Tak ada yang lebih menyedihkan daripada melihat kekasihmu gila.

Aku mencintainya. Benar-benar mencintainya sampai-sampai aku rela jika aku saja yang menanggung semua penyakitnya. Dulu dia selalu menatapku hangat, menjadikanku sandaran bagi dirinya yang rapuh, menghiburku kala aku bersedih dan masih banyak lagi hal yang tak bisa aku jabarkan satu persatu.

Wajahnya yang cantik dan meneduhkan mulai terlihat kusam, rambutnya yang semula tersisir rapi kini mulai berantakkan, warna merah di bibirnya tak ada lagi, hanya diisi oleh kesedihan yang amat mendalam. Menatapku kosong dengan sodoran permen tiap malam. Aku tidak tau apa maksudnya memberiku permen dikala aku datang menjenguknya yang berada di dalam kamar.

Tak ingin menyakitinya, aku selalu menerima permen itu dengan senyuman lirih. Berharap gadisku bisa pulih kembali seperti dulu. Kini dia hanya mampu meringkuk di sudut kamar sambil sesekali berteriak histeris, menjambak rambut sendiri ataupun melempar barang yang berada di dekatnya.

Tragis. Aku tak menyangka bahwa seperti ini perjalanan hidup gadisku. Aku sedih melihatnya seperti ini. Aku ingin dia kembali lagi seperti dulu.

Malam ini langit begitu pekat tanpa bintang, aku baru saja pulang dari kantor dan tujuanku langsung pada kamar dimana gadis ku berada setiap saat tanpa pernah lagi menikmati dunia luar yang menjadi asing baginya.

Aku membuka pintu perlahan, mendapati sesosok tubuh yang meringkuk di sudut kamar dengan kepala yang tenggelam diantara kedua lutut. Aku mendekat perlahan, meninggalkan bunyi derap sepatu yang tersamarkan oleh gumaman lirih dari gadisku.

“Hey, kau tak apa?” aku mendekat selangkah demi selangkah hingga tiba di depannya, lalu duduk menggunakan sebelah lutut sebagai penopang, mengusap bahu yang bergetar itu dengan lembut hingga ia tersadar dan mengangkat kepalanya dengan deraian air mata membasahi pipi.

Senyum lirihku terulas, “Aku di sini, dear…” bisikku lembut padanya agar ia sedikit tenang. Berhasil, akhirnya tangisnya mulai berhenti dan ia memelukku begitu erat.

“Ini makanlah,” lalu ia melepaskan pelukkannya dan memberikanku satu buah permen sama seperti malam sebelum-sebelumnya.

“Ah, baiklah,” ucapku seperti biasa, mengambil alih permen itu dan memakannya secepat kedipan mata di depan gadisku yang mulai menampilkan senyum.

Tak beberapa lama aku merasakan kepalaku berputar-putar, kerja syarafku mulai melemah yang aku yakin bahwa kesadaranku sebentar lagi akan segera menghilang. Hah, sama seperti malam-malam yang lalu, saat aku memakan permen ini maka aku akan tertidur hingga esok paginya. Aneh sekali.

Tapi disela mataku yang perlahan tertutup, aku mendengar satu buah kalimat yang selalu gadisku lontarkan setiap malam diiringi kecupan singkat di atas dahi. Penuh kehangatan. Penuh rasa sesak yang entah mengapa bisa aku rasakan.

“Aku berharap kau segera sembuh setelah meminum obat itu, Chanyeol. Aku berharapa agar penyakit kejiwaanmu bisa pergi jauh dan kau akan kembali seperti Chanyeol yang dulu. Aku.. mencintaimu, Park Chanyeol.”

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu