Ilustrasi

Penggunaan headset (perangkat jemala) atau earphone (penyuara telinga) saat ini sangat pesat. Seiring perkembangan zaman, audio visual menjadi salah satu elemen penting.

Efeknya headset atau earphone juga menjadi salah satu benda yang seakan wajib dimiliki dan dibawa ke mana-mana. Tapi waspada karena dua perangkat ini berbahaya dan menyebabkan gangguan pendengaran, bahkan tuli.

Melansir KlikDokter, kebiasaan mendengarkan bunyi-bunyian dengan headset atau earphone dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran, bahkan ketulian permanen. Sebenarnya tidak hanya headset atau earphone yang rentan mengakibatkan ketulian. Bagi yang bekerja di lingkungan yang menghasilkan suara keras seperti di pabrik, suara mesin, atau suara ledakan juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Jika dulu gangguan pendengaran atau ketulian identik dengan kelompok lansia, tapi sekarang telah merambah usia muda. Penyebabnya diduga kuat karena pemakaian earphone dan headset. Menurut penelitian, saat ini di Amerika Serikat sejumlah 1 dari setiap 5 remaja memiliki tingkat kehilangan pendengaran. Selanjutnya, tingkat gangguan pendengaran pada remaja adalah 30 persen lebih tinggi daripada remaja di tahun 1980-an dan 1990-an.

Sebetulnya data di atas tidak mengejutkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan laporan yang bahwa 1,1 miliar remaja dan dewasa muda di seluruh dunia berisiko untuk kehilangan kemampuan pendengaran dari kebiasaan mendengarkan musik terlalu keras atau lewat earphone dan headset.

Paparan suara kencang yang sering didengar berulang akan menyebabkan trauma akustik pada telinga, yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai noise-induce hearing loss (NIHL). Disebut juga oleh dr. Dina bahwa hal ini menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut di koklea telinga yang berfungsi sebagai reseptor suara.

Gejala NIHL pada pendengaran termasuk tinitius (suara berdenging atau berdesis di telinga), pusing berputar, gangguan pendengaran, dan ketulian.

Risiko yang terjadi pada gangguan pendengaran tergantung pada volume, desibel (dB), dan lamanya paparan suara. Intensitas suara di atas 85dB selama 8 jam per hari dapat meningkatkan risiko ketulian. Dan, ternyata, intensitas akibat penggunaan headset atau earphone bisa mencapai 110dB—sangat berbahaya!

Mendengarkan bunyi-bunyian, seperti musik atau menonton film menggunakan headset memang menyenangkan. Akan tetapi, kalau berlebihan juga tidak bagus bagi telinga Anda.

Perhatikan kiat-kiat berikut ini agar terhindar dari ketulian akibat penggunaan headset atau earphone:

1. Batasi penggunaannya

Ikutilah aturan 60/60, jika ingin menggunakan headset atau earphone sebaiknya tidak lebih dari 60 menit atau 1 jam per hari. Selain itu, jangan menggunakan kedua alat tersebut sambil tidur karena akan terpapar suara keras selama minimal 7 jam dalam sehari.

2. Batasi volume

Aturan yang kedua menyangkut volume bunyi yang didengarkan lewat headset atau earphone. Jangan mendengarkan lewat dua perangkat itu di atas 60 persen volume maksimalnya. Ingatlah bahwa volume yang lebih rendah dapat memperpanjang usai telinga tetap sehat.

3. Pilih headphone atau earphone yang tepat

Seseorang sulit menjaga volume pemutar musik tetap di bawah 60 persen dari maksimum karena kondisi bising di luar suara yang didengarkan lewat headset atau earphone. Ketika kebisingan di sekitar meningkat – seperti di pusat kebugaran atau di dalam moda transportasi seperti kereta – harus mengimbanginya dengan meningkatkan volume musik.

Solusi untuk ini adalah penggunaan headphone peredam bising (noise limiter). Jika kebisingan latar belakang dikurangi, volume suara dapat dikurangi, dan musik berkualitas tinggi dapat dinikmati pada volume yang lebih rendah. [Ivana]