Organisasi dan kedudukan bank pada suatu negeri adalah cermin dari pada keadaan dan kemajuan ekonominya. Menurut garis besarnya, perekonomian tiap-tiap negeri terbagi tiga bagian, pertanian, industri dan dagang. Apabila cabang perusahaan itu sudah agak besar, ia perlu bantuan kredit dari luar.

Kapital yang perlu bagi perusahaan ada dua sifat. Pertama, kapital untuk pembeli barang tetapi sebagai rumah perusahaan, pabrik, mesin, alat transport dan lain-lainnya. Kedua, kapital untuk sementara, guna menjalankan perusahaan.

Kapital yang sebanyak-banyaknya perlu untuk mencapai percentage hasil yang sebesar-nesarnya disebut kapital optimum. Optimum boleh diartikan dengan puncak jumlah. Mencari susunan kapital, supaya tercapai optimum itu, itulah kewajiban pimpinan perusahaan. Kalau kapital kurang dari jumlah optimum, hasilnya kurang baik, sebab terlalu banyak meminjam mana yang kurang. Pinjaman itu dibayar dengan rente, dan tiap-tiap pembayaran rente mengurangi dividen.

Dirangkum dari buku Beberapa Fasal Ekonomi Dr Mohammad Hatta terbitan Balai Pustaka Jakarta, menyatakan bahwa bank lah yang sanggup memenuhi kredit yang kurang itu, sebab bank tempat mengumpulkan kapital yang tidak terpakai, tempat mempersatukan uang simpanan. Sebab itu tiap-tiap perusahaan memandang ke bank untuk memuaskan keperluan kredit.

Mr. Crena de Jongh, mantan Presiden Nederlandsche Handel-Mij pernah berkata, bahwa bagi bank menunjang keperluan ekonomi lainnya dibelakang kan dari pada menjaga tuntutan likwiditet. Berhubung dengan kedudukan bank yang menyimpan uang sebentar, tertanamlah paham bahwa bank hanya boleh memberikan kredit pendek. Memberikan kredit panjang disebut bertentangan dengan dasar perusahaan bank. Kredit panjang menyangkut kapital usaha bank, yang sebagian besar terdiri dari pada saldo yang boleh diminta kembali setiap waktu.

Yang menjadi teladan benar ialah pengalaman bank modern yang pertama di Prancis yang bernama Credit Mobilier, didirikan pada tahun 1853. Credit Mobilier artinya menjalankan kredit, kapital andilnya Fr. 60.000.000. Uang yang di mobilisirnya dipergunakan untuk membantu industri. Terutama dibantu dengan kredit perusahaan kereta api yang dikerjakan waktu di Prancis.

Riwayat bank yang begitu terkemuka sebagai Credit Mobilier tentu banyak kesanya dalam ingatan pemimpin-pemimpin bank, riwayat yang sial itu menjadi pelajaran. Berlainan dengan politik Credit Mobilier itu terdapat praktek yang dilakukan oleh bank Inggris, yang terkemuka sebagai Bank Deposito yang memberikan kredit pendek dan jalannya selamat dibandingkan dengan bank di Prancis. Ini saja sudah menambah keyakinan, bahwa pada dasarnya bank hanya boleh memberikan kredit pendek karena kapital usaha yang sebagian besar didapat sebagai kredit pendek dilekatkan sebagai kredit pendek pula, karena itu lancar jalan perusahaan bank.

Sebelum perang tahun 1914 perniagaan internasional sebagian besar dibelanjai dengan kredit bank Inggris. London adalag pusat pinjaman kapital, dan pusat tempat melekatkan kapital ia pasar kredit yang terutama. Pinjaman antara luar negeri sekalipun sering berlaku dengan perantara London. Berlainan dari tipe bank Inggris terdapat type Bank Jerman. Pada waktu timbulnya, bank jerman mempunyai kewajiban terhadap perekonomian negerinya, yang baru bermula menempuh jalan industri, negeri nya tidak banyak menyimpang kapital. Sebab itu industri yang mau maju minta tolonh kepada bank, dalam memberikan kredit kepada industri, bank jerman mengambil teladan juga kepada pengalam kredit Mobilier di Prancis.

Type bank jerman kemudian terkenal sebagai Bank Umum, sebab sistemnya rata-rata diikuti didaratan Eropa. Type bank umum ini dipertentangkan dengan type bank Inggris. Bank Inggris adalah bank yang semata-mata memberikan kredit pendek sifatnya ialah kredit dagang. Bank umum mengutamakan memberi kredit pendek, tetapi kredit panjang tidak dilengahkannya sama sekali. Hingga memberikan kredit industri, itu bergantung kepada keadaan negeri dan kekuatan bank.

Bank besar di negeri Belanda mempunyai type bank umum, tetapi berhubung dengan struktur perekonomiannya, yang banyak dagang dari industri bank umum disana mengambil kedudukan tengah antara type bank Inggris dan type bank Jerman.

Dalam buku Mr. H.A. van Nierop, mantan Direktur Amsterdam Bank. Menurut pendapatnya, bank mestilah memenuhi tiga buah syarat:
1. Jangan meminjam kredit, tunggu saja uang diantarkan orang.
2. Sedia kas besar untuk memenuhi kewajiban setiap waktu kepada mereka yang mempertaruhkan uang.
3. Uang yang dipertaruhkan orang harus dilekatkan sekian rupa, sehingga keadaannya selalu liquide, yaitu dapat dijadikan uang kembali setiap waktu.
Mengingat sifat dan paham ahli bank seperti itu, nyatalah bahwa bank besar saja tidak dapat memuaskan keperluan kredit dalam segala lapisan perekonomian. [Mey Borjun]