IST/Ratna Sarumpaet

Belakangan ini nama Ratna Sarumpaet menghiasi topik-topik hangat pembicaraan di media sosial. Postingannya yang menyatakan dianiaya sejumlah orang misterius diakui bohong oleh Ratna, sementara itu bukti yang ditemukan polisi ialah Ratna yang ke rumah sakit untuk melakukan sedot lemak.

Menyikapi hal ini, Prabowo Subianto dan jajarannya yang sempat percaya pada Ratna pun angkat bicara.

Prabowo menuturkan, gejala itu juga diperkuat oleh perilaku perempuan yang kekinian sudah berusia 70 tahun tersebut dalam beberapa bulan terakhir.

“Bahkan, saya dengar dia ada indikasi dalam tekanan yang sangat berat,” ungkap Prabowo dalam jumpa pers di Kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu, (3/10/2018).

Meski demikian, Prabowo enggan mengetahui lebih jauh soal penyebab Ratna yang mengalami tekanan jiwa yang berat. Dirinya juga mengaku enggan mengikut campuri urusan orang lain.

“Saya tidak tahu. Saya kira setiap orang bisa mengalami, beliau usia 70 tahun, bisa saja mungkin mengalami masalah ekonomi, atau macam-macam. Saya juga tidak mau itu urusan privasi saya tidak mau mencampuri ya,” jelasnya.

Dipandang dari sisi medis, tekanan jiwa atau depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih, tidak berdaya dan pesimis. Banyak hal yang dapat mengakibatkan terjadinya depresi di antaranya adalah faktor biologis, neurokimia, genetik, psikososial (peristiwa hidup dan penuh tekanan), faktor kepribadian dan faktor psikodinamik depresi.

Gejala utama depresi menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) adalah:
– Perasaaan depresif atau perasaan tertekan
– Kehilangan minat dan semangat
– Berkurangnya energi yang berakibat pada meningkatnya keadaan mudah lelah

Sedangkan, gejala lain depresi meliputi:
– Kurangnya konsentrasi dan fokus
– Perasaan bersalah dan tidak berguna
– Tidur terganggu
– Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
– Perbuatan yang membahayakan atau bunuh diri
– Pesimistik
– Nafsu makan berkurang

Melansir KlikDokter, dikatakan bahwa wanita memang lebih berisiko terserang depresi, dan ini dapat dialami wanita dari segala usia.

Merujuk laporan dari Harvard Medical School, wanita juga diketahui memiliki tingkat depresi musiman (seasonal affective disorder) lebih tinggi, gejala depresi tanda gangguan bipolar, dan distimia (depresi kronis).

Alasan mengapa wanita lebih berisiko mengalami depresi masih menjadi tanda tanya besar. Namun, kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena karena beberapa faktor, yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural. Dilansir dari laman Psychology Today, berikut ini adalah penjabarannya.

1. Penjelasan biologis

Wanita lebih memiliki kecenderungan genetik yang lebih kuat untuk mengembangkan depresi.

Wanita lebih rentan terhadap kadar hormon yang fluktuatif. Kondisi ini khususnya terjadi ketika wanita melahirkan dan mengalami menopause, yang mana keduanya terkait dengan peningkatan risiko terjadinya depresi.

2. Penjelasan psikologis

Wanita lebih cenderung melakukan ruminasi dibandingkan pria. Ruminasi adalah mengeluarkan ingatan secara sadar akan suatu kejadian buruk untuk dicerna, dipelajari, kemudian disimpan lagi dalam ingatan.

Ruminasi dianggap sebagai suatu bentuk refleksi diri yang memberikan pandangan-pandangan baru, tapi hanya menguatkan atau menambahkan tekanan emosi dan psikis yang dirasakan. Hal ini dapat mengembangkan terjadinya depresi.

3. Penjelasan sosiokultural

Wanita lebih bisa tertekan dibandingkan pria. Tak hanya mereka harus pergi bekerja seperti pria, tetapi juga ada ekspektasi untuk menanggung beban lain seperti mengurus rumah, mengurus anak, merawat kerabat yang lebih tua, sekaligus menghadapi semua perilaku seksisme.

Wanita hidup lebih lama dari pria. Usia yang “terlalu panjang” sering dikaitkan dengan kehilangan, kesepian, kesehatan fisik yang buruk, kondisi eksistensi tanpa prediktabilitas atau keamanan (precarity), termasuk depresi.

Wanita lebih cenderung mencari diagnosis depresi. Mereka cenderung memilih berkonsultasi dengan dokter. Sebaliknya, dokter (baik pria maupun wanita) cenderung memberikan diagnonis depresi pada wanita.

Namun, dikatakan oleh Dr. Steven C. Schlozman, asisten profesor psikiatri dari Harvard Medical School kepada U.S.News, hormon tidak bisa selalu disalahkan dalam hal ini. Faktor lain seperti riwayat gangguan mental dalam keluarga dan paparan peristiwa traumatis adalah risiko lain untuk mengembangkan depresi.

Tak hanya sampai di situ, risiko depresi pada wanita juga muncul ketika hormon estrogen mengalami penurunan pada fase menopause. Sebagai kontradiksi, ada beberapa bukti bahwa estrogen sendiri menawarkan efek perlindungan terhadap depresi.

Meski demikian, fluktuasi estrogen dapat menjadi faktor risiko depresi. Dr. Jerrold Rosenbaum, profesor psikiatri dari Harvard Medical School mengatakan bahwa ketika wanita mengalami menopause, risiko depresi meningkat karena ia kehilangan efek protektif estrogen.

Terlepas dari fakta bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi, dan berbagai perbedaan antara pria dan wanita, penanganan depresi untuk keduanya harus sama-sama tepat sasaran, yaitu keamanan pasien harus terjamin, pemeriksaan diagnostik yang lengkap, serta rencana pengobatan harus secara menyeluruh—tak hanya mengobati gejala, tetapi juga sumbernya.

Jika merasa mengalami depresi, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan spesialis psikiatri. Sementara itu, cobalah untuk terbuka dengan orang-orang terdekat atau mendekatkan diri dengan Tuhan. Dukungan yang didapat akan sangat berarti dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi. [Ivana]