Bung Karno dan rombongan melakukan kunjungan ke Rusia pada tahun 1956. Saat itu Bung Karno menyempatkan untuk berkunjung ke Uzbekistan, yang belum menjadi sebuah negara kala itu, sebab masih tergabung dalam Uni Soviet.

Dengan semangat membara seperti biasa, Bung Karno pernah berpidato di Uzbekistan yakni tepatnya di Stadion Pakhtakor yang merupakan stadion termegah di Tashkent, Uzbekistan.

Kunjungan Bung Karno di Uzbekistan, makin berarti dengan kesempatan melihat dari dekat Samarkand, salah satu kota kuno di Uzbek. Di Samarkand, Bung Karno dan rombongan dari Indonesia, menyaksikan dari dekat bangunan-bangunan kuno semacam candi yang sangat indah dan sarat kisah sejarah.

Masih menggunakan jalan darat, rombongan Bung Karno singgah di Asjhabad yaitu ibu kota Republik Turkmenia. Dari Turkmenia, perjalanan Bung Karno melanjutkan kunjungannya di Negeri Beruang Merah itu menyeberangi Laut Kaspia menuju semenanjung Apsjeron di mana Baku yaitu ibu kota Azerbaijan Soviet terletak.

Diceritakan Roso Daras dalam tulisannya, sewaktu perjalanannya ke kota Baku, Presiden Sukarno melihat tempat-tempat pengeboran minyak tanah. Pemerintahan setempat memperkenalkan diri dengan cara-cara baru bagaimana mereka memproduksi minyak tanah yang digunakan di Azerbaijan.

Di pabrik penyaringan minyak tanah Baku tamu agung disambung oleh kaum buruh dan ahli dari pabrik itu. Mereka minta Presiden Sukarno menyampaikan pengharapan mereka yang sebaik-baiknya kepada rakyat Indonesia.

Dalam pidato jawabannya Presiden Sukarno mengatakan bahwa di Indonesia juga ada banyak buruh minyak tanah. Mereka bekerja di Sumatera; Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Juga di Jawa Timur, di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Tak lupa Bung Karno pun berjanji menyampaikan salam persaudaraan dari kaum buruh minyak tanah Baku kepada mereka.

Sesudah Azerbaijan rombongan Presiden Sukarno mengunjungi Sukhumi, ibu kota Republik Otonom Abkhazia (suatu bagian dari Georgia Soviet). Di pelabuhan Sukhumi mereka naik kapal penjelajah “Mikhail Kutuzov”.

Bersamaan dengan itu bendera standar Presiden RI dikibarkan di atasnya. Kapal penjelajah itu dengan diiringi oleh dua kapal pelempar ranjau eskador berjajar di sepanjang pantai Laut Hitam Kaukasus menu Sotji yaitu suatu kota pesanggrahan.

Pada waktu itu di Sotji seperti juga di daerah-daerah lain di bagian Selatan dari UR2SS yang dikunjungi oleh tamu-tamu maka hawanya kebetulan sangat baik. Tanam-tanaman serta alam dari daerah subtropis Soviet itu memperkenangkan tamu-tamu tentang tanah air mereka – Indonesia.

Para tamu mengunjungi beberapa sanatorium tempat beristirahat buruh batubara dan buruh perusahaan pembikinan kapal.

Dalam pidatonya di muka rapat raksasa yang diadakan khusus untuk menyambut tamu-tamu Indonesia Presiden Sukarno mengatakan:

“Kalau bendera-bendera semua negeri yang progresif akan berkibaran bersama, dan semua negeri itu akan bekerjasama, pasti imperialisme dan kolonialisme itu jatuh dan semua bangsa di dunia dapat kemungkinan untuk penghidupan yang sejahtera dan bahagia.”

Dimanapun berpijak, Bung Karno menyuarakan isi hatinya tentang keinginan kuat menumpas imperialisme dan kolonialisme, sebab semua bangsa termasuk Indonesia berhak sejahtera tanpa diracuni oleh imperialisme dan kolonialisme. [Eva De]