“Yun Ji tidak tahu mengapa suara itu selalu menjawab curhatannya beberapa hari ini, apalagi yang paling menyebalkan adalah suara itu mengaku jika dia adalah bintang,”

Malam yang dingin, langit yang bewarna hitam pekat. Seorang gadis manis dengan seragam tempat ia bekerja berjalan lesu ke apartement kecil miliknya yang terletak di lantai 5. Jam menunjukkan pukul 22.00 saat ia keluar dari minimarket tempat nya bekerja dan ia sudah menghabiskan waktu untuk berjalan seama 15 menit hingga ke apartementnya. Gadis dengan name tag ‘Hwang Yun Ji’ itu dengan tergesa memasuki apartement kecilnya, mengganti cepat seragamnya dengan baju tidur dan berjalan ke arah ranjangnya yang terasa dingin ingin cepat ditiduri.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan ranjangnya, dorongan kuat merasukinya untuk berjalan ke arah balkon kamarnya yang sudah tertutup rapat. Yun Ji tidak tau mengapa kini ia memilih membuka pintu balkon dan berdiri di pagar pembatas dengan angin malam yang sebenarnya tak baik bagi kesehatan dibanding tidur nyenyak di ranjangnya dengan lilitan selimut tebal.

Yun Ji tidak pernah berpikir bahwa saat ia meluapkan keluh kesahnya di balkon kamar perihal hari-harinya –awalnya memang tidak ada yang aneh- namun beberapa waktu ini ada suara bass yang selalu menjawab setiap perkataannya. Padahal Yun Ji yakin bahwa ia masih waras untuk berpikir bahwa hantu yang menjawabnya. Oh, sungguh itu terdengar tak masuk akal.

“Melelahkan sekali,” Yun Ji meregangkan otot-ototnya dan mengusap kedua tangan untuk mencari kehangatan sembari menatap lurus ke depan pada gedung apartement di sebrang. Semua lampu apartement itu sudah dimatikan pertanda penghuninya telah larut dalam mimpi. Membuat Yun Ji lebih leluasa melakukan rutinitasnya belakangan ini.

“Hari ini menyebalkan sekali,” Yun Ji berkata sedikit keras, tak perlu takut lagi jika ia akan dicap aneh karena berbicara sendiri, sebab lihatlah, semua orang sudah terlelap sepertinya.

“Kenapa?” Suara lain menyahuti, terdengar rendah dan begitu membuat bulu kuduk meremang. Yun Ji cukup terkesiap, namun ia berusaha untuk tenang dan beranggapan bahwa itu mungkin saja suara orang di sebelah apartementnya yang belum tidur. Tapi, setelah Yun Ji pikir-pikir lagi tidak mungkin suara itu menjawab semua perkataannya beberapa waktu belakangan ini jika dianggap itu adalah kebetulan belaka.Tidak.Itu bukan kebetulan. Apa jangan-jangan ada yang mengisenginya?

“Sebenarnya kau itu siapa?” Yun Ji melihat sekitar, namun yang ia dapat hanyalah kekosongan, sedikit demi sedikit rasa takut itu menguasainya.

“Lihatlah ke atas langit!” Dengan cepat Yun Ji mendongak, bahkan ia terkagum dengan gerakkan terlampau cepatnya ini.

Di langit hanya ada warna hitam pekat, lalu beberapa bintang dan selebihnya hanya gelap.

“Apa maksudmu?”

“Kau boleh menganggapku bintang,” Jawab suara itu dengan nada yang tak dapat Yun Ji tebak. Pelipis gadis itu semakin berkerut, antara kesal dan bingung.

“Kau pikir aku anak-anak!” Yun Ji sedikit menaikkan volume suaranya, menatap salah satu bintang di atas sana dengan tatapan sinis mematikan. Oh ayolah, kau tak percaya bintang itu yang berbicara, namun sekarang kau menatap bintang itu seolah-olah ia sudah membuatmu kesal setengah mati.

“Tidak. Kau bukan anak-anak, tapi kau menggemaskan seperti anak-anak,” Terdengar kekehan di akhir. Yun Ji tak mengerti kenapa ia merona begitu hebat. Lalu ia teringat beberapa waktu belakangan ini suara itu selalu saja melemparkan gombalan-gombalan di setiap ucapannya.

“Uh berhentilah, aku membencimu!” Yun Ji benar-benar tak berniat mengatakan itu, hanya saja debaran jantungnya membuatnya tak bisa berpikir jernih.

“Oh? benarkah? bukankah kau menyukai bintang? kenapa kau membenciku? aku kan.. bintang” Suara itu terdengar lagi, kali ini membuat Yun Ji menghentakkan kakinya sebal.

“Kau bukan bintang.Tak ada bintang yang menyebalkan” Oh, kali ini mereka benar-benar terlihat seperti anak kecil yang berkelahi untuk memperebutkan mainan.

“Aku tidak menyebalkan, kok. Aku ini baik sekali, kau tak lihat jika selama ini aku bersedia mendengar semua curhatanmu di balkon?” Bagus sekali.Sekarang Yun Ji benar-benar mati kutu.

