Ekonomi kita harus ekonomi tengah, ekonomi campuran, ekonomi konstitusi. Jangan full kapitalis, jangan full sosialis. Indonesia harus ambil yang terbaik dari kapitalisme.

Kapitalisme mendorong inovasi. Kapitalisme mendorong entrepreneurship/kewirahusaan, dan mendorong investasi. Tetapi, kapitalisme harus diimbangi dengan pengamanan rakyat banyak. Kalau kapitalisme murni, yaitu melepaskan semua hal ke pasar, akibatnya adalah apa yang sekarang kita alami. Di ekonomi bebas, tidak ada perlindungan, tidak ada harapan untuk orang miskin.

Sosialisme menjamin adanya jaringan pengamanan untuk orang paling miskin. Pemerintah, pada saat-saat yang kritis memang harus intervensi. Pemerintah negara mana pun yang ingin mengurangi kemiskinan harus menjadi pemerintah yang aktivis, yang berani turun membantu mereka yang di bawah garis kemiskinan, karena mereka tidak berdaya. Jika tidak ada keberpihakan, mereka akan terus tidak punya kemampuan, pendidikan, keterampilan, bahkan gizi saja kurang. Hal-hal baik daripada sosialisme itu juga harus di ambil.

Namun, gaya-gaya populis, sosialis murni justru kontraproduktif untuk ekonomi Indonesia. Indonesia yang tidak bisa membagi-bagi uang tanpa ada pendidikan, tanpa ada pelatihan, tanpa ada manajemen, tanpa ada pendampingan. Harus ada strategi. Inilah yang dimaksud nation builiding, pembangunan negara. Kalau Indonesia masih di taraf nation building, pemerintah harus aktif mengarahkan rakyat.

Dalam buku Paradoks Indonesia, dituliskan bahwa sejarah dunia yang dipelajari Prabowo Subianto merupakan sejarah antarbangsa, itu kejam. Sebab pimpinan negara asing tidak ada urusan, mereka hanya memikirkan kepentingan nasional negaranya. Mereka tidak kasihan pada bangsa lain. Tidak ada negara yang akan mengutamakan kepentingan bangsa lain. Ucapanya mungkin beda, tetapi pada akhirnya akan selalu mengutamakan kepentingan sendiri, kepentingan negaranya.

Karena itu, salah satunya Prabowo selalu katakan bahaya kalau soal makan tergantung impor. Makan tidak boleh tergantung impor. Kalau Indonesia tidak boleh menganggap bahwa semua negara sayang pada Indonesia. Sebagai rakyat Indonesia tidak bisa menggantungkan urusan perut bangsa kita ke bangsa lain.

“Oh, gampang, kalau kita kurang makan, nanti kita impor dari Vietnam, atau dari Thailand.” Beberapa tahun yang lalu Thailand sudah bikin kontrak dengan kita, untuk sekian juta ton beras. Namun, Thailand kena musibah kebanjiran. Sawah-sawahnya banjir. Terpaksa tidak bisa memenuhi komitmen dia,”

Semua negara bisa kena bencana alam, bisa perang. Thailand pernah kebanjiran, 70% sawahnya banjir, puso. Rusia pernah kebakaran sampai ladang-ladang gandumnya terbakar, tidak bisa ekspor gandum. Harga gandum naik, harga jagung naik, harga beras naik. Dibandingkan dengan angka tahun 2000, indeks harga bahan makanan dunia di bulan Januari 2017 sudah naik 91%.

“Bayangkan. Ini sudah fenomena, gejala yang sudah kita ingatkan berkali-kali. Perdagangan bebas boleh, tetapi harus dikendalikan Pemerintah, dan harus selalu waspada,” demikian Prabowo Subianto. [Mey Borjun]