Ilustrasi pengungsian

Indonesia kembali berduka. Bencana alam berupa gempa dengan magnitudo 7,4 terjadi di provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018). Tak lama setelah gempa, tsunami kemudian muncul di kawasan Teluk Palu dan menghancurkan banyak rumah warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Tak hanya meluluhlantakkan rumah dan sarana umum yang ada di sekitar lokasi kejadian, gempa Sulawesi dan tsunami tersebut juga membuat banyak orang berisiko terkena berbagai gangguan kesehatan.

Melansir KlikDokter, berikut adalah beberapa penyakit yang rentan terjadi setelah gempa dan tsunami:

1. Diare

Bencana alam seperti gempa dan tsunami membuat warga yang menjadi korban kesulitan untuk mencari sumber air bersih, sehingga risiko diare menjadi sangat tinggi.

Diare terjadi akibat mengonsumsi makanan atau sumber air yang mengandung bakteri maupun virus berbahaya seperti norovirus, salmonella, dan rotavirus. Seseorang yang terkena penyakit ini akan mengalami sakit perut, buang air besar encer lebih dari tiga kali sehari, dan demam. Jika terjadi secara berkelanjutan atau tidak segera diatasi dengan tepat, diare bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) hingga kematian.

2. Hepatitis A

Tidak tersedianya sumber air bersih di tempat pengungsian korban gempa dan tsunami membuat risiko hepatitis A menjadi sangat tinggi. Penyakit ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui sumber air yang tercemar feses.

Orang yang mengalami hepatitis A akan mengalami beragam gejala, misalnya merasa letih, badan lemas, nyeri di bagian perut kanan atas, nyeri sendi dan otot, demam ringan, hilang nafsu makan, mual, sakit kepala, sembelit atau diare, juga kulit dan mata menjadi berwarna kuning

3. Meningitis

Meningitis alias radang selaput otak terjadi akibat infeksi bakteri, virus, jamur, maupun protozoa. Penyakit ini dapat menular melalui kontak jarak dekat, batuk, bersin, atau lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya.

Meningitis memberikan gejala awal berupa demam tinggi, yang kemudian diikuti dengan sakit kepala, terasa kaku pada leher, muntah, penurunan kesadaran hingga kejang.

4. ISPA

ISPA alias infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya infeksi virus maupun bakteri. Salah satu jenis dari ISPA yang paling sering ditemui adalah common cold, yang ditandai dengan gejala batuk dan pilek.

Korban gempa dan tsunami yang berada di pengungsian berisiko tinggi mengalami ISPA, karena penyakit ini bisa menular melalui droplet atau cairan yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin. Meski terlihat sepele, ISPA yang tidak segera diatasi bisa menyebabkan berbagai komplikasi hingga kematian.

5. Leptospirosis

Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, dan bisa terjadi akibat adanya paparan langsung pada air kencing tikus. Sumber air atau makanan yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut juga bisa menjadi media penyebaran penyakit ini.

Orang yang terjangkit leptospirosis akan mengalami gejala, seperti demam tinggi hingga menggigil, nyeri kepala, nyeri otot di daerah betis, sakit tenggorok disertai batuk kering, mata merah dan kulit menguning, mual, muntah-muntah, serta diare.

Mengingat adanya risiko penyakit tersebut, warga yang mengungsi akibat gempa dan tsunami diwajibkan untuk selalu berhati-hati. Jangan lupa untuk terus berupaya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sambil menunggu bantuan dari pemerintah pusat. Jangan biarkan bencana alam datang bersama wabah penyakit di pengungsian. [Ivana]