Buku Paradoks Indonesia memuat pemikiran dan pandangan Prabowo terhadap bangsa Indonesia. Prabowo dalam buku tersebut menyoroti sisi ironis dari Indonesia sebagai negeri yang kaya raya namun banyak rakyatnya yang masih hidup di garis kemiskinan.

Menurut Prabowo, paradoks itu muncul karena ketimpangan dari sebuah negeri yang berlimpah harta namun tak dinikmati rakyatnya. Meski pertumbuhan ekonomi meningkat seberapa persen pun, kata dia, tidak ada artinya jika tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

PARADOKS INDONESIA: Negara Kaya Raya, tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin, buku setebal 138 halaman yang diterbitkan oleh Koperasi Garudayaksa Nusantara.

Pandangan beliau diawali dengan bab membangun kesadaran bersama berisi pemaparan mengenai data kemiskinan, demografi penduduk Indonesia, gejolak dan pula kondisi sosial-ekonomi-politik yang telah sangat menghawatirkan.

Menurut pandangan strategis Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia, kita harus sadarkan sebanyak-banyaknya warga Indonesia, bahwa jika dikelola dengan tepat, kita punya modal sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup untuk jadi bangsa yang kuat dan terhormat, bangsa yang rakyatnya hidup sejahtera.

Kesadaran yang dimaksud, pertama adalah kesadaran bahwa sistem ekonomi dan politik yang dipilih oleh para pendiri bangsa, yaitu sistem ekonomi dan demokrasi pancasila, sistem ekonomi konstitusi, sebenarnya adalah pilihan yang terbaik untuk membangun Indonesia.

Kedua, bahwa sistem ekonomi yang sekarang dijalankan oleh negara sudah jauh menyimpang dari apa yang digariskan dalam UUD 1945 yang asli. UUD 1945 versi 18 Agustus 1945.

Ketiga, bahwa tidak mungkin bisa berhasil mengembalikan haluan ekonomi negara tanpa perjuangan politik. Oleh karena itu, 9 tahun yang lalu, pada tahun 2008 didirikan Partai Gerakan Indonesia Raya.

“Pada tahun 2002, saya mendapatkan mandat dari partai GERINDRA untuk maju jadi Calon Presiden Republik Indonesia di pemilu 2014. Walaupun tidak dinyatakan sebagai pemenang, kesempatan bagi setiap warga untuk berwirausaha, baik secara kolektif atau berkoperasi ataupun secara sendiri-sendiri,” ujar Prabowo dalam buku Paradoks.

Perlu mengejar kemajuan infrastruktur negara lain, dan mengerjar keberhasilan negara lain dalam menyejahterakan rakyat, dan dalam memperbaiki ketimpangan pendapat. Sebuah perjuangan politik tidak akan berhasil jika tidak dilakukan secara kolektif. Perjuangan yang dilakukan secara bersama dengan orang-krang yang sama-sama sadar, dan satu perjuangan, jauh lebih baik dari berjuang sendiri-sendiri.

“Karena itu, saya ingin ada lebih banyak warga negara Indonesia yang mengetahui, dimana Indonesia sebagai negara dan sebagai bangsa saat ini berada. Kita harus melawan neo-kolonialisme, melawan sistem kapitalisme global dan para bonekanya. Kita harus melawan mereka-mereka yang ingin Indonesia selalu lemah, selalu tergantung barang dan jasa yang mereka hasilkan, kita juga harus melawan mereka yang melemahkan pertanian kita, dan juga industri pengolaha dan industri dasar kita,” katanya.

Pelajari sejarah bangsa-bangsa, dapat mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada perubahan besar yang terjadi tanpa didorong oleh perjuangan politik. Sebuah perjuangan politik tidak akan bisa benar, berkelanjutan dan berhasil tanpa pendidikan politik yang dilakukan secara terus-menerus. Karena itu lah, dalam perjuangan politik Prabowo Subianto memutuskan untuk membangun Padepokan Garudayaksa di Hambalang. Sebuah kawah Candradimuka yang terbuka untuk semua warga negara Indonesia kader Partai GERINDRA yang terpanggil untuk berjuang mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.

Sejak tahun 2011 sampai awal tahun 2017, sudah puluhan kader bangsa yang mengikuti pelatihan kebangsaan bersama di Padepokan Garudayaksa. Namun untuk membangun kesadaran bangsa, menjalankan pelatihan di Hambalang saja tentu masih belum cukup. Ada banyak usaha yang memang harus dikerahkan lagi. [Mey Borjun]