Paradoks hemat adalah kebijakan penghematan pengeluaran pemerintah yang dilakukan dengan sengaja atau dilakukan karena terpaksa, yang dalam jangka panjang akan menghancurkan perekonomian negara tersebut. Paradoks hemat terjadi karena adanya penghematan pengeluaran pemerintah, yang tidak segera diikuti oleh peningkatan komponen agregat demand yang lain. Hal ini akan berimbas pada turunnya pendapatan nasional yang bisa dihasilkan.

Dirangkum dalam kajian Ekonomi, Paradoks hemat mulai terjadi di Indonesia, disebabkan dua hal. Awalnya dilakukan secara sengaja oleh pemerintah Jokowi-JK. Kedua, dilakukan karena terpaksa karena pengaruh eksternal, yaitu akibat pengaruh perekonomian dunia. Kebijakan penurunan pengeluaran pemerintah secara sengaja yang paling dominan adalah penghapusan berbagai subsidi, terutama subsidi BBM. Selain itu ditambah beberapa hal yang minor, misalnya adanya larangan PNS rapat di hotel. Faktor eksternal yang mendorong pengurangan pengeluaran pemerintah, adalah adanya penurunan harga minyak mentah dunia dan tekanan kurs rupiah terhadap dollar.

Keduanya menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan berbagai kebijakan yang bersifat terpaksa seperti menahan atau mengurangi kucuran APBN & APBD. Implikasi buruk dari paradoks hemat di Indonesia sudah mulai terlihat. Diawali turunnya (pengeluaran pemerintah) secara sengaja maupun yang dilakukan karena terpaksa karena pemerintah kekurangan pemasukan, telah menyebabkan turunnya agregat demand.

Lalu dunia usaha atau sektor riil dari barang dan jasa akan memiliki kelebihan stok, yang pada gilirannya akan menurunkan kegiatan produksi. Sebagai akibatnya, (investasi) juga turun. Cepat atau lambat hal ini akan menyebabkan PHK, dan PHK yang meluas akan menurunkan daya beli masyarakat, berarti (pengeluaran rumah tangga) juga turun. Di saat yang sama, di berbagai belahan dunia mulai terjadi kesulitan ekonomi, maka berpengaruh bagi tertekannya dan menurunnya nilai ekspor Indonesia.

Takut akan paradoks hemat bisa menyebabkan resesi di negara, tanda-tanda mulai terlihat. Kembali ke teori John Maynard Keynes, terjadinya resesi yang disebabkan oleh terbatas atau buruknya kebijakan perekonomian pemerintah hanya bisa disembuhkan oleh kebijakan pemerintah yang lain. Sayangnya, resesi yang bisa terjadi di negara, terjadi karena dua faktor, faktor internal dan eksternal. Maka penyembuhannya menjadi lebih sulit. Seperti ketika kita menghadapi penyakit fisik, penyembuhan terbaik adalah ketika penyakit masih berada di stadium 1, jika baru mau berobat saat sudah berada di stadium 4, maka sulit atau tidak mungkin sembuh lagi.

Menurut John Maynard Keynes, yang sangat terkenal karena teorinya menjadi resep bagi penyembuhan bagi the Great Depression, resesi yang menimpa seluruh dunia pada sekitar dua dekade setelah perang dunia pertama, terjadi karena kesalahan pandangan ahli ekonomi dunia di era tersebut yang mengatakan bahwa resesi bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal menurut dia, kebijakan perekonomian pemerintah-pemerintah di dunia yang telah menyebabkan terjadinya resesi dunia, maka untuk menyembuhkannya juga harus dengan kebijakan pemerintah.

Masih menurut John Maynard Keynes , pendapatan nasional suatu negara ditentukan oleh agregat demand seluruh masyarakat yang tinggal di negara tersebut, berdasar rumus berikut: GDP = C + I + G + X – M GDP, atau di Indonesia disebut PDB (Product Domestic Bruto). C: konsumsi rumah tangga I: investasi G: pengeluaran pemerintah X: ekspor M: impor Kenaikan agregat demand akan memacu sektor usaha untuk meningkatkam supply barang dan jasa, yang pada gilirannya akan meningkatkan faktor produksi, yang berupa bahan baku, tenaga kerja. [Mey Borjun]