156 tahun yang lalu, tepat pada tanggal 11 Oktober negeri ini kehilangan salah satu pahlawan yang amat berperan dalam memerangi penjajah. Wajahnya pernah tersemat di uang kertas pecahan 2000 rupiah.

Pangeran Antasari, merupakan pahlawan nasional yang identik dengan masyarakat Banjar ini tidak hanya pernah diabadikan dalam pecahan uang rupiah, tetapi juga sebagai nama Komando Resort Militer (Korem) 101 dan nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dia adalah putra dari pasangan Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir yang lahir pada tahun 1797 atau 1809 di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pangeran Antasari meninggal dunia pada 11 Oktober 1862 (53 Tahun) di Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Tahun kelahiran Antasari masih simpang siur, antara 1797 dan 1809. Helius Sjamsudin, dalam novel sejarah Antasari, memerkirakan Antasari lahir pada 1809 di di Kayu Tangi.

Keluarga Pangeran Masohot ini hidup jauh dari lingkaran istana Banjar. Mereka hidup di sebuah lahan yang membuat mereka hidup relatif sederhana.

Pada 14 Maret 1862, didepan kepala suku dayak dan dan Adipati penguasa wilayah dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yakni Tumenggung Surapati/ Tumenggung Yang Pati Jaya Raja, Pangeran Antasari ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi Kesultanan Banjar atau menjadi Sultan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.

Pada tanggal 23 Maret 1968, berdasarkan SK No. 06/TK/1968 oleh pemerintah Republik Indonesia, Pangeran Antasari diberi gelar Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan.

Perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda dimulai saat Belanda mengangkat Sultan Tamjid sebagai Sultan Banjar. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1859. Padahal, yang seharusnya naik tahta adalah Pangeran Hidayat. Sultan Tamid tidak disukai oleh rakyat karena ia terlalu memihak kepada Belanda.

Rakyat juga merasa Belanda terlalu jauh ikut mengatur kepemimpinan di Kesultanan Banjar. Belanda semakin gencar melalakukan siasat adu domba terhadap golongan-golongan yang ada dalam istana. Akibatnya, banyak golongan yang terpecah belah dan bermusuhan.

Pangeran Antasari merasa prihatin dengan keadaan yang terjadi di Kesultanan Banjar. Ia pun berusaha untuk membela hak Pangeran Hidayat. Ia bersekutu dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pleihari, Kahayan, Kapuas dan lain-lain. Usaha Pangeran Antasari untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda juga didukung oleh semua rakyat Banjar.

Pada 18 April 1859, Pangeran Antasari memimpin perang pertamanya melawan Belanda dengan menyerang tambang batu bara di Pengaron. Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Banjar.

Selain itu, Pangeran Antasari juga berhasil menyerang dan menguasai kedudukan Belanda di Gunung Jabuk. Bersama pasukannya, ia juga berhasil menengelamkan Kapal Onrust. Bahkan Letnan Van der Velde dan Letnan Bangert sebagai pemimpin dalam kapal tersebut juga ikut tenggelam.

Pangeran Antasari berhasil mengerahkan dan mengobarkan semangat rakyat sehingga Belanda merasa kewalahan. Karena hebatnya perlawanan pasukan Pangeran Antasari. Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk berdamai. Akan tetapi, semua rayuan itu ditolaknya. Dia tidak mau berkompromi dengan Belanda sedikitpun.

Pada tahun 1861, Belanda berhasil menangkap Pangeran Hidayat. Beliau lalu dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Walaupun demikian, Pangeran Antasari tetap melanjutkan perjuangannya. Ia mengambil alih pimpinan utama. Bahkan saat memasuki usia tua. Pangeran Antasari tetap melanjutkan perjuangannya dengan berperang di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah.

Sayangnya pada tahun 1862 terjadi wabah penyakit cacar di daerah Banjar. Padahal, Pangeran Antasari dan pasukannya sedang menyiapkan serangan besar-besaran terhadap Belanda. Wabah penyakit cacar ini menyerang dan melemahkan pasukan Banjar termasuk Pangeran Antasari, pemimpinnya.

Akhirnya, pada 11 Oktober 1862 beliau wafat. Makam beliau sekarang berada di Taman Makam Perang Banjar, Banjarmasin Utara. [Eva De]