Azhar Marwan

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – KPU RI menggelar pengundian nomor urut calon presiden-calon wakil presiden yang dilakukan di Kantor KPU RI, Jakarta, Jumat (21/9/2018) malam.

Hasilnya, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapat nomor urut satu dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat nomor urut dua dalam Pemilu Presiden 2019.

Usai pengundian tersebut, KPU secara resmi melakukan penetapan nomor urut capres-cawapres dalam Pilpres 2019.

Selanjutnya, nomor urut ini akan digunakan oleh kedua pasangan untuk berkampanye hingga sebelum pemungutan suara pada 17 April 2019.

Pengamat politik Universitas Bengkulu (UNIB), Azhar Marwan mengatakan pilihan rakyat tidak bergantung pada nomor urut, namun sesuai dengan rekam jejak kandidat.

“Masyarakat sudah tahu siapa pilihan mereka. Pilihan dimana mereka benar-benar dapat menggantungkan harapan,” katanya.

Azhar menjelaskan, sama halnya dengan putusan Mahkamah Agung yang meperbolehkan narapidana atau mantan koruptor mencalon sebagai anggota legislatif.

“Semua tergantung kepada rakyat apakah masih memberikan respek terhadap orang-orang yang pernah terlibat di kasus korupsi atau tidak,” ungkapnya.

Menurutnya, pada era keterbukaan informasi yang berkembang secara masif sejak reformasi bergulir, jejak rekam kandidat cukup mudah diketahui.

“Tidak ada alasan masyarakat untuk tidak mengetahui yang mana mantan koruptor dan yang tidak, karena nanti akan dicantumkan dibawahnya kalau mereka adalah mantan koruptor. Artinya masyarakat tidak ada alasan kalau masyarakat tidak tahu. Tinggal sekarang bagaimana kecerdasan masyarakat pemilih dalam memilih. Berangkat dari bagaimana proses yang bisa dikatakan melahirkan orang yang bagus melalui proses yang bagus pula,” terang Azhar.

Ia menjelaskan, sejak reformasi membuat masyarakat menjadi kehilangan kepercayaan baik kepada legislatif maupun eksekutif.

“Jadi kualitas kader, kejujuran kader, kredibilitas kader itu menjadi pertimbangan partai politik karena partai politik bisa saja hancur karena kadernya yang bermasalah. Kita sekarang sudah masuk dalam kejenuhan politik, apatisme politik, maka dari pemilu ke pemilu, pilkada ke pilkada terlihat angka treen partisipasi publik itu selalu menurun,” imbuhnya.

Azhar mengimbau kepada setiap kontestan Pemilu 2019 dapat mengawal amanah rakyat dengan penuh kejujuran dan kesetiaan.

“Namanya pemimpin harus orang yang betul-betul mewakili rakyat, orang yang betul-betul perduli kepada rakyat dan yang peka terhadap persoalan rakyat. Jadi jangan sampai masyarakat asal pilih. Sehingga kita melalui pemilihan yang cerdas dan bersih, maka akan melahirkan pemimpin yang berkualitas,” demikian Azwar Marwan. [Ardiyanto]