Nasib bangsa kita harus kita raih sendiri. Kalau kita tidak berani memperbaiki keadaan kita, kondisi negara kita akan semakin parah. Karena itu, di buku Paradoks Indonesia Prabowo menyampaikan kepada rakyat Indonesia, apa-apa saja yang menjadi tugas kita bersama.

Pertama, harus menyelamatkan kekayaan negara. Harus hentikan mengalirnya kekayaan negara ke luar negeri supaya kita punya uang untuk membangun pabrik-pabrik dan mendorong prosuksi nasional. Kalau terus dibiarkan kekayaan Indonesia mengalir ke luar, suatu saat akan kehilangan sumber daya untuk memperbaiki semuanya.

“Kita perlu punya pabrik mobil buatan Indonesia. Orang Indonesia beli satu juta mobil tiap tahun. Masa satu pun tidak ada merek Indonesia? Kita juga perlu banyak pabrik motor dengan merek Indonesia. Kita pernah punya, dan kita harus punya kembali. Kita perlu perkuat pabrik kereta api buatan Indonesia. Kita perlu perkuat pabrik kapal-kapal buatan Indonesia,” ujar Prabowo Subianto.

Dengan mendorong produksi bangsa, anak-anak Indonesia akan punya pekerjaan yang baik, yang layak, yang terhormat. Kita tidak mau anak-anak Indonesia jadi kuli-kuli seterusnya.

Inilah inti dari strategi ekonomi yang Prabowo rumuskan: Mendorong produksi bangsa. Mendorong produktivitas bangsa. Produksi bangsa berarti barang untuk keperluan pasar Indonesia dihasilkan oleh rakyat Indonesia, di Indonesia, dengan bahan-bahan Indonesia.

“Kalau pasar lain mau beli, Alhamdulilah. Saya juga ingin kita ekspor barang-barang produksi Indonesia ke luar negeri. Kalau produksi kita kuat, kalau kita tidak banyak impor, kalau kita menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, terutama pangan, pakaian, kebutuhan-kebutuhan-kebutuhan pokok, energi, ini kan value? Berarti mata uang kita dengan sendirinya akan menguat. Orang akan mencari, orang akan membeli rupiah,”

Mata uang itu cermin dari produktivitas suatu bangsa. Kalau produktivitas Indonesia kuat, mata uang juga akan mapan.

Kemarin tahun 2003-2005, nilai tukar mata uang Indonesia cukup stabil, selama sepuluh tahun. Kenapa? Karena ekspor Indonesia kuat. Tapi, ekspor kita pada tahun-tahun itu mengandalkan bahan baku. Yang Prabowo kecewakan, sepuluh tahun kemarin ketika Indonesia ada profit, ada keuntungan, tidak dimanfaatkan untuk membanting setir memperkuat produksi. Value add, processing.

Tetapi, Prabowo masih sangat optimis. Indonesia punya kekuatan fundamental, Indonesia punya kekuatan inheren. Hanya manajemennya harus cepat dan cerdas. Bangsa Indonesia sudah terlalu banyak menghambur-hamburkan kesempatan.

Dengan strategi nasional yang tepat, Prabowo yakin Indonesia bisa punya kekuatan industri yang dihormati. Indonesia akan punya produk-produk industri yang dihormati. Dan pada ujungnya, rupiah Indonesia bisa kuat. [Mey Borjun]