IST/Korban dan para tersangka pengeroyokan.

Kerusuhan yang melibatkan suporter kembali terjadi di pentas sepak bola Indonesia saat pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta, Minggu (23/9) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Satu orang The Jakmania, Haringga Sirla, meninggal dunia usai dikeroyok oknum suporter Persib, Bobotoh.

Terkait meninggalnya Haringga Sirila, sudah 8 orang ditetapkan menjadi tersangka oleh Polrestabes Bandung. Kejadian suporter meninggal saat Persib vs Persija tidak terjadi baru satu kali ini saja. Pada tahun lalu, Ricko Andrean tewas di dalam stadion atau tribun saat sedang menyaksikan pertandingan.

Ironisnya, dia yang merupakan Bobotoh meninggal karena dipukuli oknum Bobotoh lainnya setelah dia dianggap sebagai The Jakmania yang menyusup. Banyak anak remaja yang terlibat dalam kasus pengeroyokan tersebut.

Perilaku tidak terpuji seperti pengeroyokan suporter Persija dan aksi vandalisme terhadap MRT Jakarta, benarkah tanda para pelaku mengalami gangguan mental?

Melansir KlikDokter, jika dilihat dari tinjauan kesehatan, pengeroyokan tersebut bisa disebut sebagai salah satu gangguan mental atau gangguan perilaku. Gangguan mental adalah gangguan emosional yang serius yang dapat terjadi pada anak-anak dan remaja.

Menurut WebMD, seseorang dengan gangguan ini dapat menampilkan pola perilaku mengganggu, suka kekerasan, dan bermasalah dalam menaati aturan. Gejala gangguan mental ini bervariasi tergantung pada usia seseorang dan apakah gangguan ringan, sedang, atau berat.

Secara umum, gejala gangguan perilaku jatuh ke dalam empat kategori umum:

1. Perilaku agresif

Ini adalah perilaku yang mengancam atau menyebabkan kerusakan fisik dan mungkin termasuk perkelahian, penindasan, bersikap kejam terhadap orang lain atau hewan, menggunakan senjata, termasuk memaksa orang lain melakukan aktivitas seksual.

2. Perilaku yang merusak

Seseorang dengan gangguan mental serius bisa terlibat penghancuran properti secara disengaja seperti pembakaran (pemusnahan yang disengaja) dan vandalisme (merusak properti orang lain).

3. Perilaku curang

Perilaku ini termasuk berbohong berulang, mengutil, atau membobol rumah atau mobil untuk dicuri.

4. Melanggar aturan

Dalam hal ini, seseorang dengan gangguan tersebut, melawan aturan-aturan masyarakat atau terlibat dalam perilaku yang tidak sesuai untuk usia seseorang. Perilaku ini mungkin termasuk melarikan diri, bolos sekolah, atau aktif secara seksual pada usia yang sangat muda.

Selain itu, banyak orang dengan gangguan perilaku yang mudah tersinggung, memiliki harga diri yang rendah, dan cenderung sering marah-marah. Beberapa mungkin menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol.

Orang dengan gangguan perilaku ini sering tidak dapat menghargai bagaimana perilaku mereka dapat menyakiti orang lain. Pelaku juga umumnya memiliki sedikit rasa bersalah atau penyesalan tentang menyakiti orang lain.

– Penyebab gangguan mental

Penyebab gangguan mental atau perilaku yang tepat tidak diketahui. Akan tetapi, diyakini bahwa kombinasi faktor biologis, genetik, lingkungan, psikologis, dan sosial memainkan peranan utama.

Biologis: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cacat atau cedera pada area tertentu di otak dapat menyebabkan gangguan perilaku. Gangguan ini telah dikaitkan dengan daerah otak tertentu yang terlibat dalam mengatur perilaku, kontrol impuls, dan emosi.

Genetika: Banyak anak dan remaja dengan gangguan perilaku memiliki anggota keluarga dekat dengan penyakit mental, termasuk gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, gangguan penggunaan zat, dan gangguan kepribadian. Hal ini menunjukkan bahwa kerentanan untuk melakukan gangguan mungkin setidaknya sebagian diwariskan.

Lingkungan: Faktor-faktor seperti kehidupan keluarga yang disfungsional, pelecehan masa kanak-kanak, pengalaman traumatis, riwayat penyalahgunaan zat dalam keluarga, dan disiplin yang tidak konsisten oleh orang tua dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan perilaku.

Psikologis: Beberapa ahli percaya bahwa gangguan perilaku dapat mencerminkan masalah dengan kesadaran moral (terutama, kurangnya rasa bersalah dan penyesalan) dan defisit dalam proses kognitif.

Sosial: Status sosial ekonomi rendah dan tidak diterima oleh rekan-rekan tampaknya menjadi faktor risiko untuk pengembangan gangguan perilaku.

Apa pun alasannya, tindakan kekerasan dan perundungan seperti kasus pengeroyokan suporter Persija yang memakan korban jiwa, tidak boleh terulang. Meski tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai gangguan mental, namun para pelaku harus mendapatkan hukuman.

Jika melihat seseorang memiliki gejala-gejala gangguan mental seperti berperilaku curang, agresif dan merusak, segera hubungi pihak berwajib. Atau jika melihat gejala tersebut dialami oleh salah satu anggota keluarga, segera bawa ke psikolog untuk mendapatkan terapi yang tepat. [Ivana]