Para pengungsi di Sulawesi Tengah akibat gempa dan tsunami yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut hampir sepekan yang lalu.

Gempa Sulawesi yang terjadi Jumat (28/9) lalu menyita perhatian masyarakat. Sudah banyak relawan yang diterjunkan ke sana untuk membantu para korban atau mencari korban yang masih belum ditemukan. Meski memikul tugas tersebut, relawan ternyata juga rentan mengalami trauma secara psikologis, apalagi yang baru pertama menjalani peran tersebut.

Penyebab trauma yang dialami para relawan bencana bisa beragam. Mulai dari kesulitan dalam melepaskan ingatan akan penglihatan yang mengganggu sampai mengalami sendiri kejadian yang tidak mengenakkan saat membantu di pengungsian. Hal-hal tersebut sering membekas dalam ingatan.

Dari perspektif kesehatan mental, profesi relawan cukup berisiko tinggi. Survei pada 2015 yang dilakukan oleh Guardian menemukan hampir 4 dari 5 relawan telah mengalami masalah kesehatan mental.

Penelitian telah menunjukkan bahwa hingga 30 persen pekerja kemanusiaan dipengaruhi oleh Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.

Bahkan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asal Prancis yang bernama Medecins Sans Frontieres (MSF) sampai memberikan pelatihan untuk mengurangi terjadinya risiko ini. Para relawan dilatih utuk mengelola stres dan didorong untuk berbicara dengan konselor jika mulai merasakan adanya gejala trauma.

Trauma yang dialami relawan di daerah bencana bisa terjadi karena beberapa sebab. Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, terbayang kejadian di saat bencana dan melihat gambaran mengerikan di daerah penugasan bisa membuat para relawan mengalami trauma secara psikis.

Dijelaskan juga oleh dr. Sepriani, gejala yang muncul ketika relawan mengalami trauma psikis biasanya berupa jantung berdebar, mudah keluar keringat dingin, tangan dan kaki suka bergetar, dan sering sakit perut tanpa alasan yang jelas. Orang dengan trauma bisa mengalami diare berhari-hari atau justru mengalami konstipasi.

Hal paling parah yang bisa terjadi akibat trauma karena membantu di daerah bencana adalah depresi dan gangguan kecemasan. Perlu Anda ketahui, phobia juga bisa muncul akibat trauma yang berkepanjangan.

Ada beberapa jenis trauma psikis yang bisa dialami para relawan di daerah bencana, di antaranya adalah:

1. Reaksi stres akut

Reaksi stres akut atau Acute Stress Disorder (ASD) bisa terjadi dalam minggu-minggu setelah peristiwa traumatis. Kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan dan setidaknya berlangsung selama tiga hari hingga satu bulan. Orang dengan ASD biasanya memiliki gejala yang mirip dengan orang yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD).

2. Post-traumatic stress disorder (PTSD)

PTSD atau gangguan pascatrauma adalah kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh kejadian mengerikan, baik mengalaminya atau menyaksikannya. Gejalanya mungkin termasuk teringat masa lalu, mimpi buruk, gangguan kecemasan yang parah, serta pikiran yang tidak terkendali tentang peristiwa tersebut.

Menurut dr. Sepriani, PTSD bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Jika gejala PTSD yang dialami semakin parah, berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan mengganggu fungsi sehari-hari, segera periksakan diri ke ahli kejiwaan.

3. Gangguan penyesuaian

Jenis trauma ini merupakan yanng paling parah dan bisa berujung pada phobia, karena berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut dr. Sepriani, jika seseorang melihat orang lain tertimpa reruntuhan, dia akan mengalami stres saat kembali ke kota besar, di mana banyak terdapat gedung-gedung tinggi. Dalam kata lain, orang tersebut bisa saja menjadi phobia terhadap gedung tinggi, tembok tinggi, atau takut dengan segala hal yang berhubungan dengan bangunan.

Selama ini relawan bencana dianggap sebagai orang yang kuat untuk membantu korban bencana alam seperti gempa Sulawesi baru-baru ini. Akan tetapi, relawan tetaplah manusia yang juga bisa mengalami trauma seperti korban. Jika hendak menjadi relawan, siapkan mental dengan baik, jangan sampai mengalami trauma sepulang dari bertugas di pengungsian. [Ivana]