syamsudin yang berasal dari Bengkulu, Anwar dan kakak-beradik Azwar dan Rivai asal Minangkabau, juga Hamid yang asli dari Tapanuli.

Pemuda-pemuda itu berkumpul di asrama di daerah Sawah Besar. Selama dua minggu di gedung Kementerian Penerangan di jalan Cilacap, Jakarta Pusat yang menjadi pusat komando mereka melakukan rapat-rapat dan pengarahan dari paniti gerakan kemerdekan. Selain bertugas menyebarkan berita kemerdekaan, kurir kemerdekaan itu ditugasi membagi-bagikan brosur dan selebaran, berupa buku-buku tipis ke selurus pelosok Sumatera. Ada buku yang ditulis Sutan Syahrir, buletin Pepera, dan lain sebagainya.

Gatot Iskandar yang mengisahkan perjalananya itu menceritakan selepas dari markas komando di Sawah Besar, pemuda-pemuda itu tidak mendapat fasilitas memadai selama menjadi kurir kemerdekaan. Maklum baru dua bulan merdeka. Bahkan untuk ongkos pun di suruh mencari sendiri.

“Wah, ciloko. Mau pergi tidak disangoni, tapi malah disuruh cari duit!” ujar Gatot bersungut-sungut.

Sebelum berangkat pemuda-pemuda itu dibagi kelompok yang disebar ke Sumatera. Daerah Lampung jatah Umar dan Cik Somad. Bengkulu diserahkan kepada Syamsudin serta Supardi.

Kakak beradik Azwar dan Rivai disertai Anwar mendapatkan tugas ke wilayah Sumatra Barat. Tapanuli ditugaskan kepada Gatot dan Hamid. Sedangkan Suroso dan Bonggar mendapat tugas mendatangi wilayah Sumatra Utara.

Rombongan kurir kemerdekaan itu awalnya diberangkatkan menggunakan kapal dari Pasar Ikan. Namun kapal keburu rusak di dekat Tangerang. Akhirnya dengan menumpang kapal nelayan, pemuda belasan tahun itu dipindahkan ke markas militer di daerah Serang. Dan diseberangkan menggunakan kapal Badan Keamanan Rakyat dari Anyer.

Kapal mendarat di Tanjungkarang kemudian rombongan mulai berpisah. Gatot Iskandar menuturkan, mereka juga diberikan surat tugas baru yang menjelaskan bahwa pembawa surat ini adalah anggota organisasi pemuda dari Jawa yang bertugas menyebarkan berita tentang proklamasi kemerdekaan. Surat itu tetap harus disembunyikan jika menemui patroli tentara Jepang.

Gatot Iskandar kelahiran 4 September 1930 itu mengisahkan arahan dari Jakarta bahwa di tempat mereka berhenti pun mereka juga wajib menyebarkan kemerdekaan. Seperti ketika bus yang ia tumpangi mogok di daerah Bukittinggi.

Ia mendapati sambutan hangat dari warga yang mengetahui tugas berat yang harus dilakukan remaja seusianya.

“Benar, Nak? Negara kita sudah merdeka?!” sambung Pak Tua itu seperti tak percaya. Tapi wajahnya mendadak berubah memancar gembira. Ketika Gatot dan temanya Hamid menjawab dengan anggukan kepala, Pak Tua segera mengabarkan kepada para penumpang yang ada di warung tersebut.

“Hai, Bung! Bapak-Bapak, Ibu-lbu. Dengar, dengar!” katanya bersemangat. “Ada berita gembira. Negara kita sudah merdeka. Ya, merdeka! Kedua anak muda itu yang bertugas membawa berita itu dan menyebarluaskan kemari!”

Berita tentang kemerdekaan pun menyebar dan disambut penuh suka cita oleh Rakyat Indonesia. Kemerdekaan itu sudah dinanti-nanti sejak lama bahkan hingga mengorbankan banyak hal. Menjaga persatuan dan kesatuan serta meneruskan perjuangan para pahlawan terdahulu adalah amanah yang dipikul generasi millenial sekarang ini. [Eva De]