Desa Talang Beringin, SAM

Banyak kagiatan yang dilakukan masyarakat ketika bulan Ramadan. Di Seluma tepatnya di Kecamatan SAM Kabupaten Seluma identik dengan kegiatan nujuh likur. Apa sih Nujuh Likur itu?

Dalam bahasa serawai nujuh likur berarti dua puluh tujuh. Nujuh likur itu sendiri ialah kegiatan membakar tempurung kelapa (lujuk) yang telah disusun di sepancang kayu hingga tinggi menjulang ke langit. Makna dari kegiatan ini adalah sebagai rasa syukur karena bertemu dengan bulan Ramadan dan menyambut idhul fitri.

Mitosnya semakin tinggi susunan tempurung kelapa maka besar rasa syukur karena tempurung kelapa dianggap sebagai buah penuh manfaat dan rasa syukur.

Tempurung kelapa biasanya dikumpulkan pada jauh-jauh hari sebelum malam nujuh likur, karena harus dikeringkan agar mudah terbakar dan di lobangi tengahnya agar mudah disusun.Tempurung kelapa yang sedang dibakar akan menerangi desa layaknya obor besar. Sebuah rumah biasanya terdiri dari 2-3 pancang lujuk. Mulai dari anak-anak hingga orang tua sangat menunggu moment seperti ini karena akan ada kerjasama dan kekompakan masyarakat ketika bersama-sama menghidupkan lujuk.

Kegiatan ini biasa dilakukan pada puasa ke-27 atau tiga hari lagi menjelang lebaran di halaman rumah atau di pinggir jalan raya. Mulai dari jam 5 sore sususan lujuk sudah berdiri di halaman rumah, ketika sudah berbuka puasa maka lujuk siap dinyalakan. Lujuk harus benar-benar di tunggu hingga habis terbakar agar apinya tidak menyebar kemana-mana. Sepanjang jalanan desa akan diterangi oleh kibaran api dari tempurung kelapa tersebut.

Namun di era modern tradisi ini semakin meredup, karena kemajuan teknologi seperti adanya TV, selain itu karena setiap rumah warga sudah menggunakan listrik dan jalanan pun punya penerangan sendiri.

Resmi Hartati, Komunitas Menulis Bengkulu