Sejak dilantik tiga pekan silam, Walikota Bengkulu H Helmi Hasan dan Wakil Walikota Dedy Wahyudi terus melakukan gebrakan demi gebrakan. Diantara gebrakan yang tampak kasat mata adalah penataan Pasar Panorama, pembatalan CPNS Kota Bengkulu tahun 2018 dan keputusan mengadakan aksi tolak bala 10 juta doa umat untuk negeri.

Pasar Panorama merupakan pasar terluas di Provinsi Bengkulu yang menampung ribuan pedagang. Namun penataan pasar yang bermasalah sejak puluhan tahun silam mengakibatkan terjadinya perebutan ruang gerak antara pedagang kaki lima (PKL) dan pengguna jalan raya di kawasan pasar tersebut. Upaya penataan PKL oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu agar masuk ke dalam pasar dengan sikap persuasif layak mendapat acungan jempol.

Namun pada jangka panjang, sebaiknya Pemerintah Kota Bengkulu mulai merumuskan Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan PKL. Sebab, PKL sejatinya merupakan pelaku usaha kecil yang berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal di tengah keterbatasan Pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang layak dan manusiawi.

Alih-alih mendapatkan penertiban, sebaiknya PKL dapat dijadikan sebagai pelopor pilar ekonomi kerakyatan yang ditata sedemikian rapi terutama di lokasi-lokasi destinasi wisata favorit di Kota Bengkulu. Hal ini menjadi sangat memungkinkan bila para PKL ditopang oleh modal, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi dan dorongan untuk menjalankan amalan-amalan agama yang sempurna yang semuanya dapat diatur melalui Perda Perlindungan PKL.

Pembatalan CPNS 2018 oleh Pemkot Bengkulu juga layak diberikan apresiasi. Selain menutup celah terhadap praktik percaloan yang senantiasa menghantui pelaksanaan CPNS selama ini, kebijakan ini juga bisa membuat Pemkot Bengkulu lebih leluasa menggunakan anggarannya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan rakyat.

Apalagi faktanya selama ini, Pemkot Bengkulu telah menjadi sasaran perpindahan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari kabupaten-kabupaten tetangga yang bisa dioptimalkan untuk mengisi kekurangan tenaga aparatur pada pos-pos tertentu.

Tinggal lagi bagaimana Pemkot Bengkulu dapat konsisten melaksanakan revolusi mental ASN Kota Bengkulu yang ada agar pelayanan publik dapat meningkat secara signifikan melalui amalan-amalan agama yang sempurna, bukan hanya pada sisi ritual, namun juga pada sisi sosial.

Apa yang telah Pemkot Bengkulu tunjukkan dengan penggalangan dana solidaritas kemanusiaan bagi korban bencana Sulawesi Tengah baru-baru ini adalah roh amalan agama yang patut diteladani dan diperluas secara praktik bukan hanya untuk korban bencana, tapi juga warga masyarakat yang miskin, sakit dan putus sekolah.

Aksi tolak bala 10 juta doa umat untuk negeri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan juga merupakan gebrakan Helmi-Dedy yang patut didukung oleh segenap elemen warga masyarakat. Bengkulu sebagai provinsi yang seringkali tertimpa bencana memang membutuhkan banyak doa dan amalan-amalan agama lainnya sebagai antitesa terhadap merebaknya fitnah, gibah dan LGBT yang marak di media-media sosial saat ini.

Dalam menjalankan kebijakannya, Pemkot Bengkulu tentu tidak akan bisa lepas dari kontroversi. Misalnya dalam hal rencana pinjaman ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang dinilai berbau riba.

Namun ketika manfaat dari pinjaman ini lebih banyak ketimbang mudaratnya, Pemkot Bengkulu sebaiknya maju terus, terlebih pada periode sebelumnya, Pemkot Bengkulu telah membuktikan mampu melunasi seluruh utang-utangnya meskipun sebagian dari utang-utang tersebut merupakan warisan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Kita bisa berkaca dalam kasus vaksin campak dan rubella (MR) yang secara jelas mengandung babi, namun diperbolehkan untuk digunakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena tidak adanya alternatif lain.

Namun bilamana Pemkot Bengkulu memiliki alternatif tempat meminjam uang guna pembangunan tanpa riba dari perusahaan lain, sebaiknya Pemkot Bengkulu mengambil pinjaman dari perusahaan tersebut, bukan dari PT SMI.

Kota Bengkulu memang membutuhkan banyak sokongan dana untuk percepatan pembangunan dan membangkitkan ekonomi rakyat. Namun ada yang lebih dibutuhkan lagi dari itu, yaitu sokongan warga Kota Bengkulu yang mencintai Tuhannya dengan amalan-amalan agama yang sempurna.