Mengenai Perjalanan Bung Karno dan rombongan ke Uni Soviet, pada tanggal 8 September 1956 Presiden Sukarno bertamu ke rumah Ketua Dewan Menteri Uni Soviet N.A. Bolganin yang sedang bercuti di Sotji bersama keluarganya. Mereka pun terlibat ramah tamah yang penuh kehangatan laksana dua sahabat karib.

Dalam tulisan Roso Daras disebutkan sebagai penutup perjalanan berkeliling Uni Soviet, Presiden Sukarno mengunjungi Stalingrad. Di situ menteri Luar Negeri Indonesia, Ruslan Abdulgani yang sebelumnya mengunjungi Moskow dan Leningrad menggabungkan diri dengan rombongan Presiden.

Sewaktu rombongan melewati jalan-jalan dan lapangan-lapangan Stalingrad tampaklah betapa besar hasil pembangunan kota pahlawan itu sehabis peperangan hebat tahun 1942.

Di bukit Mamayev yaitu tempat pertempuran yang amat sengit melawan tentara Hitler pada waktu pertahanan Stalingrad mereka menghormati mendiang pahlawan-pahlawan benteng besar di Wolga itu dengan upacara menghentingkan cipta.

Di atas salah satu pekuburan saudara tamu agung dari Indonesia meletakkan karangan bunga dengan tulisan: “Dari Presiden Indonesia Sukarno”.

Lokasi yang terletak di selatan Rusia itu telah menjadi kota bersejarah dengan patung perempuan raksasa yang sedang menghunus pedang ke atas. Kota yang ketika Bung Karno berkunjung masih bernama Stalingrad, kini bernama Volgograd.

Pertempuran hebat yang pecah di Stalingrad terjadi 13 September 1942. Guna membendung serbuan tentara Jerman, maka bala tentara Soviet membangun benteng pertahanan di bukit tersebut.

Mereka memasang kawat berduri, menebar ranjau, dan membangun parit-parit. Sejarah telah menuliskan, tentara Hitler berhasil menerobos benteng itu dan menewaskan banyak korban jiwa.

Ketika perang berakhir, tanah di atas bukit ini menjadi bergejolak oleh tembakan meriam. Sekira 500-1.250 serpihan logam ditemukan per meter persegi di bukit. Bahkan, hingga kini fragmen tulang dan logam masih terkubur di seluruh bukit. Dua puluh empat tahun setelah pertempuran, pada Oktober 1967, dibangunlah monument yang tampak sekarang.

Bung Karno sendiri merasakan kenangan heroik di Mamayev. Kesan itu begitu mendalam, bahkan terbawa hingga saat rombongan Bung Karno berlayar di sepanjang Kanal Wolga-Don dengan kapal “Alexander Polezhaev”.

Di sepanjang tepian kanal dan di dekat pintu air, tampak berpuluh-puluh ribu orang menyambut Presiden dengan gembira.

Sementara itu, wakil-wakil kotapraja menganugerahkan kepada Presiden sebuah peti indah berisi tanah yang diambil dari Bukit Mamayev. Dengan menerima tanda peringatan itu Presiden Sukarno menyatakan bahwa rakyat Indonesia yang juga telah menumpahkan darahnya untuk kemerdekaan negerinya menjunjung tinggi peranan Stalingrad sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan.

Perjalanan panjang di nigeri Tirai Besi itu, menapaki hari-hari terakhir. Kemudian pada tanggal 9 September 1956 malam utusan-utusan Indonesia kembali ke Ibukota Moskow.

Jarak yang mereka lewati selama kunjungan tidak kurang dari 11.000 km. Tamu-tamu Indonesia itu berjumpa dengan banyak orang Soviet dari bermacam-macam bangsa: Rusia, Uzbek, Turkmen, Tartar, Kazakh, Azerbaidjan, Georgia, Abhkazia.

Semua bangsa-bangsa itu menerima Bung Karno dan rombongan, sebagai saudaranya sendiri. Dalam banyak kesempatan Bung Karno selalu menyatakan bahwa selama kunjungan ke Uni Soviet mendapat suatu keyakinan bahwa rakyat Soviet sungguh-sungguh cinta damai dan ingin bersahabat dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia.

Presiden Sukarno bahkan mengatakan, tali persahabatan antara Indonesia dan Uni Soviet itu berasal dari zaman perjuangan bersenjata. Kedua bangsa seperti merasakan sebuah spirit yang sama. Rakyat kedua negara sama-sama berjuang untuk kemerdekaannya.

Tak lupa, Bung Karno beberapa kali menyampaikan rasa terima kasihnya, atas sikap Uni Soviet yang selalu menyokong Indonesia dalam perjuangannya itu. Termasuk ketika menerima Indonesia menjadi anggota PBB.

Rombongan Indonesia mengunjungi Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik, atom, dan lapangan terbang Kubinka dekat Moskow. Di sana, mereka melihat angkatan udara dan penerbangan pesawat-pesawat jet.

Sementara di gedung pencakar langit Universitas Moskow di Bukit Lenin, Presiden Sukarno bertemu dengan ahli-ahli ilmu, para guru dan para pelajar di universitas itu.

Dalam sebuah upacara di Ruangan Besar yang dihadiri oleh dua ribu orang, Presiden Sukarno menerima diploma honoris causa dan diploma yang menetapkan beliau menjadi profesor kehormatan Universitas Moskow. [Eva De]