Alkisah, ada sepasang suami istri, si lelaki namanya Katimbolayu dan si wanita bernama Ringkong. Mereka dikaruniai dua orang anak perempuan. Anak yang sulung namanya Ringkitan sedangkan si bungsu bernama Mogogunoi Lumeno.

Kedua wanita ini telah tersohor, di desa-desa sekitarnya tentang kecantikan mereka. Tetapi bila dibandingkan kecantikan di antara dua bersaudara itu, masih banyak orang yang mengatakan si Lumeno lebih cantik.

Hal ini menyebabkan kakaknya Ringkitan cemburu padanya dan dendam. Kedua wanita itu dibuatkan oleh ayah mereka sebuah ayunan. Ayunan ini diikatkan pada cabang sebuah pohon yang terletak di atas gunung menghadap laut. Secara bergilir kakak beradik itu berayun, dan secara bergilir pula mereka itu mendorong pada si yang di ayun.

Pada suatu hari mereka pergi berayun dan kebetulan giliran si Ringktan yang mendorong. Si adiknya Lumeno tidak mengetahui kalau kakaknya sudah lama mendendam padanya. Kesempatan yang sudah direncanakan.

Ringkitan sudah pada saatnya dilaksanakannya. Si Ringkian mendorong adiknya dengan sekuat tenaga sehingga mengakibatkan adiknya terlempar ke jurang dekat pantai.

Untunglah si Lumeno sewaktu jatuh kejurang sempat tersangkut pada sebatang cabang pohon yang tumbuh di jurang tersebut, sehingga ia tidak cedera. Di atas cabang itu, ia duduk sambil menangis memikirkan nasibnya, tiba-tiba hinggap di situ seekor burung gagak dan menyapanya.

“Mogogunoi Lumeno apa yang terjadi padamu telah kami ketahui yaitu engkau dicelakai oleh kakakmu Ringkitan, akan tetapi jangan engkau takut karena hamba ini disuruh Tuhan,”

Tidak lama kemudian si Lumeno melihat sebuah perahu menuju tempat ia terjatuh. Di dalam perahu terdapat seorang yang gagah bersama beberapa pengikut-pengikutnya. Melihat itu si Lumeno lalu meminta pertolongan yang disampaikannya dengan menyanyi.

Suaranya merdu sehingga mempesona mereka itu. Si Mololewo yaitu pemimpin di antara mereka segara memerintahkan orang-orangnya untuk mencari siapa yang menyanyi memintakan pertolongan. Sudah sekian lama mereka mencari, belum diketemukan.

Tidak lama kemudian salah seorang di antara mereka menunjuk ke dalam air, yang mana terlihat seorang wanita cantik. Serentak semua yang berada di perahu meloncat terjun ke dalam air bersama Mololewo, dengan maksud menolong si gadis tersebut.
Perbuatan mereka itu ditertawakan si Lumeno secara diam-diam. Menurut Lumeno, perbuatan sedemikian berarti belum bisa berumah tangga. Adapun Mololewo beserta pengikut-pengikutnya dengan kesal langsung naik ke perahu dan meninggalkam tempat itu dengan marah-marah.

Sudah 9 hari si Lumeno berada di tempat itu, baru terlihat lagi perahu menuju ketempatnya. Di dalam perahu itu, terdapat beberapa orang yang dipimpin oleh Manimporok.

Si Lumeno segera menyanyi, sebagaimana dibuatnya pada rombongan Mololewo di waktu yang silam. Mendengar nyanyian itu si Manimporok segera memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dari mana suara itu. Dengan sekejap saja Manimporok telah menemukan orang yang meminta pertolongan itu, tidak lain seorang wanita cantik yang berada di dahan kayu, tetapi di atas perahu mereka.

Manimporok segera mengajak wanita itu turun, dan ternyata diikutinya ajakan Manimporok.

Si Manimporok tanpa ragu-ragu langsung bertanya siapa namanya. Jawaban dari wanita itu ialah Lumeno. Mendengar nama tersebut, serentak mereka kaget karena nama tersebut sudah banyak disebut-sebut orang tentang kecantikannya.

Dan memang benar apa yang disebut-sebut orang. Di dalam perjalanan pulang Manimporok bertanya pada Lumeno, kalau ia bersedia menjadi istrinya. Si Lumeno tidak menolak, sehingga Manimporok membawa si Lumeno ke rumahnya.

