Berhubungan erat dengan tantangan besar utama yang dialami oleh ekonomi kita, yaitu mengalir keluarnya kekayaan Indonesia ke luar negeri, adalah satu keadaan yang kita dapat sebut sebagai ketidak-adilan ekonomi.

Dalam buku Paradoks Indonesia, menurut Prabowo Subianto ketidak-adilan ekonomi inilah yang menyebabkan rakyat terlalu banyak yang masih hidup dalam keadaan miskin, dan keadaan susah.

Menurut BPS, gini ratio ditahun 2014 sudah 0,41. Bahkan, menurut riset lembaga keuangan Credit Suisse, ditahun 2006 angka gini ratio Indonesia yang sebenarnya sudah mencapai 0,49. 1% orang terkaya, menguasai 49% kekayaan di Republik Indonesia.

0,49 adalah ketimpangan yang luar biasa. Ketimpangan yang sangat berbahaya. Ketidakadilan ekonomi ini dapat memicu konflik sosial, huru hara dan perang saudara yang berkepanjangan.

  • Ketidakadilan Ekonomi Sudah Terlalu Parah

Gini ratio, atau rasio gini adalah indikator utama kesenjangan kekayaan disuatu negara. Angka gini ratio 0,49 artinya adalah 1% dari populasi terkaya di Indonesia memiliki 49% kekayaan Indonesia.

Jika populasi Indonesia ada 250 juta jiwa, artinya hampir 50% kekayaan Indonesia dimiliki oleh 2,5 juta orang saja. Sisanya dibagi antara 247,5 juta jiwa. Bahkan, baru-baru ada yang menghitung, harta kekayaan dari empat orang terkaya di Ondonesia ternyata lebih besar dari harta 100 juta orang termiskin di Indonesia.

Angka gini ratio untuk kepemilikan tanah lebih mengkhawatirkan lagi. Lebih mengkhawatirkan, karena bagi Prabowo Subianto kekayaan yang hakiki adalah kepemilikan tanah.

Data yang dimiliki Prabowo, gini ratio kepemilikian tanah Indonesia di tahun 2014 sudah mencapai 0,73. Artinya, 1% populasi terkaya di Indonesia, 2,5 juta orang, memiliki 73% tanah Indonesia. Angka sekarang pasti lebih tinggi.

“Coba tanyakan ke keluarga dan kerabat saudara. Siapa diantara mereka yang memiliki tanah? Apakah saudara sendiri memiliki tanah? Ataukah saudara menyewa tanah tempat saudara saat ini tinggal? Apakah petani-petani kita masih memiliki tanah sendiri? Kalau iya, berapa rata-rata luas tanah yang mereka miliki? Apakah meningkat, atau menurun dibandingkan dengan 10,20,30 tahun yang lalu?” ungkap Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia.

Data tahun 2015 dari BPS, ada 37 juta orang Indonesia yang berprofesi sebagai petani. Namun lebih dari 75%, lebih dari 28 juta petani tidak punya lahan sendiri. Yang memiliki lahan sendiri hanya 9 juta petani, itupun luasnya sungguh tidak seberapa. [Mey borjun]