Ilustrasi

Asian Games 2018 secara resmi ditutup 2 September 2018. Hasilnya, Indonesia berhasil mencetak sejarah baru dalam raihan medali dan menujukkan kesiapannya untuk menjadi bangsa yang berprestasi.

Berpelukannya Prabowo dan Joko Widodo, dua kandidat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 berselimutkan Sang Dwiwarna juga menjadi isyarat Indonesia siap bersatu membangun kejayaannya di mata dunia.

Asian Games menjadi oase di tengah riuhnya Pilpres. Medali demi medali yang diraih oleh para atlet Indonesia seakan menjadi penyejuk yang mendahagakan kegelisahan anak bangsa yang selama ini diresahkan dengan tingginya ketimpangan sosial, anjloknya nilai rupiah, terpuruknya industri nasional dan membengkaknya utang luar negeri.

Megahnya perhelatan Asian Games di Jakarta dan Palembang membangkitkan rasa nasionalisme bahwa Indonesia memiliki kebanggaan sebagai negara kesatuan yang berwibawa. Meski prestasi Asian Games 2018 di bawah prestasi Asian Games 1962, namun apa yang dicapai Indonesia saat ini jauh melampaui target dan menunjukkan bahwa Indonesia tengah bersemangat untuk berdiri sejajar dengan negara-negara besar lainnya di Asia.

Dari sudut pandang tersebut, semangat Asian Games 2018 mesti diadopsi dalam Pilpres 2019. Sama seperti olahraga, Pilpres harus menjadi ajang perlombaan bagi semua anak bangsa, tanpa memandang apa agamanya, dari mana ia berasal, apapun aliran politiknya, membangun peradaban Indonesia yang adil dan makmur sebagaimana amanat dan cita-cita proklamasi.

Kontestasi dua poros besar antara pasangan Prabowo-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin harus menjadi wadah bagi segenap komponen bangsa untuk berlomba-lomba merebut simpati rakyat memenangkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa pada Pilpres harus dimanifestasikan dalam bentuk penghormatan terhadap pemeluk agama dan tidak melakukan pemaksaan keyakinan kepada mereka yang tak seagama.

Nilai-nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus dimanifestasikan dalam bentuk menjaga agar ucapan dan ungkapan jauh dari kata-kata kebencian seperti ungkapan cebong dan kampret.

Nilai-nilai Persatuan Indonesia harus dimanifestasikan dalam bentuk persatuan anak bangsa dalam melawan imperialisme dan semua musuh utama bangsa ini.

Nilai-nilai Kerakyatan harus dimanifestasikan dalam bentuk pengedepanan pandangan yang santun, kritik yang konstruktif dan saran-saran yang membangun.

Nilai-nilai Keadilan Sosial harus dimanifestasikan dalam bentuk penggunaan momen Pilpres sebagai agenda seluruh rakyat, bukan hanya dua pasangan kandidat Pilpres yang berkontestasi, bukan hanya milik para pemodal dan tuan-tuan berkantong tebal bersama para pendukungnya yang fanatik. Jangan sampai kelak setelah Pilpres selesai, rakyat ditinggalkan.

Pilpres bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dua kubu yang berkontestasi harus menunjukkan keteladan dengan berlomba-lomba menjadi yang terbaik, berkampanye dengan baik, berbicara baik, berbuat baik serta menjunjung tinggi solidaritas dan sportifitas.

Pilpres juga bukan ajang untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar karena sejatinya kemiskinan, ketimpangan sosial, utang yang besar dan kehancuran industri nasional adalah murni produk penjajahan imperialisme.

Prabowo dan Joko Widodo bukan dua manusia super hero yang sanggup melawan imperialisme itu sendiri-sendiri. Mereka harus dipandang sebagai dua putra terbaik bangsa yang tengah berjuang untuk bangsa ini.

Ada amanah berat yang telah menanti pemenang untuk mengeluarkan rakyat berpenduduk keempat terbesar di dunia ini keluar dari jerat imperialisme. Siapapun yang menang mesti didukung dan dihormati dengan persatuan yang luas.