Berita tentang Manimporok dan Lumeno yang sudah menjadi suami istri sampai pada Mololewo. Timbul rasa iri Mololewo kepada Manimporok, dan tanpa pikir lagi berangkatlah Mololewo menuju tempat tinggal suami istri itu. Di sana ia disambut dengan ramah sekali.

Si Manimporok langsung menyuruh istri memasak karena si Mololewo diajak makan bersama dengan mereka. Tiba saatnya untuk makan, tetapi si Mololewo tidak mau makan. Alasan yang diberikan ialah, makanan yang disediakan tidak bisa dimakan, karena makanannya hanya hati binatang rongo (sebangsa binatang yang sebesar biji sawi) yang hidup di hutan.

Mendengar alasan itu, si Manimporok meninggalkan Mololewo dan istrinya, lalu menunju ke hutan untuk menangkap binatang tersebut. Sudah sekian lama Manimporok mencari binatang itu tetapi belum didapat, sehingga ia putus asa dan kembali pulang ke rumah. Si Manimporok tidak ada lagi, demikian pula istrinya.

Ternyata istrinya sudah dilarikan oleh Mololewo. Si Manimporok dengan susah hati memohon pada Tuhan agar istrinya dapat diketemukan. Sesaat kemudian terdengar bunyi burung dengan maksud menyampaikan berita berupa pesan dari istrinya.

Lumeno, pesanan itu adalah “Sembilan hari lagi si Mololewo akan mengadakan perantauan ke Mindanau. Di sana ia menempa besi, dan diharapkan kedatangan kamu di tempat tinggalnya secepat mungkin,”

Mendengar berita itu, cepat-cepat si Manimporok berkemas dan layarlah ia bersama-sama pengikutnya ke tempat si Mololewo untuk menahan istrinya. Burung yang memberitahukan berita sudah disuruh kembali oleh Manimporok, dan membawa kabar pula tentang kedatangannya. Si Lumeno tidak diam saja, langsung berangkat dengan perahu untuk menjemput suaminya.

Di satu pihak, si Mololewo yang sedang bekerja mendadak merasa kurang enak, seolah-olah ada terjadi sesuatu di rumahnya. Firasat buruk itu mendorong padanya untuk kembali pulang. Di dalam perjalanan pulang, perahunya meluncur dengan cepat.
Firasatnya terbukti benar, karena ternyata tampak padanya tidak jauh dari perahunya, sebuah perahu ditumpangi oleh Manimporok dan Lumeno dengan cepat meluncur ke arah tempat tinggal Manimporok. Mololewo segera mempercepat lagi perahunya serta dengan marahnya mereka itu dilemparinya dengan batu.

Adapun Manimporok segera memohon pada dewa Wowor Toka untuk menghalangi perjalanan Mololewo yang sedang mengejar mereka. Tidak berapa lama runtuhlah sebuah gunung di hadapan perahu Mololewo, akan tetapi si Mololewo dapat lolos dan terus mengadakan pengejaran.

Manimporok melihat ke belakang, perahu Mololewo makin dekat, ia pun segera meminta pertolongan pada dewa Sawut Mumu agar si Mololewo dihalangi maksudnya. Tiba-tiba sebatang kayu besar rebah dihadapan perahu Mololewo, akan tetapi masih lolos dan terus mengejar. Melihat si Mololewo tetap mengejar. Manimporok lalu meminta bantuan pada dewa Koo Wunong, dan sesaat kemudian air laut mulai surut, akan tetapi surutnya air itu tidak mampu menghalangi pengejaran Mololewo.

Akhirnya si Manimporok meminta bantuan pada dewa Pera Tasik, dan tiba-tiba perahu Manimporok sudah berlabuh. Adapun perahu Mololewo tidak dapat maju lagi sehingga ia ke belakang. Suami istri itu tidak dapat dikejarnya lagi.

Dengan gembira kedua suami istri itu pulang. Tempat tinggal mereka itu dikenal sekarang dengan nama gunung Manimporok, sedangkan Mololewo dengan perasaan malu menempati gunung Soputan yang berdekatan dengan gunung Manimporok.

Si Mololewo bila menyalakan api sedapat mungkin asapnya tidak menuju ke Manimporok disebabkan ia malu terhadap kedua suami istri tentang perbuatannya. [Mitha]