Aksi demonstrasi IMM Bengkulu di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Bengkulu, Senin (17/8/2018).

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Ratusan mahasiswa yang berasal dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bengkulu menggelar aksi demonstrasi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bengkulu, Senin (17/8/2018).

Aksi mahasiswa tersebut menyatakan beberapa tuntutan yakni turunkan rupiah dan secepatnya stabilkan perekonomian bangsa, tolak impor sebagai alternatif solusi dari pemerintah dan mengikuti produk lokal, tegakkan supremasi hukum seadil-adilnya, tolak tenaga kerja asing di Indonesia dengan menghapus Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018, turunkan harga BBM, meminta dan menegaskan pihak TNI dan Polri untuk netral dalam menyikapi politik, meminta dan mendesak MPR-RI/DPR-RI untuk melakukan sidang istemewa mencabut mandat Joko Widodo dari Presiden, meminta dan mendesak TNI untuk segera mengambil alih negara.

“Kemerdekaan Indonesia lahir dari desaka pemuda, para mahasiswa, lantas patutkah mahasiswa berdiam diri saat kemerdekaannya dinodai? Saat ini kita harus menghargai atas tercapainya kemerdekaan Indonesia dengan tersusun rapinya seluruh elemen dan bersama-sama saling menjaga bangsa ini agar tetap stabil dan mengarah kearah yang lebih baik, pada saat ini,” ungkap Kasrul Pardede, salah satu orator aksi.

Dijelaskan Kasrul, periode pemerintahan sekarang yang membuat bangsa ini ke arah yang salah sehingga menyebabkan keterpurukkan, maka dari itu suda selayaknya mahasiswa sebagai agen perubahan akan sadar peran dan fungsinya dalam mengawasi dan mengontrol arah perkembangan bangsa ini.

“Dengan melihat fakta dilapangan saat ini masyarakat tergonjang-ganjing dengan perekonomian bangsa saat ini terutama masyarakat menengah ke bawah, supremasi hukum yang tak berkeadilan, dan stabilitas bangsa terancam, serta berbagai permasalahan yang ada. Artinya ada yang salah dan bahkan salah besar dari rezim ini,” ungkapnya.

Pantauan jurnalis, dalam aksi tersebut sempat terjadi aksi dorong dorongan dari para pendemo dan anggota Kepolisian yang melakukan pengamanan lantaran para pendemo mendesak masuk kedalam gedung DPRD Provinsi Bengkulu untuk menyampaikan aspirasinya.

Para pendemo sempat menyebut-nyebut nama Ichsan Fajri, Edison Simbolan dan beberapa nama pimpinan DPRD Provinsi Bengkulu lainnya.

“Kita butuh kesejahteraan, kami ingin menyampaikan apa yang dikeluhkan masyarakat, kami hanya ingin menyampaikan keluhan para petani sawit, petani karet, dan ibu bapak kami yang disana dalam keadaan sakit. Apa yang ditakuti dari kami, kami hanya ingin masuk ke rumah kami (Gedung DPRD, red),” kata Kasrul.

Menanggapi aksi ini, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UMB, Oki Syahputra Jaya mengatakan, aksi ini mahasiswa IMM adalah bentuk dari kepedulian terhadap bangsa dan negara ini, khususnya para masyarakat yang mengeluh akan harga-harga yang tidak pro rakyat.

“Saya selaku Ketua DPM UMB, sangat mengapresiasi apa yang kawan-kawan mahasiswa UMB dan IMM lakukan hari ini. Memang setiap pemimpin tidak ada yang sempurna dan tidak bisa memenuhi apa permintaan oleh rakyat secara sekaligus. Pak Jokowi mungkin saat ini fokus akan pembangunan infrastruktur. Tapi disini juga kita harus tegur dan kritik pemerintah yang kurang fokus memperhatikan sektor-sektor lain agar negara dan bangsa ini lebih sejahtera. Ini adalah bentuk kritik untuk membangun pemerintahan yang jauh lebih baik lagi,” ujar Oki.

Ia menambakan, pada era demokrasi, mahasiswa merupakan kelompok pengawas yang paling independen dan merakyat.

“Kami mahasiswa sangatlah mendukung semua program pemerintah, tapi jika kebijakan pemerintah tidak pro akan rakyat akan kami tumbangkan,” demikian Oki. [Ardiyanto]