Menurut Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia, untuk hal-hal yang strategis, pemerintah harus pakai BUMN sebagai ujung tombak. BUMN sebagai implementer. Banyak negara bisa. Singapura bisa. Tiongkok bisa. Indonesia juga harus bisa.

Untuk itulah, BUMN-BUMN Indonesia perlu merekrut manajer-manajer, insinyur-insinyur, direksi-direksi yang kapabel. Tidak mungkin tidak ada orang-orang handal di Indonesia. Apakah kita tidak percaya kepada bangsa kita sendiri? Yang banyak orang-orang yang tidak diberikan kesempatan.

“Saya kembali, pengalaman saya di tentara. Ada sebuah adagiu, sebuah ajaran klasik, disemua tentara diseluruh dunia. Ajarannya adalah “there are no bad soldiers, only bad commanders”, tidak ada prajurit yang jelek, yang ada hanya komandan-komandan yang jelek. Yang ada hanya pemimpin-pemimpin yang jelek. Kalau dipimpin dengan baik, saya yakin anak-anak muda, profesional-profesional kita bisa. Saya yakin, dan saya sudah buktikan berkali-kali,” ungkap Prabowo Subianto.

Sebagai contoh, bangsa Indonesia bukan bangsa yang punya salju. Ada salju di puncak Gunung Jayawijaya, tapi rakyat Indonesia rata-rata belum pernah bertemu salju. Tapi, waktu Prabowo bikin tim untuk masuk ke Himalaya, anak-anak Indonesia yakin bisa sampai ke puncak, dan mereka tidak kalah dari bangsa-bangsa yang sudah punya salju dan punya gunung seperti di Eropa. Kita berlatih hanya tiga bulan. Banyak pendaki negara lain yang berlatih tiga, empat tahun tetapi gagal mencapai puncak Everest. Tiga bulan berlatih, putera-putera Indonesia bisa sampai dipuncak dunia, dan jadikan Indonesia bangsa Asia Tenggara pertama yang berhasil.

Kekayaan Alam Indonesia Harus Diolah di Indonesia

Kekayaan alam Indonesia harus diolah di Indonesia. Kenapa? Karena kita bisa tambah pendapatan negara dari mengolah kekayaan alam yang sekarang banyak di jual mentah. Karena mentah, karena belum diolah, dijual murah. Indonesia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah dari bahan alam sendiri.

Bahkan, Prabowo mendapat laporan, jika dihitung selama 30 tahun terakhir, kehilangan nilai tambah karena ekspor konsentrat tembaga mencapai $108 milliar. Untuk gas alam, karena jual mentah selama 30 tahun, Indonesia kehilangan kesempatan nilai tambah $225 milliar. Dua komoditas ini saja, sudah $333 milliar atau Rp4.329 triliun yang tidak diolah.

Sebagai contoh, konsentrat tembaga. Tahun 2015 lalu Indonesia ekspor konsentrat sekitar 3 juta ton dengan harga $1.499 per ton. Dari ekspor ini Indonesia dapat $4,5 milliar. Padahal jika Indonesia olah di dalam negeri jadi tembaga, emas, perak, asam sulfat dan slag, Indonesia dapat $8,1 milliar. Indonesia hilang kesempatan dapat nilai tambah $3,6 milliar, sekitar Rp46,8 triliun setiap tahun.

Contoh, gas alam. Pada tahun 2015 lalu, Indonesia ekspor gas alam sejumlah 3.100 MMSCD atau 20 juta ton. Indonesia jual sekarang $7 per MMBtu. Total Indonesia dapat $7,2 milliar. Padahal kalau diolah terlebih dahulu jadi methanol, olefin dan ammonia, bisa dapat $14,7 milliar. Lebih dari dua ratus persen pendapatan naik, jika melakukan pengolahan.

Ini masalah besar, tapi juga kesempatan besar. Sudah dibiarkan keuntungan ekspor Indonesia hilang, kita juga tidak mau olah sumber daya alam sendiri. Kalau diolah didalam negeri, Indonesia bisa menjadi negara sangat kaya. Indonesia akan menjadi negara mungkin keenam terkaya di dunia. [Mey Borjun]