Pedomanbengkulu.com, Seluma – Ketua DPRD Seluma Husni Thamrin, tersangka kasus dugaan korupsi peningkatan jalan Nanti Agung Kecamatan Ilir Talo, mengaku prihatin karena banyak Aparatur Sipil Negera (ASN) yang ikut menjadi korban dalam kasus yang menjeratnya.

“Saya secara pribadi,dalam kasus ini saya sangat prihatin. Yang menjadi korban terlalu banyak ini ada 14 orang, 12 diantaranya pegawai negeri yang berdasarkan undang-undang sekarang harus diberhentikan. Ini kan kasian,” kata Husni, di Kejaksaan Negeri (Kejari) Seluma, Rabu (03/10/2018).

Husni menilai, dalam kasus dugaan korupsi peningkatan jalan Nanti Agung Kecamatan Ilir Talo, ada unsur politik. Karena, di tahun 2013, terhadap kegiatan tersebut telah keluar audit BPK dengan kerugian negera sebesar Rp 12 684 ribu. Kemudian, dilakukan audit ulang, muncul audit independen menyatakan kerugian negara mencapai Rp 487 juta.

“Tahun 2013 sudah diaudit BPK kerugian negera Rp 12684 ribu, terjadi pergolakan politik di Kabupaten Seluma diaudit ulang, muncul audit independen menyatakan kerugian mencapai 487 juta. Ya sudah sekarang yang mereka cari di tahun 2013 adalah saya, sekarang saya sudah ditetapkan. Sudah selesai sampai disaya. Jangan sampai ada lagi PNS seluma yang jadi korban dari kasus ini,” tandasnya.

Kasus dugaan korupsi peningkatan jalan Nanti Agung Kecamatan Ilir Talo ini, bergulir sejak tahun 2013 lalu. Banyak ASN Seluma yang terlibat dalam kasus ini, diantaranya mantan Kadis PU Seluma Herawansyah dan Achemadin juga mantan Kais PU Seluma yang pada tahun 2013 menjabat sekretaris.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Bengkulu telah menetapkan ketua DPRD Seluma Husni Thamrin sebagai tersangka, Husni diduga merupakan pemilik paket pekerjaan tersebut. Saat ini, kasus tersebut telah dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan akan segera memasuki meja hijau. [Sepriandi]