Ridwan Mukti saat akan menjalani persidangan yang menjerat dirinya dalam kasus suap fee proyek. [Foto Istimewa]
PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Keluarnya putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi Ridwan Mukti membuat kasus yang membelit mantan Gubernur Bengkulu tersebut melangkah maju.

MA tetap menjatuhkan hukuman pidana kepada Ridwan Mukti beserta istrinya Lily Martiani Maddari dengan pidana penjara masing-masing selama 9 tahun sesuai putusan banding yang dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim MA Krisna Harahap pada 17 September 2018 karena terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi serta tidak mengakui perbuatannya.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) melalui Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) sekaligus juru bicara kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, mengatakan pihaknya belum menerima salinan putusan dari MA meskipun kasus tersebut telah inkracht.

“Kita belum menerima salinan putusan dari MA terkait ini, dan kita masih menunggu, kita juga koordinasi terkait ini tapi belum ada kabar,” singkat Bahtiar saat di konfirmasi melalui telefon, Kamis (4/10/2018).

Sementara kuasa hukum Abdusy Syakir, mengatakan bahwa kliennya telah dieksekusi oleh jaksa eksekutor dari komisi pemberantasan korupsi dan keduanya dilakukan penahanan di Bengkulu.

“Ya, eksekusi sudah dilakukan terhadap mereka berdua oleh jaksa eksekutor. Menurut KPK kasasi yang diajukan keduanya ditolak, namun sampai sekarang kita belum menerima pemberitahuan secara resmi,” kata Kuasa hukum.

Ridwan Mukti dan istrinya Lily Martiani Maddari ditangkap KPK pada Juni 2017 karena diduga terlibat suap terkait proyek peninggian jalan di Bengkulu. Mereka diduga menerima uang Rp 4,7 miliar dari kontraktor yang memenangkan tender proyek.

Keduanya dihukum 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Bengkulu. Vonis terhadap keduanya lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum KPK yang menuntut pidana kurungan selama 10 tahun.

Hukuman terhadap keduanya kemudian diperberat pada tahap banding. Pengadilan Tinggi Bengkulu memperberat hukuman keduanya menjadi 9 tahun penjara. [Ardiyanto]