“Aku tidak memintamu untuk melakukannya” Yun Ji masih melihat ke atas langit sana, pada salah satu bintang yang bersinar paling terang.

“Ah, terserahmu lah. Omong-omong kau terlihat kelelahan saat memasuki apartement tadi” Suara itu menyahut lagi, kali ini membuat Yun Ji tersentak karena suara itu seakan-akan tau apa yang ia lakukan.

“Oh, kau memang menakutkan” Yun Ji sedikit bergidik saat mengatakannya.

“Jika aku tidak menakutkanmu lagi, apa kau mau menerimaku?” Ayolah, Yun Ji sudah tau kemana arah pembicaraan itu. Suara itu selalu mengatakan bahwa ia menyukai Yun Ji dan Yun Ji akan mempunyai seribu satu alasan untuk menolak. Lagipula, mana mau Yun Ji menerima pernyataan cinta sebuah suara yang bahkan ia tak tau bagaimana wujudnya.

“Bintang tidak pernah menyatakan cinta” Yun Ji sedikit mencebikkan bibirnya dan memutar bola mata kesal.

“Bagaimana jika aku bukan bintang, apa kau mau menerimaku ?”Belum menyerah juga rupanya, Yun Ji jadi sebal sendiri.

“Tidak”

“Ah? kenapa ?”

“Aku menyukai seorang pria” Yun Ji mengulas senyum manis saat teringat bahwa ia menyukai salah satu pria yang tinggal di apartement bawah. Pria tampan yang berkuliah di jurusan arsitektur dengan wajah datar andalannya.Namun tiba-tiba wajah Yun Ji menyendu saat teringat bahwa pria itu bahkan tak pernah menjawab sapaannya atau membalas senyumnya saat Yun Ji berpapasan dengannya.Benar-benar dingin sekali.

“Siapa ?”Suara itu terdengar ingin tau sekali.

“Itu privasiku. Jangan menanyakannya”

“Aku yakin bahwa aku lebih tampan dari orang yang kau suka itu”
Yun Ji tiba-tiba tertawa saat mendengar suara dengan penuh percaya diri, namun ada nada merajuk di dalamnya. Oh, ayolah, mana ada yang menyaingi ketampanan Oh Sehun si pria dinginnya.

“Kau benar-benar” Yun Ji masih terkikik geli, tapi tiba-tiba tawanya terhenti saat mendengar suara itu kembali menyahutinya.

“Hey, menunduklah ke bawah” Yun Ji mengangkat sebelah alisnya bingung, namun ia tetap melakukan hal itu. Dan tepat setelah ia menundukkan kepalanya ke bawah, ia melihat senyum seorang pria yang baru pertama kali ia lihat bahwa garis manis itu bisa bertengger di wajah datarnya.

“Bagaimana ?kau masih menolakku ?” Kalimat lain terlontar, Yun Ji masih blank dengan mata melotot dan mulut menganga lebar. Ia persis seperti seseorang yang kaget saat melihat hantu di malam hari yang dingin.

Yun Ji merasakan kakinya gemetar dan debaran jantungnya semakin meningkat saja tepat saat ia sadar bahwa betapa bodohnya ia selama ini, menganggap bahwa yang berbicara dengannya itu bukanlah manusia, namun nyatanya suara itu berasal dari apartement di bawahnya.

Dan lebih bodohnya lagi, ternyata itu suara…

“Aku Oh Sehun, mahasiswa jurusan arsitektur di Seoul University. Menyukai musik, buku dan..seorang gadis manis yang berada di apartement atas. Nama gadis itu adalah Hwang Yun Ji yang selalu bercerita kisah hidup dan pengalamannya setiap malam hingga aku menjadi tertarik” Sehun, pria itu menampilkan senyum lebar lagi. Berbeda sekali dengan wajah datar dan garis datar di bibirnya selama ini hingga Yun Ji mengucek matanya beberapa kali dan memperbaiki pendengarannya takut-takut jika ia sedang mengalami imajinasi berlebih karena selama ini memendam rasa pada Oh Sehun itu.

“A-apa ?” Yun Ji masih merasa ini tidak nyata.

“Seperti biasa, kau memang lemot” Ada dengusan di kalimat itu, “Aku.. Oh Sehun, bintang yang selama ini menemani setiap malammu dan ingin menjadi bintang di hatimu. Aku.. Oh Sehun mencintaimu, Yun Ji. Dan maaf jika aku tak pernah menjawab semua sapaanmu. Itu semua..karena aku tak ingin kau bisa menebak jika selama ini yang menanggapi semua curhatanmu adalah aku, Oh Sehun”

Yun Ji merasakan dunianya terbalik, berputar-putar hingga membuatnya pusing nyaris pingsan. Teringat kembali bagaimana selama ini ia membentak dan menjawab pedas setiap kata-kata dari Sehun –sebab Yun Ji benar-benar tak tau jika itu adalah suara Sehun- Dan Yun Ji berharap bahwa bumi menenggelamkannya sekarang juga. Shit, dimana lagi ia harus meletakkan wajahnya sekarang ?

Mungkin saking shocknya, Yun Ji tiba-tiba merasa tubuhnya limbung dan..akhirnya.. gelap.

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu