PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bengkulu, memberikan penguatan kapasitas Perempuan, pada Rabu malam (10/10/2018).

Mengangkat tema “Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani!!!” Pelecehan seksual, perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan dan dilakukan tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain, baik secara verbal atau fisik yang merujuk pada seks. Bukan hanya pemerkosaan, namun aktivitas fisik seperti menyentuh bagian tubuh yang tidak seharusnya atau menggoda orang lain dengan sengaja dan memiliki tujuan tertentu pun dapat dikategorikan sebagai tindakan pelecehan seksual.

Di Indonesia kasus pelecehan seksual sedang marak terjadi, khususnya terjadi di transportasi umum. Akhir-akhir ini di media sosial sangat ramai memperbincangkan sebuah video yang merekam tindakan pelecehan seksual hingga rekaman tertangkapnya seorang pelaku pelecehan seksual di KRL.

Dengan narasumber : Valentina Edellwis Edwar, Instansi: Yayasan Pupa, Moderator: Ema Purba (Kabid PKP GMKI Bengkulu)

– Setiap orang berpotensi menjadi korban dan pelaku dan setiap tempat berpotensi menjadi lokasi kejadian.
– Kata kunci kekerasan seksual: ketidaksepakatan
– Hal yang bisa kita lakukan untuk menangani kekerasan seksual adalah merubah pola pikir terlebih dahulu, bahwa perempuan dan laki-laki setara sehingga tidak pantas perempuan mengalami kekerasan seksual.
-Tubuh seseorang adalah hak dan otoriras irang tersebut, sehingga tidak ada hak orang lain atas tubuh orang lain.
-Harapannya pemerintah segera mengesahkan rancangan Undang-undang (RUU) penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Dalam sambutannya Ema Purba selaku Kabid PKP GMKI Bengkulu, menyatakan “Saya Menghimbau dan mengajak teman-teman dari seluruh elemen masyarakat OKP kepemudaan untuk bisa sama-sama bekerjasama bersinergi untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual yang ada di Bengkulu, dan mari sama-sama mendorong pemerintah untuk segera mensah kan Rancangan Undang-undang(RUU) pengahapusan kekerasan terhadap perempuan,” ungkapnya.

Undangan yang hadir yakni yang tergabung dalam Cipayung, GMNI (Gerakan mahasiswa Nasionalis Indonesia), PMKRI (perhimpunan mahasiswa katholik republik Indonesia)
HMI(Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan mahasiswa islam Indonesia), Perkantas (persekutuan kampus antar universitas), UKM KMK Unib (Unit kegiatan Mahasiswa Kerohanian mahasiswa kristen Universitas Bengkulu), BEM KBM Unib(Badan eksekutif mahasiswa keluarga besar mahasiswa Universitas Bengkulu).

Hasil diskusi didapatkan, bahwa kekerasan seksual merupakan tindakan tidak menyenangkan yang bernada seksual yang tidak disetujui oleh korban. Sementara faktor penyebab kekerasan seksual yakni Patriarki, Kapitalisme. Dan kekerasan seksual bagi korban berdampak pada isik, psikis, dan seksual. [Mey Borjun]