Ilustrasi jalan raya retak akibat gempa.

PedomanBengkulu.com, Jakarta – Musibah bagai tak ada hentinya melanda negeri, isak tangis yang meraung-raung dari korban musibah seolah protes pada alam atas apa yang terjadi.

Indonesia, memang kerap diguncang musibah seperti gempa dan tsunami. Lokasinya bisa di mana saja. Waktunya pun bisa kapan saja.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, sampai saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu secara akurat dan presisi memprediksi kapan gempa bumi terjadi.

Jika ada pendapat yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, LIPI memastikan itu adalah hoaks.

Sepanjang tahun 2018, Indonesia berkali-kali diguncang gempa bumi. Beberapa di antaranya tercatat berkekuatan lebih dari Magnitudo 6.

LIPI menyebutkan, kekuatan gempa di Indonesia bagian timur lebih besar dibanding Indonesia bagian barat.

“Pergerakan lempeng di Sumatera 15 mm per tahun, di Palu Koro 40 mm per tahun. Hampir tiga kali lipat,” kata Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, dilansir dari Liputan6, Kamis (4/10/18).

Meski demikian risiko lebih besar justru mengintai Indonesia bagian barat. Ini karena pembangunan di Indonesia timur tidak sepesat di Indonesia barat.

Mengingat Indonesia sangat rawan bencana, masyarakat perlu disadarkan soal mitigasi bencana. Dipersiapkan agar selalu siaga melalui penyadaran publik lewat publikasi temuan ilmiah tentang kebencanaan.

“Fakta ini harus diyakini agar masyarakat Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan bencana,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko.

Gempa yang melanda Palu, Donggala, dan Sigi sejatinya memberikan banyak pelajaran juga peringatan bagi kita, misalnya tentang lindu di darat yang ternyata bisa memicu tsunami dahsyat.

Orang juga jadi kenal istilah likuifaksi (liquefaction) yang menjelaskan apa yang terjadi di Kompleks Balaroa. Masyarakat pun akhirnya sadar bahwa Indonesia Timur pun rawan gempa.

Dalam akun instagramnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan riwayat gempa merusak yang pernah melanda ibu kota Sulawesi Tengah itu dan sekitarnya pada tahun 1907 hingga 2017. Artinya, bencana bukan kali ini saja menyapa. Namun, kebanyakan warga tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah juga bukan satu-satunya bencana yang terjadi pada 2018.

Sebelumnya, gempa yang merusak terjadi di Lebak, Banten. Rentetan lindu juga mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat ada akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2018, menghancurkan bangunan dan menewaskan 564 orang.

Gempa dengan magnitudo 6,3 dan 6,0 mengguncang Sumba Timur pada Selasa 2 Oktober 2018. Kekuatan guncangannya membuat orang-orang histeris.

Sementara itu, dari Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava pijar hingga muncrat ke lautan.

Dalam menghadapi bencana yang bertubi-tubi, rasanya Indonesia perlu belajar dari Jepang.

Gempa Kanto 1923, yang menewaskan 140 ribu orang di Tokyo, menjadi pelajaran berharga bagi Jepang. Kini, Negeri Sakura memiliki sistem peringatan dini paling baik di dunia.

Dan, pada Juli 2018, 225 orang meninggal dunia dalam bencana banjir yang terjadi di musim panas.

Namun, sekali lagi, warga Negeri Sakura menunjukkan ketangguhannya.

Japan Times menyebutkan saat gempa menyebabkan penerbangan di Hokkaido dibatalkan, para petugas bandara dilaporkan tetap melakukan tugasnya dan memperhatikan kesejahteraan para turis dan mereka yang terjebak di sana.

Tatkala layanan sistem transportasi umum dihentikan, para karyawan terus melapor untuk bertugas. Beberapa rela berjalan berjam-jam hanya untuk tiba di tempat kerja.

Sementara, warga Jepang umumnya tetap mempertahankan ketenangan dan kewarasannya. Di tengah bencana, mereka tetap tertib untuk antre membeli kebutuhan dasar.

Tak ada penjarahan, tak ada yang merasa berhak untuk egois. Warga tetap saling menolong. Mereka sadar benar, ketika bencana terjadi, semua orang adalah korban. [Ivana]