Di Lampung ada lima daerah yang pendudukannya semua orang yang dipindahkan dari tanah Jawa. Daerah itu biasa disebut tanah Kolonisasi yang artinya mendiami negeri atau tanah baru. Dalam kolonisasi di Lampung sering disebut Intellectueelen-kolonisatie yang disebut Intellectueelen, itu bukanlah pemuda yang keluaran sekolah tinggi atau sekurang-kurangnya lepas sekolah menengah.

Kita sebut anak-anak salah asuhan, karena dengan didikannya yang tidak sempurna itu mereka menyangka berhak akan kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang ditentukan masyarakat baginya. Zaman baru sudah merombak berangsur-angsur dasar feodalisme, yang menentukan orang hidup berkelas-kelas menurut turunan, dan membawa ukuran baru yang rasionil untuk menentukan derajat orang dalam masyarakat. Tetapi anak-anak muda itu masih diasuh dengan paham kolot, yang tidak memberi dasar hidup baginya didalam masa sekarang. Inilah yang menjadi tragik dalam kehidupan anak-anak muda itu.

Memang zaman baru ini mengadakan juga aristokrasi. Tetapi aristokrasi itu ialah aristokrasi otak, bangsawan karena kecerdasan pikiran. Kebangsawan inilah yang diakui seluruh dunia, diakui titelnya. Inilah tragik hidup dalam tanah jajahan, banyak sekali yang diadakan dengan dibuat-buat kunstmatig. Kota-kota di negeri kita timbul kunstmatig dengan dibuat-buat dibangunkan oleh kapitalisme yang datang dari luar.

Bukan keluar dari masyarakat sendiri, sebagai tindakan golongan yang menunjukkan aktivitinya kearah pekerjaan membangunkan. Indonesia tidak mempunyai kelas kaum pertengahan yang kukuh. Orang memajukan beberapa usaha akan menimbulkannya dengan dibuat-buat. Orang sabar menunggu datangnya sebagai hasil kemajuan perekonomian. Oleh karena itu, kaum pertengahan menurut rancangan itu sama mencari jalan sendiri kedalam perekonomian koperasi.

Berbagai keadaan yang ditunda oleh sejarah ke zaman yang lampau sebagai pengisi museumnia, hendak dicoba menahannya. Oleh karena itu menimbulkan kesedihan sosial, yang merugikan kepada masyarakat serta kepada mereka yang disuruh mempermainkan rolnya.

Dirangkum dari buku Beberapa Fasal Ekonomi Dr Mohammad Hatta terbitan Balai Pustaka Jakarta, menyatakan bahwa didikan H.I.S. tidak lagi memberikan derajat seperti dahulu, tidak memberikan lagi panggilan tuan. Didikan H.I.S. hanya memberi tempat sebagai buruh kecil dan buruh kasar.

Pekerjaan buruh dengan maksud mencari nafkah hidup tidak menghinakan. Bukankah kata pepatah, kerja itu mulia? Hak bagi yang bekerja ialah menerima upahnya,yang seukuran dengan hasil yang ditolongnya menimbulkan. Bukan menolak pekerjaan kasar, jika kepandaian tidak mencukupi untuk menduduki pangkat yang lebih tinggi. Bahayanya tidak sedikit, jika dengan secara dibuat-buat suatu golongan manusia diangkat lebih tinggu dari kedudukannya yang sebenarnya dalam masyarakat sekarang.

Masyarakat sekarang oleh susunan ekonomi, golongan yang diangkat-angkat tadi tidak mau disamakan dengan orang banyak, sedangkan derajatnya seukuran dengan orang banyak itu. Keatas minta diakui, tetapi yang diatas menilik rendah. Akibatnya mereka merasa dirinya tidak dihargai sebagaimana mestinya. Mereka jadi sombong benci ke atas dan benci ke bawah, pada hal perasaan tahu menanggung jawab terhadap sesamanya yang harus dihidupkan dalam dada pemuda, bukan perasaan jadi tuan dengan maksud memperkakaskan orang lain. [Mey Borjun]